oleh

Selain Jokowi Jadi Wartawan, Ini Uniknya HPN 2018

Puncak perayaan Hari Pers Nasional (HPN) 2018 digelar di Padang, Sumatera Barat, Jumat (9/2/2018).

Banyak hal menarik dan unik yang terjadi dalam perayaan Hari Pers Nasional 2018 ini. Sehari sebelum acara puncak, Kamis (8/2/2018) ribuan orang berkumpul di halaman Museum Adityawarman, Kota Padang, Sumatra Barat.

Para tamu, termasuk para wartawan, pejabat dan duta besar diundang untuk menyantap kuliner khas Minang yang ditata di atas jamba. Ada sekitar 300 jamba yang disediakan dalam proses makan bajamba tersebut. Prosesi makan bajamba sendiri disebut memiliki makna khusus bagi orang Minang. Prosesi ini berkaitan dengan proses bermusyawarah mufakat dalam pengambilan keputusan.

Puncak perayaan Hari Pers Indonesia (HPN) 2018 digelar di Danau Cimpago, Pantai Padang, Sumatera Barat, Jumat (8/1/2018). Hal unik terjadi saat sambutan Kepala Daerah Sumatera Barat, yang dibawakan Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno. Kata sambutan tak biasa tersebut dibawakan dalam bentuk pantun, yang memang identik dengan masyarakat melayu.

“Gigi bersih dengan pepsodent, rumput bantu tak lagi berguna, selamat datang Bapak Presiden, di Sumbar rancak bana,” kata Irwan membuka sambutannya.

Selama menyampaikan sambutan dalam bentuk pantun, banyak yang kagum disertai gelak tawa.

“Selalu dicari kuliner rendang, dibawa oleh-oleh untuk dibagi, sudah tiga hari Bapak di Padang, kalau boleh tambahlah sehari lagi,” kata Irwan yang langsung disambut tawa dan tepuk tangan hadirin.

Dia juga memuji kepribadian Presiden Jokowi yang didampinginya selama tiga hari berada di Sumatera Barat.

“Dari Bali hendak ke Banyuwangi, naik ke kapal mobil Soluna, satu hal yang rakyat paling senangi, penampilan Bapak yang sederhana,” kata Irwan.

“Sumbar nagari madani, narkoba dan maksiat selalu diperangi, Bapak Presiden memimpin dengan nurani, rakyat kecil pun tetap Bapak sambangi,” lanjut dia.

Irwan menutup sambutannya, dengan mengajak para tamu untuk menikmati keindahan Sumatera Barat dengan sejumlah tujuan wisata.

“Sudah tinggi rumput ilalang, tidak hanya luas ini terhampar, jangan buru-buru untuk pulang, kunjungi jugalah destinasi di Sumbar,” tutupnya yang disambut tepuk tangan meriah.

Mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut memanggil satu wartawan untuk bertukar peran dengannya. Menurutnya dirinya, sering kaget ketika distop wartawan untuk wawancara dengan pertanyaan kritis. Dia juga ingin merasakan hal sama.

Yusri Nur Raja Alam, wartawan senior dari Surabaya naik ke atas panggung. Dimulailah percakapan layaknya antara Jokowi yang kini menjadi seorang wartawan dan Yusri yang kini menjadi presiden.

“Ya, ada apa, apa yang mau ditanyakan?” buka Yusri kepada .

“Bapak punya menteri 34, menteri mana yang paling penting?” balas Jokowi.

“Semua penting, tapi yang paling penting yang buat presiden nyaman,” timpal Yusri.

“Yang jelas Pak, to the point jangan muter-muter,” tanya Jokowi lagi.

“Menteri yang urusin wartawan. Menteri Kominfo. Supaya semua informasi tersampaikan dari desa hingga ke kota,” kata Yusri.

Jokowi kemudian melancarkan pertanyaan yang lebih sulit.

“Media apa yang menurut presiden menyebalkan?” tanya Jokowi.

“Saya itu paling sebel sama media abal-abal,” kata Yusri.

“Dalam istana, tidak ada media abal-abal, semua jelas dan terdaftar. Jadi sebut saja media apa,” cecar Jokowi.

“Yang paling menyebalkan itu Rakyat Merdeka,” kata Yusri.

“Bapak kok blak-blakan sekali. Kenapa Rakyat Merdeka?” sambung Jokowi usai tertawa sejenak.

“Kalau semua rakyat merdeka itu susah pimpinannya. Pasti tidak semua bisa merdeka, merdeka itu ada aturannya,” jelas Yusri.

Aksi tersebut membuat para hadirin bertepuk tangan. Yusri juga dipersilakan mengambil sepeda.

Penulis: Efge Tangkudung

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed