oleh

Menyelisik Elo Rating SBY dalam Catur Politik

Pertemuan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, mengubah peta politik jelang tahapan Pilpres 2019 dibuka.

Pertemuan ini dianggap sebagai awal bersatunya dua kekuatan besar politik di Indonesia. Tujuannya, tak lain adalah mencoba mengimbangi koalisi petahana yang kini digawangi enam parpol parlemen.

Melihat sejumlah survey, presiden petahana Joko Widodo memang terbilang terlalu perkasa. Jokowi selalu unggul dalam hasil survey untuk memenangkan pertempuran Pilpres 2019.

Figur yang berada di bawah Jokowi, tentu saja adalah sang mantan rival di 2014, Prabowo Subianto. Meski tertinggal belasan persen, nama Prabowo mutlak mewakili komunitas pro perubahan.

Pada Pilpres 2014, Prabowo mampu meraup suara sebanyak 62.576.444 pemilih, sedangkan Presiden Jokowi  tampil menjadi pemenang dengan jumlah suara 70.997.833 pemilih.

Melihat selisihnya, angka tersebut terbilang dekat. Memang agak kurang relevan jika hasil itu menjadi patokan. Waktu hampir lima tahun berjalan, jelas akan mengubah peta suara Pilpres 2019.

Faktor kepuasan atau ketidakpuasan, bisa membuat suara masyarakat Indonesia akan saling bertukar posisi. Faktor ex lain, juga bakal menjadi penentu.

Namun, masuknya SBY bergabung dengan kubu Prabowo bisa jadi membuat hasil kontestasi mendatang sulit ditebak. Nama SBY harus diakui menjadi tokoh politik dengan ratusan strategi mumpuni.

Ibarat seorang pecatur, SBY sudah memiliki elo rating yang tinggi. Sistem Elo Rating adalah ciptaan profesor Arpad Elo, merupakan metode untuk menghitung tingkat keterampilan seseorang dalam bermain catur.

Kemampuan berpolitik SBY sudah teruji sejak awal masa reformasi ketika duduk di MPR. Saat itu, SBY adalah ketua Fraksi ABRI saat  Sidang Istimewa MPR 1998. Bersama sejumlah tokoh, SBY menjadi lokomotif untuk mengakhiri  era orde baru yang sudah berkuasa selama 32 tahun.

SBY juga merupakan sedikit putra bangsa yang berhasil menembus top level jenjang kepangkatan di dunia militer. SBY mendapat pangkat Jenderal TNI, sebelum pensiun pada 25 September 2000.

Masuk sebagai anggota kabinet dalam pemerintahan Gus Dur kemudian Megawati, SBY bermetamoforsa menjadi politisi ulung.

Amandemen UUD 1945, menjadi jalan bagi SBY menjadi presiden RI pertama yang terpilih lewat Pilpres langsung. SBY bahkan mengalahkan mantan atasannya Presiden Megawati pada Pilpres 2004.

Hal ini disebut sebagai alasan memburuknya hubungan Megawati-SBY hingga kini.

Kepemimpinan SBY mulus hingga periode kedua, bahkan dengan kemenangan cukup telak di tahun 2009. Lagi-lagi, Megawati harus rela menjadi pihak kalah dalam kontestasi Pilpres.

Menariknya, saat itu Megawati berpasangan dengan Prabowo Subianto, yang saat ini menjadi partner koalisi SBY.

SBY harus diakui juga merupakan tokoh dengan intelegensi tinggi. Dua belas gelar Doktor Honoris Causa dari delapan negara sudah menjadi buktinya. Itu juga yang membuat SBY masuk 100 Tokoh Berpengaruh Dunia 2009, kategori Pemimpin & Revolusioner oleh majalah TIME.

Kemampuan retorikanya pun dinilai tak ada bandingannya. Predikat Tokoh Berbahasa Lisan Terbaik tahun 2003, cukup menggambarkan bagaimana piawainya SBY dalam membangun komunikasi politik.

Masuknya SBY bersatu dengan koalisi Prabowo harus dibaca dengan kewaspadaan bagi kubu petahana. Dari peta suara, SBY bisa mengambil kantong suara di Jawa Timur. SBY memang dilahirkan di  Tremas Arjosari Pacitan, Jawa Timur.

Pengaruh itu terlihat dalam kemenangan pasangan Khofifah-Emil di Pilgub Jawa Timur, yang turut diusung partai Demokrat. Selain itu, Jawa Barat juga memiliki kedekatan historis dengan SBY.

Sejak menjadi Presiden RI, kompleks Puri Cikeas Desa Nagrak Kecamatan Gunungputri, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat sudah dikenal identik dengan SBY.

Bukan tanpa alasan, dua daerah tersebut menjadi ceruk suara utama dalam Pilpres karena memiliki jumlah pemilih terbesar.

Komunikasi politik yang terus dijalankan SBY jelang dibukanya pendaftaran bakal calon presiden dan wakil presiden, bakal menambah kekuatan koalisi penantang.

Sekadar membandingkan tahun 2014, saat itu SBY dengan Partai Demokrat terlihat sangat pasif dan berada di posisi netral. Kini, SBY terlihat sangat aktif, bahkan terkesan mengambil tongkat komando bagi koalisi oposisi.

Dari sisi head to head tokoh per tokoh, kini koalisi oposisi mulai berada di atas angin. Apalagi kehadiran PAN dengan Zulkifli Hasan yang notabene adalah ketua MPR, makin menambah amunisi berkualitas.

Faktor Elo Rating SBY dalam percaturan politik nasional, harus diakui sulit diimbangi secara individual oleh kubu petahana.

Tapi jangan lupa, meski sebagai pemain politik baru di kancah nasional, Presiden Joko Widodo terkenal dengan strategi brilian yang sering mengeluarkan langkah tak terduga. Banyak momen yang membuktikan, Jokowi juga bukan pemain sembarangan dalam percaturan politik Indonesia.

Praktis, waktu tersisa membuat dua kubu akan memeras otak meramu strategi demi menemukan komposisi paling ideal pasangan yang akan bertarung dalam Pilpres 2019.

We’ll wait and see…

Penulis: Efge Tangkudung

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed