oleh

Mungkinkah Jokowi Pilih Yenny Wahid?

Presiden Joko Widodo tak kunjung mengumumkan sosok calon wakil presiden yang akan mendampinginya mengarungi kontestasi Pilpres 2019.

Banyak pihak mulai menduga, Jokowi tersandera dan mengulur waktu hingga injury time masa pendaftaran bakal calon presiden-wakil presiden.

Sejumlah nama yang beredar tampaknya masih tarik ulur. Jokowi yang sebelumnya mengatakan sudah mendapatkan nama, belakangan meralat dan menyebut soal kantongnya yang banyak.

Hal tersebut sangat beralasan dan sangat mudah dimahfumi. Jokowi dituntut harus memenuhi empat faktor untuk menentukan calon wakil presiden.

Pertama, calon tersebut harus bisa melengkapi kekurangan Jokowi, mempunyai chemistry yang kuat serta bisa bekerjasama jika nanti terpilih.

Kedua, calon tersebut harus bisa disetujui partai asalnya yakni PDIP. Bukan rahasia umum, hal tersebut harus dikonsultasikan dengan Ketum PDIP, Megawati Soekarnoputri.

Ketiga, calon tersebut harus disetujui sejumlah partai pengusung. Jokowi tak mau mengambil risiko mengecewakan partai pendukung, hal yang bisa menjadi bumerang bagi dirinya.

Yang terakhir namun bisa jadi yang terpenting, calon tersebut harus bisa menambah perolehan suara Jokowi dalam Pilpres 2019. Dalam hal ini calon yang diusung nanti harus mempunyai ceruk massa yang selama ini tidak tergapai oleh Jokowi.

Sejauh ini, tokoh non parpol Mahfud MD menjadi kadidat kuat. Sejumlah pihak meyakini hal tersebut sebagai jalan tengah sejumlah partai pengusung. Jika tokoh non parpol yang dimajukan, tak ada partai yang terkesan curi start untuk Pilpres 2024 mendatang.

Latar belakang Mahfud MD sebagai cendekiawan dan ahli hukum dinilai bakal melengkapi Jokowi. Apalagi pengalaman Mahfud MD yang pernah berkecimpung sebagai anggota legislatif, eksekutif dan yudikatif.

Dari sisi basis massa, suara Mahfud MD agak beririsan dengan suara pendukung Jokowi. Selama ini suara mayoritas kaum Nahdliyin agak jelas lebih condong merapat ke Jokowi. Positifnya, Mahfud MD bisa menarik suara Islam lain yang selama ini masih ragu memilih Jokowi.

Namun, terus ditundanya penyebutan nama Mahfud MD untuk posisi capres, mulai menjadi tanda tanya besar. Hal ini disinyalir bukan sekadar strategi Jokowi menunggu pesaingnya.

Itu bisa terbaca sebagai keraguan Jokowi karena masih ada ganjalan karena belum terpenuhinya empat faktor pertimbangan Jokowi. Bisa jadi ketakutan faktor matahari kembar, membuat Jokowi kembali berhitung.

Hal itu mungkin yang menjadi kegamangan Jokowi belum mengumumkan sosok wapres. Diumumkannya 10 nama minus Tuanku Guru Bajang (TGB) oleh ketua PPP, Romahurmuziy tentunya bukan hal yang biasa.

Bisa jadi itu cara Jokowi melihat respon kawan sekaligus tanggapan lawannya. Dari 10 nama beredar, praktis tak ada yang memiliki basis masa di luar milik Jokowi. Padahal, TGB disebut sebagai sosok yang akan menggerus suara lawan jika dipinang Jokowi.

Nama Moeldoko juga menguat berdampingan dengan Mahfud MD. Sebagai mantan Panglima TNI, Moeldoko bisa juga menjadi pelengkap paripurna untuk Jokowi.

Publik kemudian mengaitkan kronologis kedekatan Jokowi –Moeldoko. Dari sambutan mewakili keluarga dalam pernikahan anak Jokowi hingga direkrut sabagai Kepala Staf Kepresidenan.

Namun, lagi faktor matahari kembar hingga Moeldoko yang terdaftar sebagai anggota partai politik bisa jadi membuat Jokowi kembali berhitung. Moeldoko mungkin dinilai lebih pas menjadi penasihat strategi Jokowi bersama LBP dan Agum Gumelar.

Yang menarik, dari 10 nama tersebut ada dua nama perempuan yakni Sri Mulyani dan Susi Pudjiastuti. Secara kinerja dan chemistry, tak ada yang meragukan keduanya.

Jokowi tampaknya memang tengah berhitung untuk mengambil calon wakil presiden perempuan untuk menambah suara dari keterwakilan gender. Sayang, dua nama tersebut seperti agak jauh dari kaum Nahdliyin yang bakal menjadi tambang suara terbesar dalam Pilpres nanti.

Kebijakan Susi Pudjiastuti diketahui getol didemo nelayan dan diserang politisi PKB. Hal itu tentu riskan bagi Jokowi. Pun begitu dengan Sri Mulyani, meski punya jaringan internasional, dia rentan diserang banyak isu yang bisa menerjunkan suara Jokowi.

Ada satu nama wanita yang mungkin bisa menjadi jalan tengah bagi Jokowi. Dia adalah Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid atau yang akrab dikenal dengan Yenny Wahid, Putri Presiden ke-4, KH Abdurahman Wahid (Gus Dur).

Master’s in Public Administration Universitas Harvard tersebut kini tercatat sebagai Direktur Wahid Institute. Selain pengalamannya sebagai wartawan media asing, Yenny dikenal sebagai pendamping Gus Dur saat menjabat dalam berbagai kunjungan dan lawatan.

Kemampuan diplomasi dan komunikasinya begitu terlihat  ketika mendatangi KH Maaruf Amin di saat ‘genting’ saat riuh kasus Ahok. Tak berapa lama, Ketua MUI tersebut langsung merapat dan menjadi bagian dari istana.

Cita-cita Wahid Institut sebagai penerus pemikiran Gus Dur tentang Islam moderat yang menghargai pluralisme dan toleransi, sangat cocok dengan kondisi terkini. Yenny yang jarang mengucapkan statemen kontroversial juga dinilai bakal membuat Jokowi nyaman.

Yenny kini dikaitkan dengan cawapres perempuan ‘Mbok Sabar’, guyonan penuh makna yang dilontarkan Khofifah Indar Parawansa ketika memberikan pernyataan kepada para penggawa media.

Baca juga: Jokowi Salah Pilih Wakil, 2019 Ganti Presiden

Baca juga: TGB Balik Arah, Siapa Salah?

Baca juga: Bukan Cak Imin, Jokowi akan Ikut SBY Pilih Cawapres

Baca juga: Jika Prabowo Pilih Cawapres ini, 2019 Ganti Presiden

Namun, semua pihak hanya bisa menduga dan menerka. Nama calon wakil presiden sepenuhnya merupakan hak prerogatif Jokowi. Tak ada yang bisa mendikte dan mengintervensi Jokowi.

Biarkan Jokowi berpikir, merenung, menimbang hingga membuat keputusan. Dalam waktu tak sampai sebulan, publik akan tahu siapa calon wakil Jokowi bersama pasangan penantang.

We’ll wait and see…

Penulis: Efge Tangkudung

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed