oleh

Mereka Marah karena #Dia Sibuk Kerja

Sekelompok orang melakukan tindakan intimidasi dan persekusi terhadap seorang wanita bersama anaknya saat acara Car Free Day, di Jakarta, Minggu (29/4/2018).

Dalam video yang kini viral di dunia maya, kelompok tersebut mengolok-olok wanita tersebut karena kaos yang digunakan tak sama dengan kelompoknya. Anak lelaki sang wanita yang bernama Zaki, bahkan menangis karena ketakutan saat dikelilingi kelompok massa tersebut.

Kelompok tersebut terlihat memakai kaos bertuliskan #2019 Ganti Presiden, sedangkan wanita memakai kaos bertuliskan #Dia Sibuk Kerja.

Dari dua Tanda Pagar (Tagar) yang tercetak di kaos, langsung diketahui hal ini berkaitan dengan Pilpres 2019. Hampir bisa dipastikan juga, kelompok tersebut adalah bukan pendukung Presiden petahana, Joko Widodo.

Kejadian ini sontak menuai reaksi dari jutaan warganet. Bahkan sejumlah tokoh langsung angkat bicara dengan perlakuan negatif terhadap wanita dan anaknya itu.

Mereka menyayangkan bahkan mengutuk pendukung lawan Joko Widodo yang tidak dewasa melihat perbedaan. Perlakuan terhadap wanita dan anak-anak itu disebut sebagai tindakan para pengecut.

Yang lebih miris, dalam video itu  para pendukung bukan Joko Widodo selalu memposisikan kelompoknya sebagai bagian dari Islam. Terdengar kata Takbir yang selalu mengiringi cercaan dalam orasi mereka.

Hal ini tak boleh terus dibiarkan, Islam itu agama Rahmatan Lil Alamin. Islam tak boleh diasosiakan dengan kekerasan atau tindakan memalukan.

Islam tak boleh terus diseret dalam pusaran politik dan diklaim milik segelintir orang. Pemeluk agama Islam lebih dari 200 juta orang atau 80 persen penduduk Indonesia.

Pemeluk Islam di Indonesia tak boleh diklaim satu kelompok, akan memilih calon yang berseberangan dengan calon petahana. Masyarakat Indonesia di indonesia bebas menentukan pilihannya terhadap pemimpin yang dianggap layak.

Melihat kejadian tesebut, sudah saatnya masyarakat Indonesia lebih dewasa dalam berpolitik. Jangan lagi seperti sapi yang dicocok hidungnya oleh para elite apalagi mereka yang mengaku-ngaku sebagai tokoh agama atau ulama.

Kaos bertuliskan #Dia Sibuk Kerja, memang nyata menggambarkan realita yang terjadi. Kenyataannya, Joko Widodo terpilih secara konstitusional dalam Pilpres 2014 untuk bekerja selama lima tahun.

Jika memang hasil kerjanya dianggap gagal atau tak cukup berhasil, Pilpres 2019 bisa menjadi sarana untuk mengganti presiden baru nanti.

Pun sebaliknya, jika hasil kerjanya dianggap berhasil dan memuaskan, tak perlu marah jika mayoritas masyarakat Indonesia masih memilihnya untuk melanjutkan kerjanya.

Dalam setiap rezim, dari tujuh presiden yang pernah menjabat, selalu ada kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Dengan sistem pemilihan langsung, kini masyarakat bisa langsung menilainya dalam sebuah bilik suara. Berhasil atau tidak.

Pesta demokrasi sejatinya pesta semua rakyat Indonesia yang multi etnis dan lintas agama.

Pilpres, Pilkada atau Pileg tak mesti mengkotak-kotakan anak bangsa apalagi gontok-gontokan yang berujung perpecahan NKRI.

Semoga…

Penulis: Efge Tangkudung

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed