oleh

Ujian Ramadan untuk Joko Widodo

Ramadan 1439 H yang bertepatan dengan bulan Mei-Juni 2018 bakal terus diingat Presiden Joko Widodo sebagai sebuah periode sulit.

Bukan hanya sebagai makna sebenarnya, sebagai bulan menahan lapar, dahaga dan emosi, tetapi juga sebagai makna konotatif.

Jelang dua bulan sebelum masa pendaftaran pasangan calon dalam Pilpres 2019, badai menghantam Joko Widodo (Jokowi) seakan tak pernah berhenti.

Mulai dari penolakan 200 mubalig, kisruh gaji BPIP, RUU KUHP, kritikan THR PNS, Caleg Koruptor, hingga pengunduran diri Ketua BPIP.

Namun yang paling menohok adalah serangan dari dua kubu yang menjadi lawan politiknya plus manuver induk semangnya.

Pertama, pertemuan tiga tokoh kubu Hambalang di Arab Saudi sudah berikrar menjungkalkan Jokowi dengan membentuk koalisi Keumatan. Hal ini membuat Jokowi kalah satu langkah jika tak cepat diantisipasi.

Praktik ini sudah berhasil diterapkan di PIlkada DKI Jakarta 2017. Kala itu Pilkada ditarik ke dalam pusaran politik identitas dengan mengapungkan sentimen ras dan agama.

Kedua, keberatan kubu Cikeas yang menuduh Jokowi melakukan klaim tanpa melihat data. Pada kenyataannya, pembangunan Bandara Kertajati Jawa Barat awalnya memang andil dari SBY dan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan.

Terakhir, kabar Puan Maharani yang sering berkomunikasi dengan Prabowo Subianto dihembuskan keras. Hal ini jelas kabar kurang sedap yang mengindikasikan Jokowi dalam posisi tersandera terkait pemilihan calon wakil presiden.

PDIP terbaca enggan menerima jika wakilnya berasal dari parpol lain dan berpeluang besar menjadi presiden pada 2024.

Periode ini bakal menjadi ujian berat Jokowi menentukan masa depannya. Jika langkah yang diambil tepat dan tegas, Jokowi kemungkinan bakal naik kelas menjadi politikus ulung.

Sebaliknya jika salah melangkah, Jokowi bisa berada di ujung tanduk. Posisi kali ini sangat riskan, karena Jokowi menghadapi serangan dari luar dan dalam sekaligus.

Satu hal yang mesti dipahami, banyak masyarakat Indonesia yang mengidolakan dan mencintai Jokowi. Tapi perlu diingat, para Jokowi Lovers yang menjadi kekuatannya selama ini, tak memiliki semangat militan dan simultan.

Usai bulan Ramadan, Jokowi akan mengambil langkah. Ibarat catur, selama ini strategi Jokowi sering dipuji sebagai langkah-langkah brilian. Jika langkah itu berhasil, Jokowi akan naik kelas dan dengan mudah menghempaskan semua lawan politiknya.

Tapi jangan lupa, Jokowi juga terkenal sering ceroboh dan percaya diri berlebihan. Dalam momen politik seperti ini, keras kepala Jokowi justru akan sangat merugikannya.

Apalagi dalam pertarungan kali ini, elo rating para lawan politiknya justru jauh berada di atasnya.

Jika langkah yang dilakukannya keliru dan blunder, rakyat Indonesia yang puas dengan kinerja Jokowi tampaknya harus rela jika #2019 ganti presiden benar terealisasi.

We’ll wait and see….

Penulis: Efge Tangkudung

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed