oleh

Bukan Cak Imin, Jokowi akan Ikut SBY Pilih Cawapres

Masa pendaftaran Calon Presiden dan Wakil Presiden (Capres-Cawapres) untuk Pemilihan Umum 2019 tinggal menghitung hari.

Dua figur sudah dipastikan akan berlaga dalam pesta demokrasi lima tahunan tersebut, Joko Widodo dan Prabowo Subianto.

Beberapa pihak masih yakin ada figur ketiga yang turut meramaikan pertarungan perebutan RI 1 tersebut.

Namun, dua nama pertama diprediksi akan menjadi kekuatan utama dan menjadi rival dalam Pilpres 2019.

Berbeda dengan Prabowo Subianto yang hingga kini belum cukup kuota mendaftarkan diri, Jokowi justru surplus dukungan partai.

Hal ini membuat Joko Widodo mendapat keuntungan besar mempersiapkan diri dalam ajang Pilpres 2019.

Prabowo diperkirakan akan ‘tersandera’ partai pendukungnya dalam menentukan calon wakil presidennya.

Figur calon wakil presiden yang akan digandeng Joko Widodo atau Prabowo Subianto jelas akan menjadi penentu dalam meraup suara pemilih nanti.

Nama Ketua Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar (Cak Imin), kini menjadi calon wakil presiden paling menjanjikan untuk dua tokoh tersebut.

Wajar saja, dengan situasi politik kini yang penuh dengan isu berbau agama, Cak Imin dianggap menjadi kunci untuk memenangkan pemungutan suara.

Cak Imin dipandang mewakili kaum Nahdliyin dan warga Jawa Timur, Provinsi dengan jumlah pemilih terbesar.

Tetapi, dengan memilih nama Cak Imin, otomatis langkah Jokowi akan membuat sejumlah partai lain ‘tersakiti’.

Meski mereka mendukung tanpa mahar dan tanpa pamrih, rasa iri akan membuncah dari 7 partai pendukung lain.

Apalagi delapan partai sudah lebih dulu menyatakan dukungan kepada Joko Widodo sebelum PKB.

Jokowi jelas akan mencari jalan tengah agar koalisinya tidak terpecah. Jalan terbaik, Joko Widodo akan mengikuti langkah SBY saat menentukan wakilnya pada Pilpres 2009.

Saat itu SBY menggaet tokoh netral di luar partai, Boediono. Langkah tersebut bisa diterima oleh para partai pendukung.

Meski memilih tokoh netral di luar partai pendukung, Joko Widodo tetap akan memperhitungkan isu dan serangan yang akan dilancarkan saat kampanye nanti.

Nama yang diambil jelas tetap akan berasal dari kalangan Nahdliyin yang dianggap bisa meredam isu agama yang santer menjadi senjata utama pesaingnya.

Dua nama menjadi calon kuat, jika Joko Widodo mengambil langkah ini.

Nama mahfud MD dan Yenni Wahid akan menjadi alternatif terbaik bagi Joko Widodo.

Mahfud MD sebagai tokoh Islam yang juga ahli hukum, akan menjadi partner hebat bagi Jokowi.

Diketahui selama hampir empat tahun memimpin, isu penegakan hukum yang tumpul selalu menjadi materi serangan untuk pemerintah.

Apalagi Mahfud MD pernah menjadi tim sukses Prabowo Subianto saat Pilres 2014. Dia dianggap mengetahui sebagian dapur tim Prabowo Subianto.

Nama kedua adalah putri Presiden RI IV, KH Abdurahman Wahid (Gus Dur), Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid  (Yenni Wahid). Selain membawa nama Gus Dur dan NUnya, Yenni juga akan mewakili gender perempuan.

Saat Gus Dur menjabat presiden, Yenni selalu mendampingi ayahnya ke manapun Gus Dur berkunjung. Pengalaman itu juga bisa menjadi pelengkap pemikiran  Joko Widodo.

Baik Mahfud MD dan Yenni Wahid mempunyai kelebihan masing-masing. Tinggal Jokowi yang akan menakar tingkat chemistry dirinya dengan satu diantara keduanya.

Baca juga: Ini Pasangan Ideal Prabowo untuk Menang Pilpres 2019

Jika Joko Widodo memilih satu di antara keduanya, peluang Joko Widodo kembali  terpilih untuk kedua kalinya. Sangat besar.

Well wait and see…

Penulis: Efge Tangkudung

 

 

 

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed