oleh

Jenny Kalalo, Konsultan Pasar Uang Dunia Terpanggil Bangun Daerah

Nama Jenny Kalalo perlahan mulai mendapat perhatian luas masyarakat Manado.

Namanya terus ditelusuri di mesin pencari, pasca bertengger dalam urutan pertama Calon Anggota Legislatif DPRD Provinsi Sulut dari Partai Golongan Karya (Golkar), Dapil Manado.

Wajar saja, dengan posisinya yang sukses sebagai konsultan pasar uang dunia dan pengusaha, banyak masyarakat mempertanyakan maksud dirinya masuk kembali ke dunia politik.

Kepada manadopedia.com, Jenny Kalalo menjelaskan motivasi dan harapannya hingga ingin kembali berjuang lewat jalur politik.

Menurutnya, walau sudah berada di kategori mapan dan nyaman dengan pekerjaannya, nuraninya terpanggil memberikan kontribusi nyata untuk daerah.

“Dulu saya begitu apatis dengan politik. Tahun 2004 saya menjadi pengurus DPP salah satu partai. Dari sana, saya belajar politik itu memang keras, bahkan sering terkesan kejam,” kata wanita berparas cantik ini.

Dia bahkan menjadi saksi bagaimana saling sikut dan gontok-gontokan antar sesama politisi. Hal ini menurutnya tak sejalan dengan jiwa idealisnya. Jenny Kalalo kemudian secara resmi memutuskan keluar dari ingar-bingar panggung politik tahun 2010.

Namun, kemunculan tokoh-tokoh yang mampu membuat perubahan seperti Joko Widodo, Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) dan sejumlah tokoh bersih lainnya, membuat paradigmanya tentang politik berubah.

Dia sadar, ketulusan dan kebersihan hati bisa membawa sebuah perubahan walau dimulai dari hal kecil. Jenny Kalalo kemudian ‘jatuh cinta’ kembali dengan dunia politik.

Tak dinyana, keinginan membawa perubahan itu bertemu dengan sebuah kesempatan, tatkala sahabatnya, Tety Paruntu menjadi Ketua DPD Partai Golkar Sulut.

Dalam sebuah pertemuan, Paruntu mengajak Kalalo untuk berjuang bersama membesarkan kampung halamannya, Kota Manado dan Sulawesi Utara.

“Lewat pertimbangan keluarga dengan memohon kepada Yang Kuasa, saya akhirnya memutuskan menerima tawaran kembali ke dunia politik,” katanya.

Disinggung tentang ‘serangan politik’ terhadapnya, terkait pemasangan baliho yang dianggap mencuri start kampanye, dia berkomentar bijak.

Menurut Kalalo, hal itu tak perlu dibesarkan karena hanya akan membuang energi dan menciptakan friksi di masyarakat. Kalalo berujar, pemasangan baliho itu pure untuk ucapan hari kemerdekaan bangsa.

“Tak ada niat untuk mencuri start kampanye atau melangar aturan. Itu hanya wujud seorang warga negara merayakan hari kemerdekaannya, tak ada tendensi apa-apa,” katanya.

Dia bahkan mengajak masyarakat Sulawesi Utara termasuk kompetitornya sesama politisi untuk menjadi teladan dan bersatu bersama membangun daerah tercinta.

“Soal siapa yang terpilih nanti, sudah ada Yang Maha Menentukan. Yang penting mari kita ajarkan cara berdemokrasi yang baik serta menjaga keutuhan dan persatuan sesama anak bangsa,” tambahnya.

Dia juga mengaku akan memberikan pengalaman di dunia ekonomi bisnis untuk membawa kemajuan Kota Manado dan Sulawesi Utara. Baginya, turun ke dunia politik bukan untuk mencari pundi rupiah, tapi untuk mengabdikan diri kepada masyarakat.

“Semua dikembalikan kepada masyarakat. Jika saya diberikan amanah, tentunya harus dijawab dengan tanggung jawab. Ada beberapa keinginan yang ingin saya perjuangkan untuk kemajuan Sulawesi Utara,” janjinya.

Diketahui, kemunculan nama Jenny Kalalo banyak diidentikan dengan karir politik Tetty Paruntu yang kini menjabat Bupati Minahasa Selatan.

Nama Jenny Kalalo bahkan mulai dihembuskan untuk ikut dalam suksesi Walikota Manado. Pengalaman Go Internasional, jiwa idealisme, kemampuan manajerial dan relasi luasnya dinilai sangat cocok mengelola Kota Manado dalam geliat pembangunan di era pasar bebas.

Penulis: Efge Tangkudung

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed