oleh

Jadi-Jo, Pasangan Independen Dikeroyok Semua Parpol

Pemilihan Kepala Daerah Kota Kotamobagu (KK) tahun 2018 menyajikan pertarungan yang cukup unik.

Daerah yang yang merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Bolaang Mongondow Sulawesi Utara ini akan menyajikan dua pasangan untuk menjadi pilihan masyarakat.

Komisi Pemilihan Umum Kota Kotamobagu telah menetapkan dua pasangan calon untuk Pilkada Kota Kotamobagu.

Yang menarik, kali ini akan terhampar pertarungan langsung antar pasangan yang diusung gabungan partai politik dan pasangan independen.

Walikota petahana, Tatong Bara kini menggandeng mantan ketua KPUD Kota Kotamobagu Nayodo Kurniawan maju untuk meneruskan dinastinya.

Tatong Bara-Nayodo Kurniawan (TBNK) didukung semua partai politik yang ada di Kota Kotamobagu yakni PAN, PDIP, PKB, Golkar, Hanura, Demokrat, PKS dan Gerindra.

Makin menarik, lawan yang dihadapinya adalah sang wakil yang sudah menemaninya hampir lima tahun, Jainudin Damopolii.

Kini Damopolii memilih seorang mantan guru, Suharjo Makalalag untuk mendampinginya maju dalam kontestasi Pilkada KK. Jainudin – Suharjo (Jadi-Jo) mantap didukung ribuan KTP masyarakat untuk maju lewat jalur perseorangan (independen).

Pertarungan dua pasangan ini bisa disebut sebagai head to head suara gabungan partai politik versus suara rakyat independen.

Yang menambah intrik persaingan dua pasangan tersebut adalah friksi yang terjadi di tubuh Partai Amanat Nasional.

Suara partai PAN tidak bulat mendukung TNBK. Alasannya karena kedua calon walikota yang akan bertarung merupakan kader PAN. Ketua DPD Sulut PAN Sehan Landjar bahkan terang-terangan mendukung Jainudin Damopolii yang juga merupakan ketua DPC PAN Kota Kotamobagu.

Sayang, kabar kurang sedap terus terus merebak jelang hari H. Dugaan penyalahgunaan kekuasaan, proses intimidasi, hingga money politic masif terjadi.

Informasi valid juga menyebutkan sejumlah oknum wartawan direkrut untuk menjadi perangkat penyelenggara Pemilu demi memenangkan satu pasangan.

Laporan lain juga menyebutkan para ASN dan tokoh agama mendapat perlakuan intimidasi, karena turut memberikan Kartu Tanda Penduduk, sebagai tanda dukungan kepada pasangan independen.

Teranyar adalah dugaan money politic yang melibatkan tim sukses satu pasangan calon. Parahnya pembagian sejumlah bahan makanan, minuman dan uang jelang hari raya Idul Fitri itu, berdalih sedekah untuk masyarakat.

Padahal tahun-tahun sebelumnya, tak ada sedekah sebanyak, semasif dan tersistematis seperti itu. Aneh dan agak sulit dinalar logika.

Masih dalam situasi lebaran, janji Tunjangan Hari Raya (THR) sejumlah uang yang akan diberikan tapi dengan syarat jika pasangan yang diusungnya menang, adalah pelecehan luar biasa kepada masyarakat.

Hal itu sebenarnya harus menjadi tamparan telak untuk masyarakat Kotamobagu. Calon pemimpin Kota Kotamobagu tak sepantasnya lagi menggunakan cara-cara pembodohan primitif seperti itu.

Kota Kotamobagu harus disadari dan diakui adalah kota paling terkebelakang dari segi pembangunan di antara empat kota yang ada di Sulawesi Utara.

Dengan transportasi utama Bentor (Becak Motor), pusat perbelanjaan tunggal (monopoli) dan penolakan pembangunan Toserba, Supermarket dan Mall, hanya sebagian kecil bukti penggambaran realitas Kota Kotamobagu dan masyarakatnya.

Yang paling miris, setiap jelang hari raya atau bahkan hanya untuk sekadar bermalam mingguan, masyarakat Kota Kotamobagu harus rela melalui perjalanan darat hampir 200 km untuk mencapai Kota Manado.

Ini dilakukan hanya untuk mencari pilihan fashion, makanan atau tempat hiburan yang lebih beragam. Selain itu, masih kentalnya ritual adat yang kadang bertolak belakang dengan nilai agama dan sosial, membuat Kota Kotamobagu selalu dianggap menjadi daerah kuno.

Itu juga menurut survey, menjadi alasan utama generasi muda Kota Kotamobagu yang mencicipi pendidikan di luar daerah, enggan kembali ketika sudah berhasil.

“Kota Kotamobagu daerah yang tak pernah berkembang, ataupun jika berkembang terlalu lambat, pembangunan juga SDM-nya,” begitu alasan banyak generasi muda yang sukses di luar daerah.

Belakangan memang ada rencana pembangunan rumah sakit internasional dan universitas kategori A, mesti hal itu belum jelas pembangunannya.

Sekali lagi, masyarakat Kota Kotamobagu harus cerdas dan berwawasan dengan sejumlah pertimbangan untuk memilih pemimpin lima tahun ke depan.

Kini masyarakat Kota Kotamobagu harus mampu melihat Pilkada 2018 menjadi momentum emas. Sudah saatnya menghadirkan Kotamobagu Zaman Now.

Tak usah lagi terus terpaku dengan cara berpikir usang. Menggadaikan harga diri dengan beberapa lembar rupiah, hanya membuat Kota Kotamobagu terus terpuruk dalam kubangan.

Pilihan ada di tangan masyarakat Kota Kotamobagu. Selamat berpesta demokrasi.

Penulis: Efge Tangkudung

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed