oleh

8 Pahlawan Nasional Asal Sulawesi Utara

Putra-putri asal Sulawesi Utara dikenal banyak terlibat dalam perjuangan Indonesia untuk merebut kemerdekaan dari tangan penjajah.

Hingga tahun 2018, ada delapan putra-putri asal Sulut yang dianugerahkan gelar pahlawan oleh pemerintah RI.

Siapa saja?

  1. Sam Ratulangi

Sam, nama panggilannnya  dilahirkan 5 November 1890 di Desa Tounkuramber, Kabupaten Minahasa, bernama lengkap nama Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi.

Sam terkenal dengan filsafat ‘Si Tou Timou Tumou Tou’ manusia hidup memanusiakan manusia lain. Sam adalah anak ketiga dari Yozias Ratulangi dan Agustius Gerungan.

Sam dianugerahi gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional Berdasarkan SK Presiden RI No.590 tahun 1961 tanggal 5 November 1961 oleh Pemerintah RI. tahun 2017, wajah Sam juga diabadikan dalam pecahan uang Rupiah Rp 20 ribu.

Baca selengkapnya: Sam Ratulangi, Doktor Pencetus Nama ‘Indonesia’

  1. Arie Lasut

Arie Frederik Lasut dilahirkan pada tanggal 6 Juli 1918 di Kapataran, Lembean Timur Kabupaten Minahasa.

Arie merupakan ahli dalam pertambangan dan geologi. Keahliannya tersebut membuat diadijadikan rebutan Belanda dan Jepang.

Arie Frederik Lasut digelari Pahlawan Pembela Kemerdekaan pada tanggal 20 Mei 1969, melalui Keputusan Presiden RI Nomor 012/TK/TAHUN 1969.

Baca selengkapnya: Arie Lasut, Ahli Geologi Rebutan Jepang dan Belanda

  1. Maria Maramis

Maria Josephine Catherine Maramis, lebih dikenal dengan Maria Walanda Maramis. Nama Walanda ditambahkan usai dia menikah dengan Joseph Frederick Caselung Walanda, guru bahasa pada tahun 1890.

Maria dilahirkan pada tanggal 1 Desember 1872, dari pasangan Maramis dan Sarah Rotinsulu. Dia adalah anak bungsu dari tiga bersaudara.

Maria adalah pendiri Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunannya (PIKAT), tanggal 8 Juli 1917.  Maria Walanda Maramis diberikan gelar Pahlawan Pergerakan Nasional tanggal 20 Mei 1969.

 

Baca selengkapnya: Maria Maramis, Pendiri PIKAT yang Angkat Harkat Wanita

  1. Piere Tendean

Pierre Andreas Tendean lahir 21 Februari 1939 di Batavia dari  pasangan Dr. A.L Tendean dan Cornet M.E berdarah Perancis.

Pierre dan enam jenderal gugur demi membela tanah air, Republik Indonesia dalam pemberontakan G/ 30 S /PKI. Pemerintah RI menganugerahi gelar Pahlawan Revolusi Indonesia pada tanggal 5 Oktober 1965 berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 111/KOTI/Tahun 1965.

Baca selengkapnya: Pierre Tendean, si Ganteng yang Bernyali Besar

  1. Bote Monginsidi

Robert Wolter Monginsidi lahir di Malalayang, Manado, Sulawesi Utara pada tanggal 14 Februari 1925. Dia merupakan Pasangan Petrus Monginsidi dan Lina Suawa. Bote, panggilan akrabnya, berasal dari suku Bantik, sub suku Minahasa.

Bote gugur di usia masih sangat muda, 24 tahun ketika dieksekusi oleh regu tembak Belanda. Pada tanggal 6 November 1973, Bote digelari Pahlawan Nasional oleh RI . Gelar pahlawan itu diterima langsung sang ayah, Petrus Monginsidi (80).

Baca selengkapnya: Bote Monginsidi, Setia Hingga Akhir Dalam Keyakinan

  1. John Lie

Laksamana Muda TNI (Purn.) John Lie Tjeng Tjoan kemudian hari kemudian berganti nama menjadi Jahja Daniel Dharma. John Lie lahir di Manado, pada tanggal 9 Maret 1911 dari orang tua Lie Kae Tae dan Oei Tjeng Nie Nio. Dia mendapatkan gelar pahlawan Pahlawan Nasional Tahun 2009.

Keturunan Tionghoa ini, dikenal sebagai ‘Hantu Selat Malaka’ karena kehebatannya mengarungi keganasan laut tanpa terlihat.

Baca selengkapnya: John Lie, Pelaut China-Manado yang Jadi Pahlawan Nasional

  1. Babe Palar

Lambertus Nicodemus Palar dilahirkan di Rurukan, Kota Tomohon, pada 5 Juni 1900 dari pasangan Gerrit Palar dan ibunya bernama Jacoba Lumanauw. Dia kemudian lebih populer dengan nama Babe Palar.

Babe Palar mempunyai kemampuan diplomasi yang sangat handal. Babe Palar mendapat gelar Pahlawan Nasional Indonesia pada tahun 2013.

Babe Palar merupakan putra . Babe Palar kecil hidup dalam masa pemerintahan kolonial Belanda.

 

Babe Palar adalah diplomat Indonesia pertama di PBB serta menjadi satu-satunya tokoh diplomasi yang pernah menjabat  Duta Besar di tujuh negara.

Baca selengkapnya: Babe Palar, Diplomat Indonesia Pertama di PBB

  1. Bernard Lapian

Bernard Wilhelm Lapian terlahir tanggal 30 Juni 1892 di Kawangkoan Minahasa. Dia sering disebut sebagai pejuang tiga zaman, karena berjuang saat pemerintahan Belanda, saat penjajahan Jepang hingga masa kemerdekaan.

Dia turut mendirikan Kerapatan Gereja Protestan Minahasa (KGPM) tahun 1933 sebagai bentuk penolakan bentuk kolonialisme.

Bernard pernah menjabat Gubernur Provinsi Celebes kedua periode 17 Agustus 1950 sampai 1 Juli 1951. Dia digelari Pahlawan Nasional tanggal 5 November 2015.

Baca selengkapnya: Bernard Lapian, Si Kritis Pendobrak Tirani Kolonial

Penulis: Efge Tangkudung

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed