oleh

Siapa Presiden Jika Kotak Kosong Menang Pilpres?

Tahapan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 akan resmi dimulai bulan Agustus 2018.

Semua partai politik akan menentukan calon presiden dan wakil presiden yang akan menjadi kontestan, dalam persaingan menuju top eksekutif RI 1 tersebut.

Dua tokoh mulai mengerucut akan menjadi rival dalam pesta demokrasi lima tahunan tersebut. Presiden petahana, Joko Widodo dan mantan pesaingnya di tahun 2014, Prabowo Subianto.

Kemungkinan lain, ada ada tokoh ketiga dari poros baru yang maju. Bisa juga, ada figur lain yang dimajukan Prabowo Subianto untuk menggantikan posisinya.

Jika terjadi pertarungan antar pasangan Capres dan Cawapres, pasangan dengan suara terbanyak akan menjadi presiden-wakil presiden periode 2019-2024.

Namun, ada hal yang kini menjadi pertanyaan publik, bagimana jika tak ada pasangan lain yang tampil untuk melawan Joko Widodo bersama pasangannya?

Joko Widodo dan pasangan yang kini didukung lima partai yang berada di parlemen plus tiga partai lain non parlemen, tentunya akan berhadapan dengan kotak kosong.

Itu berarti masyarakat hanya dihadapkan dengan pilihan setuju memilih Joko Widodo- wakilnya atau tidak setuju dengan pasangan tersebut dan memilih kotak kosong.

Pasangan Joko Widodo dan wakilnya harus meraih 50 persen suara plus satu suara dari suara sah. Jika tercapai, otomatis keduanya ditahbiskan menjadi presiden dan wakil presiden lima tahun ke depan.

Sebaliknya, jika keduanya mendapat suara kurang dari 50 persen, berarti kotak kosong dinyatakan menjadi pemenangnya.

Hal ini mengharuskan diadakan pemilihan ulang presiden dan wakil presiden dalam waktu yang akan ditentukan kemudian.

Dalam pemilihan Kepala Daerah, jika kotak kosong yang menang akan ada pelaksana tugas atau penjabat kepala daerah hingga dilaksanakan pemilihan ulang.

Untuk tingkat bupati/walikota, penjabat kepala daerah akan dipilih dari pejabat eselon II dari provinsi oleh gubernur.

Sedangkan untuk tingkat gubernur, akan diisi pejabat eselon I dari Kementerian Dalam Negeri yang ditunjuk Menteri Dalam Negeri.

Posisi ini disebut sebagai kelemahan yang terabaikan para pembuat kebijakan, tidak memperhitungkan kemungkinan kotak kosong menang lawan pasangan Capres dan Cawapres tunggal.

Berbeda dengan pemilihan Kepala Daerah yang sudah diatur, untuk Pilpres belum ada aturan jelas, siapa dan bagaimana menentukan penjabat presiden.

Untuk Pemilihan Presiden, kemenangan kotak kosong atas pasangan calon tunggal akan menempatkan negara dalam kondisi krisis konstitusional.

Dalam situasi ini, Majelis Permusyarawaratan Rakyat  (MPR) tak bisa memperpanjang masa jabatan presiden petahana.

Selain itu, MPR juga tidak bisa melantik wakil presiden sebagai penjabat presiden, karena masa jabatan keduanya sudah habis

Keadaan ini jelas akan membawa negara Indonesia dalam situasi rumit dan kompleks. Padahal, penjabat presiden akan mempunyai tugas besar untuk mempersiapkan pemilihan umum ulang untuk memilih presiden dan wakil presiden.

Otomatis akan banyak usulan atau opsi untuk menentukan figur yang akan menjabat sebagai penjabat presiden.

Jelas juga ini akan lebih ditentukan melalui jalur politik dibanding pertimbangan hukum. Kondisi ini jelas merupakan satu hal yang sulit dibayangkan jika memang terjadi.

Baca juga: Ini Nomor Urut Partai Peserta Pemilu 2019

Baca juga: Ini Perolehan Suara dan Kursi DPR pada Pemilu 2014

Baca juga: Ini arti Parlementiary Threshold dan Presidential Threshold

Baca juga: Bagaimana Jika Kotak Kosong yang Menang? Ini Penjelasannya

Diketahui, dalam beberapa hasil survey lima bulan jelang tahapan Pilpres 2019 dimulai, elektabilitas Joko Widodo berada di atas 50 persen.

Namun beberapa lembaga survey menyatakan elektabilitas Joko Widodo berada di bawah 50 persen. Itu berarti jika hanya muncul satu pasangan calon, situasi tersebut sangat riskan terjadi.

Hal ini sangat beralasan, karena jika terjadi pemilihan ulang presiden maka kursi yang akan digunakan sesuai hasil pemilihan legislatif 2019.

Kini masyarakat Indonesia berharap, akan ada pasangan calon yang akan muncul menantang pasangan presiden petahana, agar situasi rumit tersebut bisa terelakkan.

We’ll wait and see…

Penulis: Efge Tangkudung

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed