oleh

Maestro Politik Indonesia itu Bernama SBY

Partai Demokrat resmi berkoalisi dengan Partai Gerindra untuk mengusung calon dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.

Kesepakatan tersebut langsung mengubah peta politik jelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Padahal, sebelum mengambil keputusan, Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sempat melakukan pertemuan dengan Presiden Joko Widodo.

Usai pertemuan dengan Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, SBY langsung melancarkan ‘serangan’ politik pertama bagi kubu koalisi petahana.

Dengan satu pernyataan, curahan hati ala SBY langsung membuat partai pendukung Jokowi terusik. Dia menyindir Ketua Umum PDIP, Megawati Sukarnoputri yang seolah masih menyimpan dendam kepadanya.

Persepsi publik langsung terbentuk jika SBY tak diterima pihak koalisi pemerintah, karena faktor Megawati Sukarnoputri. Alasannya, mungkin ketakutan faktor matahari kembar.

Harus diakui, kemampuan berpolitik Susilo Bambang Yudhoyono memang masih di atas sejumlah tokoh negeri yang ada. Dirinya memang memiliki banyak strategi mumpuni.

Baca juga: Menyelisik Elo Rating SBY dalam Catur Politik

Baca juga: PDIP Menepuk Air di Dulang, Terpercik Muka Sendiri

Kemampuannya bukan terbentuk dalam kurun waktu singkat. Sejak masih aktif di militer, SBY terkenal sebagai seorang yang cerdas. Dia merupakan lulusan terbaik Akademi Militer (Akmil) angkatan 1973.

SBY mulai berpolitik ketika mewakili fraksi ABRI di Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Ketika rezim orde baru runtuh, dia menjabat ketua Fraksi ABRI saat Sidang Istimewa MPR 1998.

SBY dianggap tokoh sentral selain Gus Dur, Megawati dan Amien Rais sebagai penjebol kokohnya tembok orde baru.

Gus Dur yang menjadi Presiden RI ke-3 pada tahun 1999, mengangkatnya sebagai Menteri Negara Koordinator Politik, Sosial, dan Keamanan (Menko Polsoskam).

Perlahan, Susilo Bambang Yudhoyono kemudian bermetamorfosa menjadi seorang maestro politik Indonesia. Dia memiliki strategi andalan, yakni kerap menuai simpati publik ketika menceritakan kegundahan hatinya secara terbuka. Apalagi itu dibawakan dengan diksi, mimik dan gesture melankolis.

Strategi itu juga yang membawanya terpilih menjadi Presiden RI pertama yang dipilih langsung oleh rakyat tahun 2004. Ucapan mendiang Taufik Kiemas yang menyebut dirinya sebagai Jenderal seperti anak kecil, dimaksimalkan SBY meraup simpati dan suara publik.

Susilo Bambang Yudhoyono bahkan mengalahkan mantan atasannya, Presiden Megawati Sukarnoputri. Hal ini yang disebut-sebut menjadi alasan marahnya Megawati hingga kini.

Dalam Pilpres 2009, Susilo Bambang Yudhoyono mengulang kepiawaiannya dalam berpolitik. Alih-alih menunjuk tokoh partai politik, dia memilih Boediono, sebagai jalan tengah kompromi para partai pendukungnya.

SBY terpilih kedua kalinya dengan suara signifikan, lagi-lagi mengalahkan Megawati yang berpasangan dengan Prabowo Subianto dan Jusuf Kalla-Wiranto

Pada Pilpres 2014, Ketua Umum Partai Demokrat ini kembali menunjukkan strategi brilian. Ketika terjadi perseteruan antara koalisi pendukung Jokowi-JK dan koalisi permanen pendukung Prabowo-Hatta, Partai Demokrat mengambil posisi netral.

Alhasil Demokrat kecipratan jatah pimpinan DPR hingga alat kelengkapan DPR yang waktu itu didominasi koalisi permanen.

Kini pemegang dua belas gelar Doktor Honoris Causa dari delapan negara  telah resmi menjadi penggawa koalisi oposisi. Sejak bergabung, sangat terlihat SBY begitu dominan seakan menjadi pemegang komando.

SBY yang masuk Tokoh Berpengaruh Dunia 2009, kategori Pemimpin & Revolusioner versi majalah TIME, langsung melakukan safari politik. Dengan kemampuan retorikanya, tokoh berbahasa lisan terbaik tahun 2003 ini mencoba menjajal kerjasama dengan deal politik.

SBY terlihat berulang kali menyatakan tak mewajibkan nama sang putra, Agus Harimurti Yudhoyono dipilih menjadi presiden atau wakil presiden. Namun bagi seorang maestro politik, hal itu jelas mempunyai makna mendalam. SBY pasti sudah berhitung sekaligus meminta tanggapan publik.

Jika pun Susilo Bambang Yudhoyono harus mengalah dan mundur satu langkah, itu berarti Partai Demokrat sudah memiliki konsekuensi yang sangat menguntungkan.

Jangan lupa, dia adalah pemikir ulung soal politik. Apalagi itu dikombinasikan dengan strategi ala militer yang pernah dikecap.

Pada akhirnya, publik makin bingung siapa calon yang akan disodorkan koalisi oposisi. Semuanya belum tampak jelas, bahkan makin kabur. Bukan hanya publik, koalisi petahana yang sebelumnya optimis menang seribu persen, kini mulai bergidik dan gentar dengan strategi SBY.

Jika memang tak diwaspadai, Tagar 2019 Ganti Presiden nantinya bisa saja menjadi menjadi kenyataan.

Penulis: Efge Tangkudung

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed