oleh

Energi yang Terkuras Meributkan ‘Emak-emak’

Calon Wakil Presiden Sandiaga Uno menunjukkan kehebatan membuat jargon jelang masa kampanye Pilpres 2019 dimulai. ‘The Power of emak-emak’ kini mulai didentikkan dengan kubu Prabowo-Sandi.

Sayangnya, kubu lawan Koalisi Indonesia Kerja kini merasa terusik dengan penggunaan jargon tersebut. Sejumlah wanita pendukung pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin bahkan mengaku tak mau disebut sebagai ‘emak-emak’.

Mereka ingin disebut sebagai ‘Perempuan Ibu Bangsa’. Ironisnya, ada pihak Jokowi-Amin mengklaim istilah ‘emak-emak’ pernah mereka dipakai ketika Pilkada Jakarta.

Harus diakui, Sandiaga Uno adalah pencipta jargon yang ulung. Sebelumnya, istilah One Kecamatan-One Centre (OK-OC) juga berhasil diidentikkan dengan namanya. Tanpa membahas sejauh mana keberhasilan program tersebut, jargon OK-OC berhasil tertanam di benak publik.

Sebagai seorang pengusaha, Sandiaga punya pengalaman dan kualitas dalam promosi. Hal itu yang kemudian coba diterapkan Sandiaga dalam political branding.

Meributkan istilah ‘emak-emak’ sebenarnya bukan masalah substansial dan terkesan membuang energi. Apapun penamaannya, rujukannya sama, sebuah komunitas wanita yang merasakan langsung dampak ekonomi terhadap kepulan asap di dapur. Lebih jauh, wanita adalah subjek terpenting dalam sebuah unsur terkecil dalam masyarakat, keluarga.

Emak-emak, Ibu Bangsa, Mama Muda, Mama Cantik atau apapun namanya, pada prinsipnya ingin mendapatkan dampak langsung ekonomi bangsa terhadap kehidupan keluarga.

Koalisi Jokowi-Amin harusnya bisa bersaing dengan menonjolkan istilah kreatif yang bisa meraih simpati komunitas tersebut, bukan sebaliknya. Kondisi perekonomian dengan harga bahan pokok yang mahal menjadi PR tersendiri bagi kubu Jokowi-Amin.

Posisi sebagai petahana memang menjadi celah pihak oposisi untuk melakukan serangan. Dengan menampilkan sosok Sandiaga Uno sebagai calon waki presiden, wajar saja jika konten ekonomi kini masif disebarkan sebagai kampanye negatif.

Kini publik melihat tim Jokowi-Amin selalu kalah selangkah dalam berpolitik jelang Pilpres 2019.

Lihat saja, sebelumnya koalisi Jokowi ‘dipaksa’ mengambil calon wakil presiden dari perwakilan ulama karena takut isu agama dimainkan.

Ternyata, itu hanya merupakan strategi kelompok oposisi dengan menikung memunculkan nama Sandiaga Uno. Dia menjadi perwakilan pengusaha, kaum milenial dan wanita.

Kubu Jokowi-Amin yang kembali panik, kemudian menunjuk Erick Thohir sebagai ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) untuk menyaingi Sandiaga.

Ada juga tagar #2019GantiPresiden yang terkesan ‘dipaksakan’ sebagai slogan makar. Makin lucu, pihak Jokowi-Amin berargumen mengartikan tagar tesebut sebagai upaya mengganti presiden sejak detik pergantian tahun baru 1 Januari 2019.

Baca juga: Faktor U Jadi Pertimbangan Prabowo Gaet Sandiaga

Baca juga: Erick Thohir, Strategi Brilian Jokowi ala Sun Tzu

Kini publik akan terus menilai dengan nalar dan logika. Apa saja pernyataan dan tindakan yang dilakukan dua kubu jelas menjadi parameter penilaian. Itu jua yang akan dijadikan dasar dalam menjatuhkan pilihan di hari pemungutan suara nanti.

Memang masih terlalu dini memprediksi siapa pemenang dalam Pilpres 2019 nanti. Tapi intinya, publik butuh pembelajaran politik yang cerdas dan elegan, bukan disuguhi dengan politik sensitif dan asal bunyi yang justru menimbulkan kegaduhan dan mengundang gelak tawa.

Penulis: Efge Tangkudung

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed