oleh

Ban Hing Kiong, Klenteng Historis Sejak Abad 17

Perayaan Tahun Baru Imlek di Kota Manado selalu berlangsung meriah. Bukan hanya saat detik-detik pergantian tahun, namun juga ketika perayaan Cap Go Meh.





Cap Go Meh dirayakan pada hari ke-15 yang melambangkan hari terakhir masa perayaan Tahun Baru Imlek. Sebelum perayaan Cap Go Meh ada prosesi upacara yang dilakukan seperti upacara sembahyang rezeki Bwe Ge, pembersihan klenteng, upacara Sang Sin, upacara Tie Sik, sembahyang Thau Ge dan upacara Sie Sin.

Baca juga: Sejarah Manado, Negeri Jauh yang Jadi Metropolis

Baca juga: Asal Nama Manado Tua, Pulau Penghias Cakrawala

Prosesi Goan Siau dalam Cap Go Meh akan ditentukan dalam sebuah proses ritual di Klenteng Ban Hing Kiong lewat sepasang kayu Poa Poe. Prosesi tersebut adalah pelemparan kayu Poa Poe sebagai simbol meminta izin kepada Yang Kuasa untuk prosesi Goan Siau Cap Go Meh. Sepasang Kayu Poa Poe akan dilemparkan sebanyak tiga kali.

Jika dua kayu tertutup bersamaan atau terbuka bersamaan dalam tiga kali lemparan, berarti Cap Go Meeh tidak bisa dilaksanakan di Klenteng Ban Hing Kiong. Sebaliknya, jika ada lemparan yang membuat satu kayu tertutup dan lainnya terbuka, itu pertanda perayaan prosesi Goan Siau Cap Go Meh direstui untuk dilaksanakaan.

Perayaan Cap Go Meh di Klenteng Ban Hing Kiong selalu dipadati wisatawan dan puluhan ribu masyarakat lokal. Letak Klenteng Ban Hing Kiong memang berada di kawasan Pecinan (Kampung China) tepat berada di pusat Kota Manado.

Dalam perayaan Cap Go Meh di Klenteng Ban Hing Kiong, jalanan sekitar daerah Kampung Cina (Pecinan) Manado akan ditutup. Masyarakat akan tumpah ruah memadati jalan sekitar Klenteng Ban Hing Kiong yang menjadi rute arak-arakan kio yang dinaiki oleh tangsin (wadah roh suci). Selain itu ada juga pikulan, kuda Lo Cia, pertunjukan Barongsai.





Perayaan Cap Go Meh di Manado menjadi unik karena memasukkan budaya lain di Sulawesi Utara seperti tari kabasaran, musik bambu, musik bia dan lainnya di depan parade. Perayaan Cap Go Meh di Klenteng Ban Hing Kiong memang selalu ditunggu karena kemeriahan dan keunikannya.

Lalu di manakah Klenteng Ban Hing Kiong? Bagaimana sejarahnya?

Klenteng Ban Hing Kiong yang berada di Jalan DI Panjaitan, Kelurahan Calaca Kecamatan Wenang, Kota Manado. Kawasan ini sering disebut kampung China atau Pecinan di Kota Manado. Klenteng Ban Hing Kiong memang dikenal sebagai klenteng tertua di Sulawesi Utara.

Menurut sejarah, bangunan Klenteng Ban Hing Kiong sudah dijadikan tempat sembahyang sementara, sejak perantau Tionghoa membentuk permukiman Pecinan di Manado sekitar awal tahun 1600-an.

Perantau Tionghoa dibawa oleh bangsa Eropa ke Manado. Mereka berdagang di kawasan yang kini dikenal sebagai Pusat Kota atau Pasar 45 Manado. Dilihat dari letaknya, Pecinan memang hanya berjarak kurang lebih 400 meter dari Pelabuhan Manado. Itu berarti Klenteng ini sudah dijadikan tempat ibadah sejak masa dinasti Ming.

Klenteng Ban Hing Kiong pada awalnya hanya berupa bangunan kecil berdinding papan dan beratap rumbia.

Penamaan Ban Hing Kiong diambil dari 3 suku kata. Ban artinya banyak, Hing berarti berkat/ kebaikan melimpah dan Kiong berarti istana. Secara Harafiah, Ban Hin Kiong bisa diartikan sebagai istana untuk meminta banyak kebaikan dan berkat.

Baca juga: Makam Imam Bonjol, Cagar Budaya Peringkat Nasional

Baca juga: Waruga, Sarkofagus Historis di Utara Minahasa

Klenteng Ban Hing Kiong kemudian dipugar menjadi semi permanen dan diresmikan pada tahun 1819. Pada tahun 1839 klenteng ini dilengkapi dengan rumah abu (Kong Tek Su). Sejak itu klenteng ini ini beberapa kali direnovasi tepatnya rentang tahun 1854-1859 dan tahun 1895-1902.




Pada 14 Maret 1970 Ban Hing Kiong terbakar dan menghanguskan seluruh bangunan utama. Setahun kemudian Klenteng ini kembali dibangun menyerupai bangunan sebelumnya. Pada 10 September 1994, lewat upacara sembahyang besar, diresmikan kembali.

Bangunan klenteng ini dipenuhi dengan simbol-simbol mulai dari pintu masuk, luas halaman, bentuk bangunan hingga bagian dalamnya.

Klenteng Ban Hing Kiong juga memiliki dua meriam zaman VOC yang diberikan pemeritah Kolonial Belanda pada tahun 1788. Tak jauh dari Klenteng Ban Hing Kiong, terdapat dua klenteng yakni Klenteng Kwan Kong dan Klenteng Altar Agung.

Penulis: Efge Tangkudung



Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 comment

News Feed