oleh

Gempa Lombok, Antara Duka dan Politisasi

Ketika masyarakat Nusa Tenggara Barat (NTB) dirundung dukacita mendalam akibat gempa 7.0 SR, masih ada juga netizen meresponnya dengan hal berbau politik. Disebutkan dalam situs tirto.id bahwa muncul banyak komentar miring mengaitkan bencana gempa Lombok dengan keberpihakan politik TGB kepada Jokowi pada Pemilu 2019.

Komentar yang membanjiri beberapa postingan di akun Instagram TGB tersebut bermaksud mengatakan bahwa bencana gempa di NTB adalah azab Allah untuk TGB. Sedangkan pada situs Twitter, terjadi perang tweet antara netizen yang mengutuk TGB dan netizen yang bijak merespon peristiwa bencana dan politik.

Beberapa netizen mengungkapkan bahwa betapa bodohnya jika mengaitkan bencana gempa dengan politik. Mereka beranggapan bahwa bencana itu terjadi tidak ada sangkut-pautnya dengan keberpihakan politik TGB.

Ada maksud terselubung dari pergerakan netizen yang masif tersebut. Seperti yang banyak diketahui bahwa TGB merupakan politisi yang dulunya berpihak pada poros oposisi pemerintah yang kemudian berbalik mendukung pemerintahan Jokowi. TGB melakukan suatu keputusan yang mengguncang barisan Persatuan Alumni 212 yang pada prinsipnya bergerak untuk menolak pemerintahan Jokowi.

Dalam barisan PA 212, TGB merupakan figur politisi yang sangat sesuai dengan kriteria mereka. Nama TGB bagi PA 212 juga menjadi kekuatan politik dan harapan mereka untuk mencapai tujuan dukungan politik PA 212 pada Pemilu 2019. Sedangkan dukungan politik PA 212 jatuh pada poros oposisi yang mengusung Prabowo Subianto sebagai calon presiden.

PA 212 awalnya mulai terguncang pergerakannya karena TGB ikut tampil dalam video blog (Vlog) pribadi Presiden Jokowi pada situs YouTube. Presiden Jokowi dalam video itu memperkenalkan proyek kawasan ekonomi khusus (KEK) Mandalika. TGB sebagai Gubernur NTB juga tampil dalam video tersebut. Dari video itu terlihat mulai adanya simpati TGB terhadap Jokowi.

Beberapa bulan kemudian kekhawatiran PA 212 akhirnya terjadi juga. TGB secara terbuka memberikan dukungan kepada Jokowi sebagai calon Presiden pada Pemilu 2019. Sebenarnya, pihak yang pertama kali merasa keberatan adalah Partai Demokrat sebagai partai pengusung TGB dalam pemilihan gubernur.

Sikap keberatan Partai Demokrat tersebut kemudian menjadi bahan perbincangan hangat dibanyak media. Sedangkan media tidak menyoroti secara khusus sikap PA 212 terhadap TGB. PA 212 sempat melontarkan tuduhan negatif terhadap TGB dan mencoret nama TGB dari daftar capres versi PA 212.

Kini tuduhan bencana gempa di Lombok adalah azab Allah bagi TGB sudah jelas adalah tuduhan yang seharusnya tidak penting bagi pendidikan politik rakyat Indonesia. Jika setiap bencana memiliki korelasi dengan politik, maka bisa disimpulkan bahwa tidak ada orang yang pantas menjadi pemimpin. Dan jika pola pikir semacam ini kita biasakan, maka generasi muda Indonesia kedepan akan menjadi buta politik dan buta kemanusiaan.

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed