oleh

Video Pernyataan Kapolri Dipotong dari 26 Menit Jadi 2 Menit

Video pidato Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Tito Karnavian kini ramai beredar.

Dalam video tersebut, ada pernyataan Kapolri yang seolah menafikan ormas Islam lain selain dua ormas besar, Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.

Kapolri Tito Karnavian, sudah mengklarifikasi perihal video tersebut dan menyebutkan video tersebut tidak utuh.

Menurutnya, akibat pemotongan tersebut pesan yang disampaikan tidak utuh.

“Tidak ada sedikit pun niat saya selaku Kapolri, termasuk Polri untuk tidak membangun hubungan dengan organisasi islam di luar NU dan Muhammadiyah,” kata Kapolri di kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Jakarta, Rabu (31/1/2018).

Tito menjelaskan, pidato tersebut dilakukan saat memberi sambutan di pondok pesantren milik Ketua MUI Ma’ruf Amin di Serang, Banten pada Februari 2017.

Dia mengaku heran, video tersebut justru muncul saat ini meski sudah setahun lalu diucapkan.

“Mungkin ada kalimat yang kalau dicerna dua menit itu membuat beberapa pihak kurang nyaman,” jelas Tito Karnavian.

Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Mohammad Iqbal menambahkan, pesan yang disampaikan Kapolri tidak utuh karena vidonya sudah dipotong.

“Video sudah dipotong jadi kalimat tidak utuh, berarti pesan tidak utuh juga, tidak sampai,” katanya.

Menurutnya, justru pidato yang disampaikan pada Februari 2017 lalu bertujuan untuk memperkuat tali silaturahmi dengan semua ormas Islam.

“Ingat, semua (ormas Islam), kecuali ada kelompok yang ingin merongrong NKRI,” kata dia.

Dia menduga, ada pihak yang sengaja memunculkan isu tersebut.

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj usai bertemu Kapolri Tito Karnavian menegaskan masalah potongan video tak perlu diperbesar.

Menurutnya, kalau ada pihak yang memperpanjang pembahasan patut dicurigai punya tujuan tak baik.

“Potongan video pidato Kapolri yang viral itu sudah selesai di sini. Kalau yang ingin mengembangkan itu, berarti ada tujuan tidak baik,” tegasnya.

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesi KH Maruf Amin menyebut pidato Kapolri tak bermaksud untuk mengabaikan ormas Islam selain Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.

“Tak ada maksud untuk menafikan jasa peran ormas lain untuk negara ini. Konteks pidato itu untuk menghadapi radikalisme dan isu khilafah,” katanya.

Diketahui sebelumnya, Wakil Sekjen MUI Tengku Zulkarnain menulis surat terbuka melalui media sosial terkait video tersebut.

Dia menyampaikan protes dan meminta Kapolri meminta maaf. Menurutnya pidato itu tidak etis dan merendahkan jasa ulama di luar dua ormas besar tersebut.

“Mencederai rasa kebangsaan serta berpotensi memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa dan negara Indonesia,” tulisnya.

Dikatakannya juga, pernyataan Tito provokatif, buta sejarah, tidak mendidik,  tidak berkeadilan, dan rawan memicu konflik.

Senada dengan Zulkarnain, Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sohibul Iman juga menyampaikan hal sama. Menurutnya pidato kapolri berbahaya dan bernada provokatif.

“Jika pidato pak Kapolri  itu benar, ini bahaya. Pertama, provokatif karena mempertentangkan NU dan Muhammadiyah dengan Ormas Islam lain. Itu provokasi SARA. Kedua, Ahistoris karena menafikan peran ormas Islam lain dalam perjuangan kemerdekaan NKRI. Itu hate speech,” tulis dia.

Penulis: Efge Tangkudung

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed