oleh

Suara Sumbang Pengalih Perhatian

Wakil Sekjen Partai Demokrat Andi Arief (AA) kembali melontarkan cuitan pedas mengriktik pertemuan tahunan International Monetery Fund (IMF) di Bali.

Dia menyentil pertemuan IMF – Wolrd Bank tersebut hanya menghabiskan anggaran sekitar Rp 830 miliar atau nyaris menyentuh angka satu triliun.

Dia menyebut kegiatan tersebut sebagai tindakan pemerintah yang tidak peka terhadap duka masyarakat Palu, Sulawesi Tengah yang baru ditimpa bencana gempa dan tsunami.

Sekilas, kritikan tersebut masuk akal dan berpihak kepada rakyat kecil. Namun, jika ditilik lebih dalam cuitan tersebut lebih mengarah kepada sisi kontroversial.

Bukan baru sekali, Andi Arief tampil dengan cuitan kontroversi. Dari AA juga publik mengetahui isu ‘Jenderal kardus’ terkait calon wakil presiden Prabowo Subianto.

Waktu itu AA menyebut Sandiaga Uno membayar dua partai masing-masing senilai Rp500 miliar. Sontak kabar itu langsung mendapat perhatian media dan publik. Banyak cuitan AA yang kemudian ramai dibahas publik.

Sosok AA memang dianalogikan seperti ‘anjing penggonggong’ partai Demokrat. Dia bersama Ferdinand Hutahaen terkenal kritis dan kontroversial meski lebih tepat disebut ‘merasa selalu benar’.

Pernyataan AA tersebut kini dicurigai publik sebagai pengalih perhatian kasus yang mendera Ratna Sarumpaet. Ketika publik ramai-ramai menaruh curiga jika seorang Ratna Sarumpaet tidak bertindak sendirian, ada upaya masif mengalihkan perhatian.

Sayang, saat hampir bersamaan muncul juga pengakuan mengejutkan lainnya dari Kwik Kian Gie soal dana 1,5 triliun dan Ratna Sarumpaet. Ini menambah keyakinan publik soal konspirasi di dalam kasus ‘ilusi penganiayaan’ tersebut.

Ternyata, suara sumbang bukan hanya dilakukan AA, banyak suara yang kemudian mengikuti dan mendukungnya. Aksi cuci tangan dan memutuskan rantai dengan Ratna Sarumpaet, kini dianggap sebuah hal sangat mencurigakan.

Baca juga: Pertanyaan Sederhana hingga Kemungkinan Terburuk

Publik tentu menunggu kinerja kepolisian. Jika ada tersangka baru, kasus ini akan menjadi bola salju besar yang terus menggelinding. Bukan tidak mungkin teori konspirasi untuk tujuan merebut kekuasaan dengan cara tidak elok, benar adanya.

Namun, kini semua itu masih sebatas dugaan dan kecurigaan publik. Masih perlu beberapa waktu ke depan untuk mengetahui jawabannya. Jika benar, publik sudah tahu yang akan dilakukan. Partai-partai terlibat akan dihukum sehina-hinanya dalam Pemilu 2019 mendatang.

Demokrasi itu memang tentang perbedaan, tapi bukan berarti menggunakan cara kotor tak manusiawi untuk merebut kekuasaan.

Penulis: Efge Tangkudung

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed