oleh

Jokowi Kalah Jika Terus Kerja Kerja Kerja…

Gaung Pemilihan Presiden Republik Indonesia tahun 2019-2024 sudah nyaring terdengar.

Meski pencoblosan dilaksanakan tahun depan, riuh rendah persaingan kini sudah memekakkan telinga, mengalahkan popularitas Piala Dunia Rusia 2018 dan Asian Games Indonesia 2018.

Hampir dua ratus juta rakyat Indonesia yang terdaftar sebagai pemilih, akan menentukan pilihannya. Memilih kembali Presiden Joko Widodo atau menelurkan presiden baru.

Dari berbagai lembaga survey, sang petahana masih menjadi calon paling populer. Tingkat elektabilitasnya tak tersaingi tokoh lain. Pun begitu, tingkat kepuasan publik atas kinerjanya selama empat tahun berjalan selalu berada di kisaran 70 persen.

Angka tersebut bisa menjadi modal bagi Jokowi menghadapi ajang pesta demokrasi lima tahunan tersebut.

Tetapi jangan lupa, kondisi negara ini saat ini berada di titik nadir keamanan dan persatuan. Bangsa Indonesia kini terbelah karena ujaran kebencian dan berita bohong.

Kondisi ini sudah lama dibiarkan atas nama demokrasi bangsa. Akhirnya kutub yang berseteru terpolarisasi menjadi dua kubu, pendukung Jokowi dan pembenci Jokowi.

Dua kelompok itu sejatinya sudah terbentuk sejak Pilpres 2014. Bak bola salju, dua kelompok itu makin membesar ketika Pilkada DKI Jakarta 2017 dan kini menghadapi Pilpres 2019.

Sejak dilantik, hari demi hari, apapun yang dilakukan Jokowi terus dihantam kritikan, hinaan bahkan fitnahan. Jokowi tak marah dan terus melanjutkan pekerjaannya sesuai slogannya ‘kerja, kerja, kerja’.

Sikap itu justru menggambarkan dua sisi mata uang. Pada satu sisi, hal itu menggambarkan seorang pemimpin rendah hati dan ingin terus bekerja. Tak pernah peduli dengan hinaan dan fitnahan lawan politiknya.

Namun di sisi lain, Jokowi akan dikesankan sebagai pemimpin yang lemah dan tak berdaya. Jokowi akan dianggap bisa dihina dan difitnah sesuka hati.

Akibatnya, ujaran kebencian yang menyasar Joko Widodo makin santer. Mereka yang termakan berita bohong juga makin makin banyak. Jumlah pembenci Jokowi perlahan nan pasti terus meningkat.

Modal kepuasan publik dan tingkat elektabilitas di atas 70 persen tak bisa menjadi jaminan kemenangan. Contoh gamblang sudah terbentang saat Pilkada DKI Jakarta.

Tak ada yang meragukan hasil kerja infrastruktur dan birokrasi Basuki Tjahaya Purnama di Jakarta. Elektabilitas dan tingkat kepuasan publik selalu di atas 70 persen. Namun apa lacur, hanya dengan satu isu, petahana terjungkal dan tersungkur tak berdaya.

Membangun banyak Infrastruktur memang akan diapresiasi masyarakat Indonesia. Hal seperti  ini sudah lama diabaikan para pemimpin sebelumnya. Tetapi, hal itu tak akan dirasa cukup bahkan diabaikan bagi banyak kelompok masyarakat.

Serangan isu agama, ideologis dan berita hoax akan lebih berpengaruh kepada masyarakat yang tingkat pendidikan dan pemahaman agamanya kurang. Isu seperti itu akan menjadi doktrin yang bisa membuat masyarakat lupa kinerja baik yang sudah dicapai periode kepemimpinan ini.

Sudah seharusnya Presiden Jokowi menunjukkan ketegasannya. Kini waktunya Presiden Joko Widodo head to head meladeni permainan politik para rivalnya. Sadarlah, tak ada keputusan yang bisa menyenangkan semua pihak.

PKI, Asing dan Aseng, gaji BPIP, KTP-El yang tercecer dan sejumlah isu lain akan terus menjadi bahan gorengan untuk menyerang Jokowi hingga hari H nanti.

Bukan tak mungkin, akan ada satu isu besar yang bisa menghantam Presiden Jokowi dan memutarbalikkan semua hasil survey yang ada. Ketika tersadar, semuanya sudah terlambat.

Kini, Presiden Jokowi tak boleh lagi terus bertahan dengan tarian gemulai. Ibarat filosofi dalam olahraga, pertahanan terbaik adalah menyerang.

Penulis: Efge Tangkudung

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed