oleh

Christiano Ronaldo, Monster yang Benci Kekalahan

Partai keempat Piala Dunia Rusia 2018, menghadirkan dentuman pertama kala menghadirkan mega big match.

Publik sepakbola langsung dimanja kenikmatan kala disajikan partai klasik dua tim daratan semenanjung Iberia, Juara Dunia 2010 Spanyol dan Juara Eropa 2016 Portugal.

Pertandingan ini menjadi partai perdana keduanya di grup B, usai sebelumnya juga diwarnai perang saudara tim keturunan Arab, Maroko dari Afrika dan Iran dari Asia.

Spanyol yang datang dengan materi lebih merata di semua lini, langsung diunggulkan semua pasar taruhan. Sedangkan sang lawan, meski berstatus juara Eropa masih belum dianggap sebagai lawan sepadan.

Namun, Portugal yang membawa skuat pas-pasan tak boleh dianggap remeh. Mereka mempunyai satu sosok luar biasa di tubuh Christiano Ronaldo.

Dia adalah anomali seorang manusia normal. Dengan usianya yang kini lebih dari 33 tahun, kemampuannya makin menjadi bak seorang monster.

Ronaldo datang ke Rusia usai membawa klubnya mengangkasa di level berbeda, menjadi juara liga champion tiga kali, 2016-2018. Hal yang sulit disamai klub manapun di era sepakbola modern.

Benar saja, Ronaldo datang dengan fokus dan konsentrasi tingkat tinggi. Sejak dari lorong menuju lapangan, tak ada tegur sapa berlebihan untuk rekan-rekan La Liga.

Dia hanya sekadar ‘say hai’, jabat tangan, dan memberikan pelukan persahabatan. Usai itu wajahnya kembali serius menatap laga penting ini.

Kharisma dan jiwa kepemimpinannya memang sangat luar biasa.

Hal ini tampak sejak lagu nasional portugal dinyanyikan. Ronaldo langsung membangkitkan semangat rekan-rekannya.

Semangat nasionalisme yang menggebu membuat Portugal memiliki energi besar menyambut tiupan peluit kick off. Baru menit ke-3, Ronaldo menunjukkan kecerdikannya.

Dia yang menggiring bola memasuki kotak penalti dihadang bek Nacho. Kecepatan berpikir dan kecepatan kakinya langsung berjalan beriringan.

Tak hitung tiga, Christiano Ronaldo menabrakkan kakinya ke kaki Nacho dan langsung membuat gerakan menyelam. Sang pengadil yang terpedaya, langsung mengeluarkan jari telunjuknya menunjuk ke arah bulatan kecil berwarna putih.

Ketika pemain Spanyol masih sibuk protes kepada wasit, Ronaldo sudah meletakkan bola ke titik hukuman dan berkonsentrasi melawan tekanan dan nervous untuk menendang.

Kiper David de Gea yang disebut-sebut sebagai salah satu kiper terbaik dunia hanya bisa menatap, ketika gerakannya ke sisi kanan hanya bisa menghalau angin. Bola sepakan Ronaldo masuk ke gawang dengan bebas hambatan ke bagian kiri.

Spanyol langsung bereaksi, Diego Costa menunjukkan sisi predatornya di depan gawang. Costa yang membuat lini belakang Portugal kocar-kacir membuat gol berkelas penyama kedudukan.

Ronaldo kini yang merespon, dia kembali membuat gol sekaligus mempermalukan David de Gea di penghujung babak pertama.

Entah ingin menunjukkan simpatinya kepada kiper Liverpool, Loris Karius atau ingin menyaingi saingannya Gareth Bale, dia melepaskan tendangan ‘bola api’.

David de Gea sebenarnya bisa dengan mudah bisa menghalau bola tersebut. Namun ternyata panasnya bola membuat kiper asal MU tersebut melepaskan bola dan membuat Portugal memimpin.

Spanyol tampil lebih dominan usai turun minum. Diego Costa kembali menyamakan skor dengan gol keduanya. Bukan hanya itu, tendangan gledek dari Nacho membuat tim matador membalikkan keadaan.

Semua pihak sudah sepakat menilai Spanyol bakal menyudahi pertandingan dengan penguasaan bolanya. Saat seperti inilah, sisi Monster Ronaldo akhirnya muncul.

Christiano Ronaldo seakan tak sudi disamakan dengan pemain sekelas Diego Costa. Baginya dirinya tak layak disamakan dengan pemainmanapun.

Menguasai bola di depan area kotak penalti, Ronaldo kini membiarkan dirinya didorong Gerard Pique. Wasit memberikan tendangan bebas di sudut ideal bagi sang monster.

Lagi-lagi, ketika tim Spanyol masih membuat barikade pagar, Ronaldo sudah siap dengan bolanya. Menarik nafas lewat hidung, membuangnya lewat mulut berulangkali,  seperti teknik yoga untuk merilekskan pikiran dan mengatasi tekanan.

Sepakan irisan mulai dari jempol kaki bagian dalam dihujamkan Ronaldo. Bola pisangnya menjauhi kepala Sergio Busquets kemudian berbelok masuk ke gawang.

Seketika dua suasana kontras langsung tersaji. Tim Portugal bersama pendukungnya langsung  bersorak, kagum dengan tendangan tersebut. Sebaliknya Tim Spanyol hanya bisa geleng-geleng kepala tak percaya kejadian yang baru terjadi. Seorang Ronaldo bisa mengimbangi tim komplit asuhan Fernando Hierro.

Ronaldo menciptakan hattrick pertama piala dunia Rusia 2018 sekaligus menjadi top skor sementara dengan satu predikat man of the match. 

Ronaldo memang bak monster yang luar biasa. Dia memimpin timnya yang jauh dari ideal.

Lihat saja Pepe yang sudah kehilangan ‘kebengisannya’ karena sudah uzur. Atau Bernardo Silva atau Goncalo Guedes yang masih demam panggung. Untung Ronaldo bisa terbantu dengan William Carvalho, Joao Moutinho dan pemain gaek lain Ricardo Quaresma.

Kini publik akan menanti ledakan lain dari Christiano Ronaldo, monster yang selalu lapar kemenangan dan sangat membenci kekalahan.

Penulis: Bang Kipot

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed