oleh

Muslim Cyber Army, Penistaan Agama Islam Sesungguhnya

Tertangkapnya seorang oknum dosen karena menyebarkan hoax tentang adanya seorang muazin yang dibunuh di Majalengka, mulai menggenapi kepingan puzzle yang selama ini menjadi misteri.

Dalam rentang waktu hampir berdekatan, terciduk juga beberapa orang yang mempunyai motif dan modus operandi serupa. Dari penyidikan pihak kepolisian, diketahui kesamaan sejumlah orang tersebut adalah mereka merupakan bagian dari Muslim Cyber Army.

Terungkap, kini kelompok  Muslim Cyber Army memang getol menyebarkan isu kebangkitan PKI, penyerangan ulama dan menjelekkan pemerintahan. Belum jelas jika sejumlah isu yang dihembuskan tersebut ada kaitannya dengan agenda politik Pilkada 2018 dan Pemilu 2019.

Pengakuan mereka tentang Muslim Cyber Army yang mempunyai hierarki serta punya sejumlah kelompok kecil jelas mengindikasikan kelompok ini sudah profesional. Kematangan kelompok ini sudah pasti dipersiapkan dan mempunyai penyandang dana yang hebat. Belum lagi mereka melibatkan sejumlah tenaga pendidik seperti guru dan dosen.

Rekayasa persekusi tuna wisma yang dituduh PKI di Kampung Dayeuh, Cileungsi Bogor serta puluhan berita bohong penyerangan ulama di Jawa Barat, gamblang menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

Penggunaan kata ‘Muslim’ yang seolah mengeneralisir seluruh umat Islam di Indonesia justru merupakan Penistaan Agama Islam yang susungguhnya.

Yang memiriskan, kelompok ini mengatsnamakan Islam demi mencapai tujuan politik, bahkan rela memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa.

Islam itu agama Rahmatan Lil Alamin, membawa rahmat dan kesejahteraan bagi semesta alam, bukan sebaliknya.

Islam itu menjadi bagian dari berdirinya bangsa Indonesia dan akan terus menjadi bagian penjaga keutuhan NKRI.

Alasan pengusiran Haji Djarot Saiful Hidayat dari Masjid Jami Al-Atiq di Tebet, usai Salat Jumat saat masa kampanye Pilkada DKI kini mulai terkuak.

Pun begitu dengan ancaman penolakan jenazah untuk disalatkan pihak masjid atau pengurus yang diusir dari masjidnya karena berbeda pilihan politik.

Hal itu memang akan menjadi aib bangsa ini sampai kapanpun. Negara ini pernah hampir dihancurkan oleh segelintir orang karena syahwat politik. Jika bukan kerja keras para aparat keamanan TNI/Polri, Indonesia mungkin tak beda dengan sejumlah negara Timur Tengah.

Mungkin banyak pihak sudah dapat mengendus bahkan menerka kelompok yang sangat erat kaitannya dengan semua faktor itu.

Pilkada DKI, tertangkapnya kelompok Saracen, agenda politik, isu PKI dan isu penyerangan ulama dan terciduknya kelompok Muslim Cyber Army kini menjadi rangkaian bertautan.

Tanpa menuduh, rangkaian itu menyasar satu kelompok yang diduga berhubungan dengan partai politik.

Pengakuan sejumlah penggawa Muslim Cyber Army ini  diharapkan bisa menyibak tabir siapa sutradara, aktor utama, modus dan tujuannya.

Namun yang perlu diwaspadai, pengungkapan kelompok Muslim Cyber Army jelas bukan menjadi akhir dari merebaknya berita hoax yang memecah belah dan meresahkan. Itu baru awal, kelompok mereka pasti akan lebih solid untuk memberondong semua amunisi, sebelum tujuannya kesampaian.

Hal itu harus membuat semua lapisan masyarakat Indonesia lintas agama, lebih bijak dan mawas diri, saling mengingatkan untuk tidak langsung percaya apalagi terprovokasi dengan berbagai berita menyangkut isu SARA.

Baca juga: Bung Ara, Jangan Kotori Sepak Bola dengan Politik

Baca juga: Permintaan Maaf tak Cukup untuk Pecinta Gorengan

Jangan biarkan kelompok ini mencapai tujuannya untuk mengkotak-kotakkan dan mengadudomba bangsa ini.

Biarkan pihak kepolisian dengan keprofesional dan ketegasannya mengungkap siapa di balik aksi teroganisir ini. Percayalah, kebenaran pada akhirnya akan selalu mengalahkan kebatilan…

Semoga…

Penulis: Efge Tangkudung

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed