oleh

Bagi Prabowo Semuanya Semudah Membalikkan Tangan

Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Prabowo Subianto beberapa waktu terakhir mulai gamblang melancarkan serangan politik.

Dalam sebuah video, Mantan Danjen Kopassus ini mengingatkan publik dengan sebuah kajian yang menyebutkan Negara Indonesia akan bubar pada tahun 2030.

Prabowo kemudian melanjutkan pidato tendensius yang menohok setelah menyebutkan lahan dan kekayaan di Indonesia dikuasai golongan minoritas di negeri ini. Kelompok elite negeri ini disebut harus bertanggung jawab dengan situasi perekonomian yang terjadi di Indonesia.

Seperti belum cukup, Prabowo kembali ‘menyerang’ para elit dengan diksi yang cukup vulgar dan kasar. Mantan menantu Presiden ke-2 RI Soeharto tersebut, mengatakan para elit negeri dengan kata gobl*k, bermental mal*ng, tidak setia dan hati beku.

Sontak ‘serangan’ Prabowo tersebut menimbulkan kegaduhan di antara elit, terlebih mereka yang berada di kubu pemerintah.

Bagi mereka yang selama ini berada di jajaran oposisi, pidato itu disebut hanya sebagai peringatan dan kritikan. Apalagi mereka mafhum dengan karakter seorang Prabowo yang memang berapi-api dalam berpidato, terlebih saat menunjukkan keberpihakan kepada rakyat kecil.

Namun di sisi lain, banyak yang beranggapan hal tersebut sebagai bentuk pesimisme dan ketakutan. Bahkan ada yang beranggapan hal tersebut menyiratkan kegalauan dan kegundahan Prabowo menjelang Pilpres 2019.

Materi pidato yang diambil berdasarkan novel fiksi Ghost Fleet karangan Swinger and Cole, justru disebut sebagai pemikiran konyol tanpa logika. Prabowo juga ditantang untuk membuka nama elite yang dimaksud mal*ng dan gobl*k, bukan hanya ‘lempar batu sembunyi tangan’ dan menimbulkan kegaduhan.

Memang sebuah hal yang wajar, mereka yang berada di pihak oposisi untuk mengritik pemerintahan. Kritik itu dimaklumi, dengan ataupun tanpa solusi, apalagi menjelang pesta demokrasi pemilihan presiden. Namun ada baiknya mengritik itu menggunakan kajian yang bisa dipertanggungjawabkan dan bisa melihat fakta secara adil dan global.

Karut marutnya penegakan hukum, kemiskinan dan kesenjangan dalam masyarakat yang menjadi inti kritikan tersebut, nyatanya sudah berjalan sejak republik ini berdiri.

Itu berarti ada 6 presiden terdahulu yang juga harus ikut bertanggung jawab, bukan hanya semata dibebankan kepada presiden terakhir yang praktis baru bekerja kurang dari empat tahun.

Menukil dari Wikipedia, Prabowo Subianto justru disebutkan memiliki 27 perusahaan di dalam dan luar negeri. Bahkan beberapa perusahaannya mengelola Kelapa sawit, pertambangan, kehutanan, pertanian dan perikanan di dalam negeri. Melihat kondisi ini jelas pidatonya menjadi bumerang buat dirinya sendiri.

Prabowo juga pernah mengritik pemerintah ketika mengimpor garam. Menurutnya, Indonesia sebagai negara dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia harusnya menghasilkan garam yang berlimpah.

Nyatanya, proses pembuatan garam dan biaya yang dihasilkan bukan sekadar tentang penguapan air laut. Ada kualitas, tekstur, kandungan dan tentunya biaya yang menjadi pertimbangan. Belum lagi garam industri dan farmasi yang mensyaratkan NaCl berkadar lebih dari 98 persen, kandungan logam di bawah 400 ppm dan kadar air sangat rendah.

Negara seperti Belarus dan Austria yang masuk dalam daftar negara pengekspor garam justru tak mempunyai laut. Sebaliknya, Kanada yang mempunyai garis pantai terpanjang dunia bukan berada di posisi penghasil garam nomor satu dunia. Beberapa negara mempunyai tambang garam yang sudah dikeringkan alam selama ratusan bahkan jutaan tahun. Berbeda dengan produksi garam di Indonesia yang begitu menggantungkan kualitas dari cuaca.

Itulah mengapa disparitas harga antara garam lokal dan impor begitu menganga. Pasokan petani garam lokal pun tak mencukupi kebutuhan dalam negeri yang mencapai 4 juta ton per tahun, dengan lebih dari 60 persen adalah kebutuhan non konsumsi.

Kritikan Prabowo mungkin ada benarnya sebagai alarm bangsa ini jika tidak berhati-hati. Namun tak bisa dipungkiri masyarakat banyak mengaitkan pergerakan Prabowo dengan ambisinya dalam Pilpres 2019.

Prabowo hampir dipastikan menjadi rival kuat Presiden Joko Widodo tahun 2019 nanti. Banyak yang memprediksi ini adalah kesempatan terakhir Prabowo untuk meraih top eksekutif RI I dalam pencalonan. Melihat dari usianya, Prabowo akan genap berusia 67 tahun pada Oktober 2018.

Tahun 2019 nanti jika Prabowo Subianto menjadi Bakal Calon Presiden, menjadi kesempatan keempatnya dalam kompetisi serupa.

Tahun 2004, Prabowo mengajukan diri sebagai calon Presiden setelah balik ‘bertapa’ dari luar negeri. Saat itu dia kalah dalam konvensi partai Golkar yang dimenangkan Wiranto. Ketika itu Pilpres dimenangkan SBY-JK.

Setelah mendirikan Partai Gerindra, Prabowo menjadi wakil Megawati Soekarnoputri tahun 2009. Namun keduanya kalah oleh pasangan SBY-Boediono. Tahun 2014 lalu, berpasangan dengan Hatta Rajasa, dia juga harus mengakui perolehan suara Joko Widodo-Jusuf Kalla.

Metode kampanye seperti itu menjadi ‘warna baru tapi lama’ bagi masyarakat. Dengan menebarkan ‘kelemahan’ pemerintah menjabat dan ‘menggampangkan’ masalah saat ini, bisa jadi itu menjadi alasan rakyat Indonesia memilihnya nanti.

Baca juga: Ajudan Prabowo yang Tertembak Dimakamkan di Tomohon

Baca juga: Fernando Wowor, Nama Pria yang Tewas Tertembak di Bogor

Baca juga: Prabowo Pernah Dicurhati Fernando Wowor Soal ini

Baca juga: Bupati Cantik Panambunan Tinggalkan Prabowo Subianto

Biarlah, tanggal 17 April 2019, mayoritas rakyat Indonesia akan menilai dan menentukan jika pemerintah saat ini layak melanjutkan kepemimpinannya atau sebaliknya. Mayoritas rakyat Indonesia akan menjatuhkan pilihannya lewat semua pertimbangan, termasuk diksi dan retorika kampanye Prabowo Subianto.

Bisa jadi Prabowo Subianto akan menjadi presiden RI ke-8 seperti kodenya selama ini di Partai Gerindra. Pun begitu sebaliknya..

Biarkan kedaulatan rakyat Indonesia yang menentukan pemimpinnya tahun 2019 nanti…  We’ll wait and see…

Penulis: Efge Tangkudung

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed