oleh

Ini Pasangan Ideal Prabowo untuk Menang Pilpres 2019

Gendang perang untuk memperebutkan posisi top eksekutif Republik Indonesia lewat Pilpres 2019 makin nyaring ditabuh.

Praktis tinggal empat bulan lagi di bulan Agustus 2018, nama pasangan calon akan mengerucut dan didaftarkan di Komisi Pemilihan Umum (KPU) Indonesia.

Berbeda dengan presiden petahana, Joko Widodo yang sudah pasti diusung mayoritas partai politik yang ada, Prabowo Subianto dan Partai Gerindra-nya masih terlihat sedikit gamang.

Wajar saja, dengan perolehan hanya 73 kursi atau 11, 8 persen suara nasional, Partai Gerindra harus menggandeng partai yang akan menjadi rekan koalisi di luar sejumlah partai yang sudah menyatakan diri mendukung Joko Widodo.

Namun, dengan kecairan peta perpolitikan di Indonesia, Prabowo Subianto diyakini tetap akan melenggang menjadi rival utama Joko Widodo.

Meski begitu, suara Prabowo diprediksi masih tetap tak bisa menyaingi suara pendukung Joko Widodo. Hal itu juga terus dikuatkan dengan hasil berbagai lembaga survey di tanah air.

Tetapi, pemilihan nama wakil presiden yang akan mendampinginya disebut menjadi kunci Prabowo Subianto bisa memenangkan Pilpres 2019.

Sejumlah nama sudah dimunculkan sebagai pendamping mantan Danjen Kopassus tersebut. Teranyar, nama mantan panglima TNI, Gatot Nurmantyo sudah dibidik sebagai pendampingnya.

Selain Gatot, nama seperti Sohibul Iman, Mardani Ali Sera, Anis Matta, Anies Baswedan, Zulkifli Hasan, Muhammad Zainul Majdi (Tuan Guru Bajang), Mahfud MD dan Muhaimin Iskandar juga sudah diapungkan.

Jika dibedah satu persatu nama kandidat yang ada, sejumlah nama memiliki irisan yang sama dengan basis massa Prabowo Subianto. Lihat saja nama Gatot Nurmantyo yang memiliki latar belakang militer yang sama dengan Prabowo Subianto. Di luar faktor militer, pendukungnya yang berasal dari kalangan umat Islam yang sama.

Begitu juga dengan nama Anies Baswedan, Muhammad Zainul Majdi (Tuan Guru Bajang) atau tiga nama dari PKS yakni Sohibul Iman, Mardani Ali Sera dan Anis Matta. Basis suaranya tak berbeda jauh dengan Prabowo dan diyakini tak akan menambah suara signifikan.

Nama Zulkifli Hasan (Bang Zul) yang kini menjadi ketua MPR dan juga ketua umum Partai Amanat Nasional menjadi opsi lebih menarik. Selain memiliki massa Muhamadiyah dengan PAN-nya, dirinya juga mewakili suara luar pulau Jawa. Bang Zul diketahui merupakan kelahiran Provinsi Lampung.

Melihat hasil Pilpres 2014, di Provinsi Lampung saat itu Prabowo yang berpasangan dengan Hatta Rajasa kalah tipis dengan perolehan suara 2.033.924. Pasangan Jokowi –JK waktu itu meraup 2.299.889.

Pun begitu di daerah Sumatera Selatan daerah tetangganya, meski menang suara Prabowo tak signifikan dengan jumlah 2.132.163. Saat itu suara pasangan Jokowi-JK menguntit dengan 2.027.049.

Pada Pilres 2014 lalu, Prabowo menang di empat provinsi yang ada di pulau Andalas tersebut. Selain Sumatera Selatan, Prabowo-Hatta juga menang di Provinsi Aceh, Sumatera Barat dan Riau. Namun secara umum suara Prabowo kalah, meski bisa dibilang agak ketat dan merata.

Memilih Bang Zul, memang opsi yang menarik untuk menambah suara. Selain itu, bergabungnya PAN dengan Gerindra tentunya bakal melengkapi syarat persentase kursi dan suara koalisi Prabowo tersebut. Satu hal, pastinya itu harus dengan persetujuan Partai Keadilan Sejahtera, sesuatu yang memerlukan keikhlasan ekstra.

Selain Bang Zul, dua nama terakhir dari kalangan Nahdliyin bakal menjadi pasangan ideal Prabowo Subianto.

Nama Muhaimin Iskandar (Cak Imin) menjadi sosok paripurna untuk menambah pundi-pundi suara bagi Prabowo Subianto. Selain menjadi perwakilan kaum Nahdliyin, Cak Imin juga merupakan ketua Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Dengan perolehan 47 kursi dan 9,04 persen suara nasional, bergabungnya Cak Imin dengan Prabowo bakal menjadi pelengkap sempurna sekaligus lawan berat bagi Joko Widodo dan pasangannya nanti.

Nama Mahfud MD juga bisa menjadi alternatif bagi Prabowo Subianto. Selain dari kalangan tokoh Nahdliyin, Mahfud MD merupakan ahli hukum yang bisa menjadi perpaduan bagus bagi Prabowo. Meski begitu, kans Mahfud lebih kecil jika dibandingkan dengan Bang Zul atau Cak Imin karena keduanya merupakan ketua partai politik.

Pada perolehan suara Pilres 2014 lalu, di Jawa Timur yang notabene menjadi basis warga Nahdliyin, Prabowo- Hatta waktu itu hanya meraup 10.277.088 suara. Bandingkan dengan pasangan Jokowi-JK yang meraih suara 11.669.313 pemilih.

Tetapi perlu diingat, meski Cak Imin dan Mahfud MD dari warga Nahdliyin itu bukan berarti mewakili seluruh suara warga Nahdliyin.

Melihat jumlah perolehan suara total Pilpres 2019 memang bukan sesuatu yang relevan lagi. Namun sekadar menjadi acuan, suara Prabowo waktu itu yang berjumlah 62.576.444 pemilih ‘cukup dekat’ dengan suara Jokowi yang meraih 70.997.833 pemilih.

Dukungan dan pengaruh wakil presiden keduanya nanti bakal menjadi faktor paling berpengaruh dalam perolehan suara 2019 nanti.

Baca juga: Bagi Prabowo Semuanya Semudah Membalikkan Tangan

Baca juga: Permintaan Maaf tak Cukup untuk Pecinta Gorengan

Baca juga: Bung Ara, Jangan Kotori Sepak Bola dengan Politik

Baca juga: Puisi Sukmawati Ingatkan Habib Rizieq dan Ustaz Somad

Kini Prabowo Subianto masih berhitung langkah dan strategi yang akan diambil. Siapa pihak yang akan dijadikan sekutu demi memuluskan langkahnya menjadi Presiden ke- 8, kode yang selama ini melekat dengan Prabowo di Partai Gerindra.

Semua akan terjawab bulan Agustus nanti. We’ll wait and see…

Penulis: Efge Tangkudung

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed