oleh

Marahkah Warga Boyolali kepada Prabowo?

Ribuan massa menggelar aksi demo terkait pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid oleh anggota Banser di perayaan Hari Santri Nasional, Jumat (2/11/2018).

Sayangnya, demo tersebut terindikasi kental aroma politik. Nyanyian dukungan dan gambar salah satu pasangan calon berseliweran di setiap kelompok peserta demo.

Baca juga: Awas Provokasi Masif Soal Bendera Tauhid!

Yang menarik, demo tersebut justru tak ditanggapi banyak warganet di media sosial. Ada hal lebih menarik perhatian para warganet, ketika Prabowo Subianto berpidato di Boyolali, Jawa Tengah.

Alhasil, tagar #SaveMukaBoyolali menjadi trending topic di media sosial mengalahkan tagar terkait demo. Dalam pidatonya, Prabowo menyinggung tampang warga Boyolali yang tidak tampak kaya, dan mungkin akan diusir jika masuk sejumlah hotel mewah di Jakarta.

Belakangan, ada warga yang melaporkan Prabowo terkait kalimat yang dianggap menghina warga Boyolali.

Dalam pidato lengkapnya, tidak ada protes dari peserta yang mengikuti pidato Prabowo. Bahkan, sejumlah peserta justru tertawa karena disebut tak bisa menyebut nama hotel yang dimaksud.

Dua agenda ini praktis langsung menjadi komoditi politik. Dua kubu beda kini saling berdebat mempertahankan argumen, membela gacoan masing-masing.

Kini publik harus sadar dan terbiasa, hingga hari H pencoblosan Pilpres, selalu akan ada topik yang selalu dikaitkan dengan politik.

Apa yang dikatakan dan dilakukan dua pasangan calon, jelas selalu menjadi sorotan dan sewaktu-waktu bisa dijadikan konten kampanye negatif.

Topik seperti tempe kartu ATM, sontoloyo, Al-Fatekah, tampang Boyolali atau sejenisnya akan terus bergulir dalam tahun politik.

Publik juga harus awas dan kritis, ada topik yang sengaja dihadirkan untuk mencari sensasi dengan menggunakan kalimat hiperbolis namun jauh dari realitas.

Yang berbahaya, jika ada pasangan calon menggunakan isu agama untuk mengatrol perolehan suara meski risikonya adalah mengkotak-kotakkan umat.

Posisitifnya, kini publik akan banyak disuguhi humor dan dagelan politik yang akan membuat terpingkal. Tak perlu lagi menunggu acara humor di televisi jika ingin melepas kepenatan, cukup dengan menyetel program berita politik.

Ironis memang, alih-alih memberikan pembelajaran demokrasi untuk masyarakat, para politisi jauh melupakan substansi politik. Target utama meraup suara, kini harus mengorbankan rakyat.

Sekali lagi, publik harus lebih sering menggunakan nalar berpikir. Isu yang disuguhi harus disaring, logis atau sekadar janji penjual kecap.

Dalam lima bulan ke depan, publik harus bisa menilai dan menimbang, agar memilih pasangan pemimpin yang memiliki lebih banyak sisi baiknya. Atau bisa juga dibalik, mana pemimpin yang lebih sedikit sisi buruknya.

Penulis: Rizka Alvira

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed