oleh

Kenegarawanan Mahfud Tampar Elite Bermuka Dua

Mahfud MD blak-blakan dalam sebuah acara televisi yang disiarkan langsung, Selasa (14/8/2018).

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi ini mengungkapkan misteri terjegalnya namanya di detik terakhir deklarasi Cawapres Presiden Joko Widodo. Mahfud merinci momen per momen hingga namanya akhirnya tergantikan oleh Ma’ruf Amin.

Terkuak, politisasi Nahdlatul Ulama (NU) oleh sekelompok elite demi menggusur nama Mahfud. Mantan Menteri Pertahanan di era Presiden Gus Dur itu, gamblang menyebut sejumlah nama. Bukan hanya dari elite NU, namun juga para elite politik yang ada di koalisi Jokowi.

Waktu dan pernyataan tokoh seperti Said Aqil Siradj, Muhaimin Iskandar, Romahurmuziy, Pratikno hingga Presiden Jokowi masih terekam jelas di memorinya. Pernyataan itu sontak menjawab pertanyaan publik selama ini.

Yang membuat publik simpati, adalah sikap Mahfud yang legowo dan mafhum dengan kondisi tersebut. Persatuan bangsa menjadi prioritas utama, bukan sekadar posisi Cawapres. Baginya itu merupakan realitas politik yang mengalir dalam ketidakpastian.

Namun Mahfud kecewa dan menyesalkan dengan pernyataan para tokoh publik yang berbeda jika tampil di publik. Baginya, tak etis para elite mesti berbohong hanya untuk meraih tujuan politik.

Publik sepakat, Mahfud mengirimkan pesan menohok bagi nama-nama yang sempat disebut. Tak bisa dipungkiri juga, sikap dan ketegaran hati Mahfud membuatnya layak disematkan predikat negarawan sejati.

Pernyataan tersebut kini akan menjadi bola panas, terlebih bagi kalangan elite NU dan parpol pendukung Jokowi. Penjelasan Mahfud juga tak bisa terelakkan akan membentuk opini kuat di publik. Sayangnya, opini yang akan terbentuk mayoritas sangat melemahkan posisi Joko Widodo.

Publik kini menyesalkan organisasi berbasis agama justru turut dipolitisasi demi mendapatkan jabatan. Tak semestinya elite organisasi Islam terbesar di Indonesia, fluktuatif mengakui kekaderan seseorang tergantung momen politik.

Sikap para elite NU jelas tidak bisa mewakili suara kaum Nahdliyin seluruhnya. Pasti akan terjadi perbedaan pandangan dan respon di kader akar rumput. Publik juga kini mulai akan menghakimi para tokoh politik yang ‘bermuka dua’ demi menutupi ambisi dan keserakahan.

Yang terakhir dan mungkin paling berpengaruh, publik mulai membandingkan tingkat ketegasan dua presiden yang akan berkontestasi.

Harus diakui, posisi Presiden Joko Widodo memang terjebak dalam sebuah situasi dilema berat nan pelik.

Ketidakpastian nama Cawapres dari angka satu, tiga, dan sepuluh disisipi guyonan banyaknya jumlah kantong gamblang menjelaskan situasi tersebut.

Tapi dari hasil yang terbentang, ada dua perbedaan mencolok antara keputusan Prabowo Subianto dan Joko Widodo menentukan nama cawapres. Sangat jelas terlihat, Jokowi tak bisa lepas dari bayang-bayang dan intervensi elite.

Namun, perjalanan menuju pemungutan suara masih terlalu panjang. Akan banyak aliran dan ombak yang akan saling membolak-balikkan situasi.

Energi bangsa ini tak boleh terus terkuras hanya seputar Capres-Cawapres hingga delapan bulan ke depan. Jangan lagi sesama bangsa terkotak karena pilihan berbeda dengan kebencian dan fitnah. Persatuan dan kondusivitas bangsa di atas segalanya.

Pada akhirnya, mayoritas masyarakat Indonesia tetap harus berjuang sendiri menyambung hidup, tanpa bantuan para elite.

Masyarakat tetap takkan pernah kecipratan dana Rp1 triliun yang sempat heboh, untuk sekadar membeli seliter beras atau atau sebutir telur.

Penulis: Efge Tangkudung

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed