oleh

8 Pahlawan Nasional Asal Sulawesi Utara

Beberapa putra-putri asal Sulawesi Utara mendapat gelar pahlawan nasional Indonesia.

Hingga tahun 2018, ada delapan putra-putri asal Sulut yang dianugerahkan gelar pahlawan nasional oleh pemerintah RI.

Gelar itu diberikan atas jasa terlibat dalam perjuangan Indonesia untuk merebut kemerdekaan dari tangan penjajah.

Siapa saja?

  1. Sam Ratulangi

Sam, nama panggilannnya  dilahirkan 5 November 1890 di Desa Tounkuramber, Kabupaten Minahasa, bernama lengkap nama Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi.

Sam terkenal dengan filsafat ‘Si Tou Timou Tumou Tou’ manusia hidup memanusiakan manusia lain. Sam adalah anak ketiga dari Yozias Ratulangi dan Agustius Gerungan.

Saat di Belanda, Sam yang pernah menjadi ketua Indische Vereniging (1913-1915)  juga sudah menggunakan ‘Indonesia’ dalam sejumlah tulisan dan pidatonya.

“Marilah kita di Holland ini bersatu untuk menghadapi kewajiban kita di Indonesia kelak, marilah kita bersatu…,” begitu pidato Sam yang membakar semangat para pelajar Indonesia di Belanda.

Ketika menjadi ketua perhimpunan mahasiswa Asia di Eropa, Sam juga selalu mensosialisasikan kata Indonesia dalam forum resmi. Saat itu, satu anggota perhimpunan adalah pandit Jawaharlal Nehru yang kelak menjadi perdana menteri pertama India.

Sam dianugerahi gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional Berdasarkan SK Presiden RI No.590 tahun 1961 tanggal 5 November 1961 oleh Pemerintah RI. tahun 2017, wajah Sam juga diabadikan dalam pecahan uang Rupiah Rp 20 ribu.

Baca selengkapnya: Sam Ratulangi, Doktor Pencetus Nama ‘Indonesia’

  1. Arie Lasut

Arie Frederik Lasut dilahirkan pada tanggal 6 Juli 1918 di Kapataran, Lembean Timur Kabupaten Minahasa.



Arie merupakan ahli dalam pertambangan dan geologi. Keahliannya tersebut membuat diadijadikan rebutan Belanda dan Jepang.

Arie Lasut bersama-sama dengan rekannya di Chisitsu Chosasho yaitu R. Sunu Sumosusastro, Raden Ali Tirtosuwiryo dan Sjamsu M. Bahrum.

Pada tanggal 28 September 1945 mereka memimpin pengambil alihan Jawatan Geologi tersebut dari pihak Jepang secara damai. Setelah penyerahan oleh pihak Jepang, kantor jawatan tersebut namanya diubah menjadi Pusat Jawatan Tambang dan Geologi.

Arie Frederik Lasut digelari Pahlawan Pembela Kemerdekaan pada tanggal 20 Mei 1969, melalui Keputusan Presiden RI Nomor 012/TK/TAHUN 1969.

Baca selengkapnya: Arie Lasut, Ahli Geologi Rebutan Jepang dan Belanda

  1. Maria Maramis

Maria Josephine Catherine Maramis, lebih dikenal dengan Maria Walanda Maramis. Nama Walanda ditambahkan usai dia menikah dengan Joseph Frederick Caselung Walanda, guru bahasa pada tahun 1890.

Maria dilahirkan pada tanggal 1 Desember 1872, dari pasangan Maramis dan Sarah Rotinsulu. Dia adalah anak bungsu dari tiga bersaudara.

Maria adalah pendiri Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunannya (PIKAT), tanggal 8 Juli 1917.  Maria Walanda Maramis diberikan gelar Pahlawan Pergerakan Nasional tanggal 20 Mei 1969.

Baca selengkapnya: Maria Maramis, Pendiri PIKAT yang Angkat Harkat Wanita

  1. Piere Tendean

Pierre Andreas Tendean lahir 21 Februari 1939 di Batavia dari  pasangan Dr. A.L Tendean dan Cornet M.E berdarah Perancis.

Pierre dan enam jenderal lain dibunuh kemudian ditimbun dalam sebuah sumur tua yang kelak dikenal sebagai sumur lubang buaya. Pierre gugur demi membela tanah air, Republik Indonesia.

Pierre bersama keenam perwira lainnya yakni Jenderal Ahmad Yani, Letnan Jenderal Suprapto, Letnan Jenderal Haryono, Letnan Jenderal Siswondo Parman, Mayor Jenderal Pandjaitan dan Mayor Jenderal Sutoyo Siswomiharjo, kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

Pierre dan enam jenderal gugur demi membela tanah air, Republik Indonesia dalam pemberontakan G/ 30 S /PKI. Pemerintah RI menganugerahi gelar Pahlawan Revolusi Indonesia pada tanggal 5 Oktober 1965 berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 111/KOTI/Tahun 1965.

Baca selengkapnya: Pierre Tendean, si Ganteng yang Bernyali Besar

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 comment

News Feed