oleh

Bagaimana Jika Kotak Kosong yang Menang? Ini Penjelasannya

Dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak tahun 2018, ada beberapa daerah yang akan menyajikan pertarungan antara pasangan calon tunggal dengan kotak kosong.

Pertarungan melawan kotak kosong terjadi pada daerah penyelenggara Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), yang hanya memiliki satu pasangan calon.

Itu berarti hampir semua partai politik yang ada mengusung pasangan calon yang sama. Dengan kata lain dalam kertas suara nanti akan ada dua gambar yakni, gambar pasangan calon tunggal yang diusung partai politik dan gambar kotak kosong.

Baca juga: Ini Perolehan Suara dan Kursi DPR pada Pemilu 2014

Masyarakat yang setuju dengan pasangan calon tunggal tersebut bisa memilih gambar pasangan calon. Sedangkan bagi mereka yang tidak setuju bisa memilih kotak kosong.

Lantas, bagaimana jika kotak kosong yang mendapatkan suara terbanyak dari para pemilih?

Dalam aturan, pasangan calon yang melawan kotak kosong harus mendapatkan suara minimal 50 persen plus satu suara dari jumlah suara yang sah. (Ingat, jumlah suara yang sah).

Jika dalam hasil penghitungan suara, jumlah suara sah yang mencoblos kotak kosong lebih banyak, pasangan calon tunggal akan dinyatakan kalah.

Jika pasangan calon tunggal yang diusung partai politik kalah melawan kotak kosong, maka ditetapkan akan dilakukan Pilkada ulang. Hal itu mengacu pada Undang-undang Nomor 10 Tahun 2016.

Jika pasangan calon kalah, Pilkada ulang akan digelar pada tahun berikut atau menurut jadwal sesuai perundang-undangan.

Menariknya, pasangan calon yang kalah bisa mendaftarkan atau dicalonkan lagi menjadi kontestan dalam Pilkada ulang tersebut.

Jika belum ada kepala daerah baru yang terpilih sedangkan masa jabatan kepala daerah lama sudah habis, maka untuk sementara akan ditugaskan seorang penjabat kepala daerah.

Pertanyaan lain, apakah bisa mengampanyekan kotak kosong dalam pemilihan nanti?

Dalam aturan, tidak ada pelarangan masyarakat yang tak sepakat dengan pasangan calon tunggal yang diusung partai politik untuk berkampanye memilih kotak kosong.

Hal tersebut justru dianggap sebagai cara untuk menciptakan iklim demokratis dalam Pemilihan Kepala Daerah.

Namun yang perlu diingat, tidak boleh ada kampanye hitam untuk menyerang dan mendiskreditkan pasangan calon tunggal. Terlebih dengan ujaran kebencian atau fitnah yang tak bisa dibuktikan kebenarannya, karena itu bisa berujung pidana.

Perlu diingat, kampanye hitam berbeda dengan kampanye negatif. Kampanye negatif diperbolehkan selama menyentil program atau hasil kerja pasangan calon tunggal, terlebih petahana yang sudah bekerja hampir lima tahun.

Baca juga: Ini Jadwal Lengkap Tahapan Pilkada 2018

Dalam Pilkada tahun 2017 lalu, ada sembilan daerah yang memunculkan persaingan pasangan calon tunggal dengan kotak tanpa gambar tersebut.

Kesembilan daerah itu adalah, Kota Tebing Tinggi Sumatera Utara, Kabupaten Tulang Bawang Barat Lampung, Kabupaten Pati Jawa Tengah, Kabupaten Landak Kalimantan Barat, Kabupaten Buton Sulawesi Tenggara.

Selanjutnya ada Kabupaten Maluku Tengah Maluku, Kota Sorong Papua Barat, Kabupaten Tambrauw Papua Barat dan Kota Jayapura Papua.

Hasilnya semua kotak kosong harus mengakui kekalahan dari pasangan calon tunggal. Hampir semua pasangan calon bisa mendapatkan suara lebih dari 70 persen.

Pasangan Karolin Margret Natasa dan Herculanus Heriadi yang bertarung di Kabupaten Landak Kalimantan Barat  bahkan mendapatkan 96,62 persen suara.

Baca juga: Ini arti Parlementiary Threshold dan Presidential Threshold

Yang paling ketat terjadi di Kabupaten Buton Sulawesi Tenggara, ketika pasangan calon tunggal Samsu Umar Abdul Samiun dan La Bakry ‘hanya’ mendapatkan 55,08 persen suara.

Hal unik juga terjadi ketika, Menteri Dalam Negeri, Tjahyo Kumolo sempat mendapatkan data salah dan terlanjur melaporkan kepada Presiden Joko Widodo.

Ketika itu Kumolo mengatakan, pasangan Haryanto dan Saiful Arifin yang bertarung di Kabupaten Pati Jawa Tengah kalah melawan kotak kosong.

Tak lama berselang, Mendagri kemudian meralat dan menyatakan sesuai hasil KPU pasangan tersebut malah unggul 74,51 persen atas kotak kosong.

Penulis: Efge Tangkudung

 

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed