oleh

Waruga, Sarkofagus Historis di Utara Minahasa   

Ketika berkunjung ke Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara ada sebuah situs bersejarah, kumpulan Waruga yang kini jadi tujuan wisata.

Ada tiga lokasi yang dijadikan tempat dikumpulkan sejumlah waruga, yakni Kelurahan Rap-Rap, Kelurahan Airmadidi Bawah dan Desa Sawangan. Namun selain lokasi tersebut, masih banyak lokasi waruga yang tersebar di seluruh wilayah Minahasa.

Waruga merupakan makam leluhur orang Minahasa yang terbuat dari batu. Waruga terdiri dari dua bagian yaitu bagian atas yang berbentuk prisma segitiga dan bagian bawah yang berbentuk kotak.

Baca: Ingin Tahu Arti Marga Minahasa Anda? Baca Ini

Jenazah akan dimasukkan dalam kotak batu yang terbuka bagian atasnya, kemudian ditutup dengan batu berbentuk prisma segitiga.

Penggunaan makam batu seperti waruga mirip dengan beberapa tempat di Indonesia. Sebut saja, sarkofagus yang ditemukan di daerah Bali, Jawa Timur, NTT, kawasan Tomok Sumatera Utara, dan masih banyak lagi.

Namun, posisi jenazah yang dikuburkan dalam waruga agak berbeda dengan sarkofagus di beberapa tempat tersebut. Jenazah di waruga mempunyai posisi yang unik. Tumitnya menempel dengan bagian pantat. Sedangkan kepala mencium lutut. Mirip posisi bayi ketika dalam kandungan.

Jenazah juga akan dihadapkan ke arah utara. Dari beberapa literatur, hal tersebut dilakukan untuk menghormati moyang dari bangsa Minahasa yang berasal dari utara (Mongolia).

Namun dari informasi lain, posisi menghadap utara karena saat itu masyarakat masih menganut animisme. Posisi utara berkaitan dengan Bintang Utara, bintang patokan para petani dan nelayan, pekerjaan yang mayoritas digeluti masyarakat setempat.

Penggunaan waruga diperkirakan mulai digunakan sejak abad ke-9. Ini bisa dilihat dari waruga tertua yang  dibangun tahun 800-an Masehi.

Baca: Kaidipang, Kerajaan Kaya yang Disegani VOC

Waruga bisa berisi lebih dari satu jasad. Bahkan satu keluarga bisa dimakamkan dalam satu waruga. Jumlah orang yang dimakamkan dari waruga bisa dilihat dari garis yang tertera di bangunan waruga.

Bersama jenazah yang dimakamkan, juga sering dimasukkan alat-alat logam yang sangat lekat dengan jenazah sewaktu masih hidup.

Bahkan ada juga yang memasukkan perhiasan dan barang berharga seperti keramik, kalung dan gelang.

Jenazah dalam waruga akan ditempatkan di wadah keramik lebar berbentuk piring. Proses yang terjadi terhadap jenazah adalah pembusukan kemudian terpanggang menjadi abu, karena panas dari batu yang terpapar panas matahari.

Selain jumlah jenazah dalam waruga, ukiran di atas penutup waruga juga bisa menjelaskan pekerjaan jenazah semasa hidup. Ukuran batu waruga juga menjelaskan status sosial, makin besar batunya makin terhormat dalam masyarakat.

Tinggi waruga bervariasi dengan lebar yang proporsional berukuran kotak. Untuk waruga kecil tingginya kurang dari 1 meter. Ukuran sedang berkisar 1-1,5 meter. Sedangkan untuk ukuran besar tingginya sekitar 1,5 -2,5 meter.

Jenis kelamin jenazah pun bisa terlihat dari ukiran di waruga. Posisi jari tangan perempuan dibuat mengepal, sedangkan jemari laki-laki digambar saling mengunci.

Dari relief yang terpahat dan masih bisa teridentifikasi ada beberapa nama dotu seperti Wenas, Karamoy, Kalalo, Tangkudung, Rorimpandey, Mantiri, Kojongian, Rumondor dan beberapa nama lagi.

Baca: Bataha Santiago, Raja Pemberani Penakluk VOC

Yang unik, ternyata ada jenazah warga asing dalam waruga yang ditemukan. Ada warga Portugis, Spanyol dan Jepang yang dimakamkan dalam waruga.

Pertengahan abad 19, Belanda yang waktu itu sudah menduduki Sulawesi Utara mulai melarang penggunaan Waruga.

Mereka khawatir wabah penyakit seperti kolera, tipus dan pes menyebar dari jenazah yang membusuk. Batas antara batu bawah dan atas waruga memang terdapat celah kecil.

Saat itu bangsa Eropa memang masih trauma dengan tragedi Black Death (1347-1351) yang membunuh hingga dua pertiga populasi Eropa. Wabah tersebut terus berlanjut hingga Asia pada abad 19.

Bersamaan dengan itu, agama Kristen mulai menyebar di tanah Minahasa. Sejak tahun 1870, masyarakat akhirnya mulai menggunakan peti untuk menguburkan jenazah di dalam tanah. Sejak itu tak ada lagi penggunaan waruga di Minahasa.

Yang masih menjadi misteri adalah cara pengangkatan batu waktu itu. Berat batu mencapai ratusan kilogram, bahkan untuk waruga ukuran besar mempunyai bobot lebih dari setengah ton. Dari cerita para tetua, batu- batu tersebut dipersiapkan jenazah sewaktu masih hidup.

Hal yang menarik lain, ketika pemindahan sejumlah waruga harus dilakukan ritual yang melibatkan tokoh adat setempat. Hal ini untuk meminta izin dari para leluhur untuk prosesi tersebut.

Dalam sebuah pemindahan waruga tahun 2016, perlu empat kali ritual setelah permohonan. Pemindahan dilakukan karena lokasi sejumlah waruga tersebut masuk ke dalam wilayah pembangunan sebuah proyek nasional.

Saat itu permohonan pertama ditolak, barulah kemudian permohonan kedua diterima. Ritual ketiga adalah menentukan jadwal pemindahan dan yang keempat proses pemindahan yang dilakukan selama beberapa hari. Pernah terjadi ketika pemindahan waruga dilakukan tanpa ritual, terjadi beberapa hal di luar logika. Alhasil pemindahan urung dilakukan.

Baca: Udamakatraya, Bukti Talaud Bagian dari Majapahit

Peninggalan masa megalitikum masyarakat Minahasa tersebut terus mengundang minat wisatawan. Ratu Beatrix dari Belanda bahkan pernah berkunjung ke situs bersejarah tersebut.

Sayang, kini situs bernilai tersebut kurang mendapat perawatan dan publikasi. Parahnya, generasi muda setempat banyak yang abai, bahkan tak tahu lagi sejarah dan nilai yang terkandung dalam waruga tersebut.

Penulis: Efge Tangkudung

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed