oleh

Said Lagi Said Lagi, Perjuangan Buruh Bukan untuk Pilpres

Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) resmi mendeklarasikan dukungan kepada Prabowo Subianto tepat di Hari Buruh Internasional (May Day), Selasa (1/5/2018).

Dengan tiket masuk Rp15 ribu per orang, ribuan orang hadir di Istora Senayan, Jakarta untuk deklarasi terhadap salah satu calon presiden tersebut.

Presiden KSPI Said Iqbal dalam orasinya memobilisasi anggotanya untuk berjuang bersama Prabowo Subianto. Dukungan terhadap Prabowo Subianto justru terlihat sebagai sikap tendensius membawa organisasi buruh tersebut ke pusaran politik.

Melihat jejak digital, nama Said Iqbal yang merupakan mantan Caleg Partai Keadilan Sejahtera (PKS), ternyata bukan nama yang asing bagi Prabowo Subianto.

Pada tahun 2014, Konfederasi Serikat Pekerja Republik Indonesia (KSPI) juga melakukan deklarasi dukungan kepada pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa.

Saat itu, deklarasi dilakukan di Hotel Mega Proklamasi, Jakarta Senin (2/6/2014) oleh presiden KSPI, Said Iqbal. Mirip dengan yang terjadi di Istora Senayan, saat itu Said juga memberikan kontrak politik yang ditandatangani Prabowo Subianto.

Pada kenyataannya, meski mengaku mendukung Prabowo Subianto-Hatta Rajasa, suara yang dijanjikan Said tak signifikan mengatrol suara pasangan tersebut.

Dalam beberapa momen politik, nama Said Iqbal juga terlihat berada di kelompok yang sama. Aneh Memang.

Demo para buruh setiap Mayday sejatinya merupakan perjuangan mulia. Demo itu bertujuan menekan pembuat kebijakan dan pemilik perusahaan untuk menaikkan tingkat kesejahteraan dan memperjuangkan kepentingan para buruh.

Namun, perjuangan mulia tersebut kini terkesan mulai dibelokkan beberapa elite yang mengaku peduli buruh demi kepentingan politiknya.

Pada praktiknya, hanya segelintir orang yang merasakan ‘kesejahteraan’ meski memobilisasi puluhan ribu orang untuk melakukan unjuk rasa.

Para anggota serikat buruh tetap hidup dalam keprihatinan, karena para elite organisasi justru ‘bermain mata’ dengan tokoh politik demi mengisi pundi-pundi pribadi.

Hal ini tak boleh terus dibiarkan, perjuangan para buruh itu suci dan mulia. Tak boleh dikotori atau dibelokkan para elite untuk kepentingan politik.

Kini memaasuki tahapan Pilpres 2019, para buruh yang bernaung di bawah seluruh organisasi buruh harus lebih melek informasi dan politik.

Tak boleh lagi, nama buruh dibawa-bawa untuk kepentingan politik, apalagi untuk mendukung calon presiden. Para buruh jangan lagi diam seakan dianggap bodoh dan dicocok hidungnya oleh para elite organisasi.

Para buruh banyak dihuni pemikir dan intelektual yang harus melawan ketika melihat tujuannya yang mulia sudah dibelokkan. Para buruh harus melihat realitas dengan logika dan afeksi.

Kenyataannya, pemeritah berusaha selalu berpihak kepada kesejahteraan buruh, meski juga harus mendengar keluhan pihak investor atau pemilik perusahaan.

Tak pernah ada rezim pemerintahan yang dengan sengaja membiarkan rakyatnya hidup sengsara di bawah garis kesejahteraan dan kemiskinan. Banyak variabel yang harus diperhatikan, kebijakan pemerintah juga tak sekejap langsung bisa mengubah keadaan.

Penulis: Efge Tangkudung

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed