oleh

Menanti Palu Artidjo Alkostar untuk Ahok

Hakim Agung Artidjo Alkostar akan menjadi pimpinan majelis pemeriksa berkas perkara Peninjauan Kembali (PK) mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama (Ahok).

Artidjo Alkostar akan didampingi Hakim Salman Luthan dan Sumardiyatmo untuk memutus nasib Ahok terkait kasus penodaan agama Islam.

Tampilnya nama Artidjo Alkostar dalam kasus Ahok menjadi menarik melihat sepak tejangnya selama ini. Bagi para bandar Narkoba dan koruptor, nama Artidjo Alkostar menjadi momok paling menakutkan ketika mengajukan berkas Kasasi di tingkat MA.

Banyak yang sudah merasakan ‘kejamnya’ hantaman palu Artidjo. Lihatlah putusan Kweh Elchoon, Warga Malaysia pemilik ekstasi dan sabu yang dihukum 20 Tahun (PN) dan 12 tahun (PT). Ketika masuk ke meja Artidjo, tak tanggung-tanggung Elchoon langsung divonis mati.

Ada juga terdakwa Ananta Lianggara (Alung) kurir Narkoba yang divonis satu tahun penjara (PN dan PT). Ketika diperiksa Artidjo, hukumannya melonjak seribu persen, 20 tahun penjara.

Untuk para koruptor, tengok kasus Angelina Sondakh yang terjerat Korupsi wisma Atlet Sea Games Palembang dan Kemendikbud. Vonis empat tahun pengadilan Tipikor langsung dinaikkan tiga kali lipat menjadi 12 tahun penjara.

Rahudman Harahap, mantan Wali Kota Medan yang terjerat Kasus dana Tunjangan Penghasilan Aparatur Pemerintah Desa awalnya sumringah setelah diputus bebas di Pengadilan Tipikor. Namun ketika tiba di MA, Harahap divonis lima tahun penjara.

Pun begitu, dengan Aiptu Labora Sitorus, Pemilik rekening gendut Rp1,5 triliun. Awalnya Sitorus divonis 2 tahun penjara. Namun langsung dikoreksi Artidjo dengan vonis 15 tahun penjara.

Masih kurang, lihat saja hukuman untuk mantan Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq, mantan ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum dan mantan Kakorlantas Djoko Susilo. Selain itu, mantan Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah dan pengacara kondang OC Kaligis juga pernah merasakan ‘kejamnya’ ketukan palu Artidjo.

Pada kasus PK Ahok, Artidjo tak bisa menambah hukuman yang sudah dijatuhkan majelis hakim PN Jakarta Utara yang diketuai Dwiarso Budi Santiarto.

“Pidana yang dijatuhkan dalam putusan peninjauan kembali tidak boleh melebihi pidana yang telah dijatuhkan dalam putusan semula” begitu bunyi Pasal 266 ayat (3) KUHAP.

Majelis hakim PN Jakarta Utara, setahun silam menjatuhkan hukuman dua tahun penjara bagi Basuki Tjahaya Purnama (Ahok). Itu berarti, Pilihan Artidjo cuma menguatkan putusan, mengurangi hukuman atau membebaskan Ahok.

Artidjo yang merupakan mantan pengacara, kini menjadi ikon ketegasan penegakan hukum dan keadilan di Indonesia. Dalam kasus ini jelas jutaan pasang mata akan menunggu hasil keputusannya.

Artidjo kini berada di persimpangan, apapun keputusannya jelas akan ada pihak yang menolak dan tak setuju. Yang pasti, keputusan tersebut harus berasal dari nurani terdalamnya, demi keadilan berdasarkan Ketuhanan yang Maha Esa.

Baca juga: Basuki Tjahaya Purnama Ajukan PK, Ini Pertimbangannya

Keputusan yamg diambil tidak boleh terpengaruh tekanan apapun karena keputusan itu nantinya akan dipertanggung jawabkan kepada masyarakat Indonesia, juga kepada Sang Pencipta kelak. Karena sejatinya, hakim adalah wakil Tuhan di dunia.

We’ll wait and see…

Penulis: Efge Tangkudung

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed