oleh

Permintaan Maaf tak Cukup untuk Pecinta Gorengan

Respon Maruarar Sirait (Ara) terkait beredarnya video penghadangan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan usai pertandingan final turnamen Piala Presiden 2018 pantas dipuji.

Pada awalnya, Ara sempat melakukan self defence dengan mengatakan tak semua pejabat negara harus hadir di lapangan mendampingi Presiden Joko Widodo.

Padahal, suka tak suka harus diakui Anies Baswedan adalah Gubernur DKI Jakarta, tempat turnamen Piala Presiden 2018 digelar. Langkah tersebut justru membuat politisi muda ini dikritik, dihujat bahkan dimaki banyak pihak.

Baca juga: Bung Ara, Jangan Kotori Sepak Bola dengan Politik

Bukan cuma para pendukung Anies Baswedan atau warga Jakarta, Ara ditentang keras para pecinta olahraga. Hal tersebut dinilai tak mencerminkan sportivitas dan fair play dalam olahraga, padahal acara yang baru usai digelar adalah final turnamen sepakbola.

Mereka menganggap sepak bola tak boleh dicampuradukkan dengan politik. Boleh saja ‘dendam lama’ akibat Pilkada DKI Jakarta 2017 masih membara. Namun untuk urusan olahraga, tindakan berbau politis merupakan hal yang sangat diharamkan.

Menanggapi gelombang protes terhadapnya, Ara kemudian menyadari kesalahan dirinya. Dia kemudian tampil gentle dan sportif untuk mengakui kesalahannya.

Ara mengaku bertanggung jawab sepenuhnya atas kejadian tersebut. Dia meminta publik menyalahkan dirinya, bukan kepada pihak Paspampres, Presiden Joko Widodo atau pihak lainnya.

Putra Sabam Sirait ini juga melayangkan permohonan maaf kepada semua pihak yang tersinggung dan tersakiti atas kejadian tersebut.

Langkah Ara jelas membuat banyak orang salut dan kagum. Apresiasi tersebut layak dilayangkan, karena meminta maaf dan bertanggung jawab seperti itu kini sudah langka terjadi di negeri ini.

Kebanyakan elite, terlebih dari kalangan politisi enggan mengakui kesalahan. Mereka memilih membela diri dengan retorika tingkat tinggi, mencari pembenaran meski terlihat janggal dari sisi logika.

NAMUN, permintaan maaf tersebut ternyata tak cukup bagi sebagian orang. Dari kejadian ini terungkap ada kelompok yang terus mencari celah agar bisa mengkritik pihak pemerintah.

Kelompok ‘pecinta gorengan’ ini selalu menggoreng isu sekecil apapun agar ‘matang’ menjadi bahan untuk menyerang dan mendiskreditkan pihak-pihak yang dianggap menjadi musuhnya.

Lihat saja, ketika Ara salah pengucapan ketika menyebut Anies Baswedan sebagai ‘Gubernur Indonesia’. Tindakan sportif nan berani Ara yang tampil mengambil semua tanggung jawab, terlihat tak ada artinya di mata mereka.

‘Keseleo lidah’ tersebut kini juga digoreng untuk dijadikan isu menjatuhkan pihak lain. Beberapa isu lain di waktu yang sama pun mulai dimasukkan ke dalam wajan penggorengan.

Hal ini jelas tak lagi sehat, apalagi menghadapi tahapan Pemilu 2019 yang tak lama lagi. Pihak keamanan nampaknya harus bekerja lebih keras menangkal ‘kreativitas’ kelompok ini.

Kelompok ini awalnya sulit dideteksi, mereka bisa berbaur secara kilat dengan kelompok lainnya. Mereka bisa menunggangi kelompok umat beragama, kelompok ideologi, kelompok pecinta olahraga dan sejumlah komunitas lain.

Tak boleh menuduh memang, namun kelompok tersebut kini mulai terendus, bahkan ada beberapa yang sudah terciduk pihak kepolisian. Parahnya, banyak dari mereka dari golongan terdidik dan pendidik.

Entah apa tujuan utama dari kelompok ini dan siapa juga ‘sutradara besar’ di belakang mereka?

Wallahu A’lam…

Penulis: Efge Tangkudung

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed