oleh

Sidang Pembelaan Didi Moha Dibanjiri Air Mata

Politisi Partai Golkar, Aditya ‘Didi’ Anugrah Moha memberikan pembelaan atau pledoi di hadapan majelis hakim pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Rabu (23/5/2018).

Didi Moha yang tertangkap tangan KPK dalam kasus penyuapan, dua pekan sebelumnya sudah dituntut enam tahun penjara oleh tim Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Dalam pembelaan pribadinya, Didi Moha mebacakan pledoi belasan halaman yang berjudul ‘Demi Cinta dan Baktiku Padamu Ibu’.

Pria bergelar Sarjana Kedokteran ini, mengaku salah dan meminta maaf atas kekhilafannya tersebut. Dia juga menyebut memberikan sejumlah uang karena ada permintaan dari ketua PT Sulut Sudiwardono.

Sidang tersebut berjalan penuh keharuan dan dibanjiri air mata karena tangisan dari sejumlah pengunjung. Setiap kalimat yang diucapkan Didi Moha di hadapan majelis hakim, selalu disambut sayup suara tangisan dari bangku pengunjung.

Keluarga dan kerabat terlihat kompak memakai kaus putih bergambar wajah Didi Moha. Bagian belakang kaus ada puisi yang mendukung Didi moha.

“Satu orang ibu rela mati demi sepuluh anaknya, tapi belum tentu sepuluh orang anak rela mati demi satu orang ibu. Kami bangga kepadamu ADM, karena hal tersulit pun kamu lakukan demi nama seorang ibu,” begitu kalimat yang tertulis.

Baca juga: Jaksa Tuntut Didi Moha 6 Tahun, Begini Respon Keluarga

Diketahui, Politisi Partai Golongan Karya asal Sulawesi Utara Aditya Anugrah Moha, yang tertangkap Operasi Tangkap Tangan (OTT) Oktober 2017, dituntut hukuman penjara enam tahun oleh jaksa, Rabu (9/5/2018).

Tuntutan terhadap Didi Moha yang merupakan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat RI DPR periode 2014-2019 dari Dapil Sulut, juga ditambah denda Rp 200 juta subsider 2 bulan kurungan.

Menurut JPU, Didi Moha dianggap terbukti memberikan suap senilai total 110.000 dollar Singapura dan menjanjikan 10.000 dollar Singapura kepada hakim Pengadilan Tinggi Sulut Sudiwardono.

Didi Moha juga dianggap mencederai pemerintah yang kini sedang getol memerangi korupsi.

Terungkap , Didi Moha yang menggunakan sandi ‘Ustaz’ kemudian menghubungi Sudiwardono untuk meminta sang ibu tidak ditahan dengan alasan sakit.

Istilah ‘pengajian’ juga digunakan Didi Moha ketika janjian dalam rencana pemberian tahap kedua di kamar Hotel Alila Jakarta Pusat. Aditya Anugerah Moha kepada media mengungkapkan hal tersebut dilakukan karena dorongan rasa sayangnya kepada sang ibu.

“Itu dilakukan bukan untuk menyelamatkan diri saya, tapi utuk menyelamatkan Ibu saya,” katanya.

Penulis: Efge Tangkudung

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed