oleh

Kota Paling Toleran Nyaris Tinggal Kenangan

Kasus pengadangan kedatangan Muhammad Bahar Bin Ali Bin Smith/ Sumaith dan Muhammad Hanif bin Abdurrahman Al Athos/ Alatas, Senin (15/10/2018) bukan kali pertama terjadi di Manado.

Setahun sebelumnya, Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Fahri Hamzah juga ditolak kedatangannya di Manado, Sabtu (13/5/2017). Ketika itu, ribuan massa bahkan bisa masuk hingga ke dalam terminal bandara Sam Ratulangi Manado.

Berbeda dengan kasus Fahri, pengadangan dua habib kali ini membentuk massa pro kontra yang berpotensi konflik horizintal. Ada yang menolak, ada juga massa yang datang menjemput dan hendak melindungi kedua habib itu.

Muhammad Bahar Bin Ali Bin Smith/ Sumaith diketahui pulang kampung untuk menghadiri haul ketujuh ayahandanya, Habib Ali bin Sumaith. Ikut juga Muhammad Hanif bin Abdurrahman Al Athos/ Alatas yang merupakan menantu Pimpinan FPI, Rizieq Shihab.

Beruntung, dan rasa salut pantas dilayangkan untuk pihak keamanan polisi yang dibackup penuh pihak TNI. Jika bukan kesigapan dan kenetralan mereka menengahi dua kelompok, status Kota Paling Toleran se-Indonesia mungkin kini tinggal kenangan.

Jika terjadi kontak fisik, jelas akan membuat konflik horizontal yang bakal merembet dan diseret ke pertikaian agama. Padahal sebelumnya, dalam orasinya massa penolak kedatangan dua habib, sudah menegaskan bukan menolak tablig akbar, apalagi memusuhi saudaranya.

Kelompok penjemput juga sudah menegaskan hanya ingin menjaga keselamatan dua ustaz, tanpa ingin berkonfrontasi apalagi berkelahi dengan sesama saudara satu daerah.

Dalam hal ini, visi dan misi kedua kelompok sama, tetap menjaga persatuan dan persaudaraan di Sulawesi Utara. Jelas.

Tapi ada hal yang cukup mengagetkan, dalam sejumlah video yang beredar, terungkap kelompok massa justru banyak datang dari luar Kota Manado, tepatnya dari daerah sekitar.

Mereka bisa disebut justru seperti sengaja digerakkan dengan agitasi murahan untuk membangkitkan amarah tak terkendalikan. Bahkan ada pernyataan keinginan perang pada hari itu. Hal ini jelas harus menjadi perhatian utama pihak keamanan.

Secara logika, alasan dua sikap berbeda itu bisa ditolerir. Yang satu tak ingin nilai intoleran dan radikal masuk Sulut, lainnya ingin menjemput anak kampung untuk menghadiri peringatan wafatnya orang tua, dan ingin menjadi tuan rumah yang baik. Dua nilai substansi dan identitas masyarakat Sulawesi Utara sejak dahulu.

Tapi yang menjadi luar biasa, ketika itu menjadi pelecut dan pemantik kemarahan luar biasa. Apalagi itu mulai dikaitkan dengan sentimen agama. Tanpa menuduh, patut diduga ini adalah sebuah permainan oknum tak bertanggung jawab. Bahkan, selentingan kabar yang beredar di kalangan terbatas, ada penyandang dana besar di balik itu semua. Wow, sebuah hal mengerikan jika itu benar.

Dugaan itu dikuatkan, ketika sampai hari kedatangan dua habib, tak banyak yang tahu soal nama Muhammad Bahar dan Muhammad Hanif. Wajar jika histori mesin pencari menempatkan nama keduanya dalam top trending topic hari itu.

Sulawesi Utara sejatinya dikenal sebagai daerah yang melahirkan kelompok pemikir dan intelek. Jauh sebelum Indonesia merdeka, banyak tokoh asal daerah ini menjadi pemimpin dan penggagas visi kebangsaan. Silakan cari kehebatan Sam Ratulangi, Arnold Mononutu, Lambertus Nicodemus Palar atau Arie Lasut.

Soal keberanian, tokoh asal Sulut juga hebat dengan perhitungan dan intelektual. Lihat saja histori Bataha Santiago, Alex Kawilarang, Daan Mogot, Pierre Tendean, Robert Wolter Monginsidi dan pahlawan lain.

Tapi kali ini, gerakan massa ini tak sejalan nafas sejarah dan identitas primordial. Lapisan akar rumput ini diduga terpengaruh dengan provokasi oknum tak bertanggung jawab. Ada pihak yang ingin menggerus kedamaian dan persaudaraan di Bumi Nyiur Melambai.

Semua sepakat, sikap intoleran dan radikalisme tak akan mendapat tempat di bumi NKRI, termasuk Sulawesi Utara. Tapi, menegakkan sesuatu yang dianggap benar bukan dengan cara yang diyakini adalah sebuah kesalahan.

Pada akhirnya, kejadian itu bisa menjadi pelajaran bagi semuanya. Pertikaian tak akan pernah menguntungkan pihak manapun. Menang jadi arang, kalah jadi abu. Sudah banyak cerita tentang pertikaian yang membawa kesengsaraan.

Penulis: Efge Tangkudung

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed