oleh

Pelabuhan Bitung, Dibangun Sukarno Diresmikan Fatmawati

Pelabuhan Bitung kini memegang peranan penting dalam perekonomian di Indonesia.

Pelabuhan yang mendapat julukan gerbang utama Indonesia di semenanjung Pasifik perlahan nan pasti terus menunjukkan eksistensinya, melayani arus transportasi penumpang, barang maupun jasa.

Namun, banyak yang tidak mengetahui sejarah pembangunan pelabuhan di ujung utara Sulawesi ini.

Tahun 1949 menjadi tonggak lahirnya pelabuhan Bitung, dimulai sejak ditunjuknya P. Semet sebagai pejabat kepelabuhanan di Bitung sekaligus sebagai pemimpin proyek penyelidikan dan perencanaan pembangunan pelabuhan ini.

Setahun berselang, tepatnya tahun 1950 Wakil Presiden Republik Indonesia saat itu, Mohammad Hatta didampingi Menteri Pekerjaan Umum H. Laoh mengunjungi Pelabuhan Manado.

Baca: Sejarah Manado, Negeri Jauh yang Jadi Metropolis

Hasil kunjungan tersebut, Hatta segera membentuk tim ahli untuk persiapan teknik pembangunan Bitung.




Dia menunjuk  MV. Biro Karpi sebagai pelaksana pembangunan yang dipimpin langsung oleh Menteri PU.

Pada tahun 1953, dimulailah proses pembangunan dermaga di Indonesia timur ditandai dengan proses peletakan batu pertama oleh Presiden Sukarno.

Setahun pengerjaan, proyek tersebut selesai dan resmi digunakan. Pada tahun 1954 pelabuhan Bitung diresmikan oleh ibu negara saat itu, Fatmawati Soekarno.

Sejak saat itu, perlahan dermaga tersebut mulai menjelma menjadi sebuah pelabuhan besar, dilengkapi fasilitas penunjang dan dapat disinggahi oleh kapal-kapal bertonase besar.

Pengelolaan pelabuhan itu dilakukan oleh badan usaha berbentuk Perusahaan Negara (PN). Hingga tahun 1983 terdapat 8 Perusahaan Negara yang mengelola pelabuhan-pelabuhan di Indonesia.

Baca: Selayang Pandang Sulawesi Utara

Kini, pelabuhan yang beralamat di Jalan D. S. Sumolang Kota Bitung, Sulawesi Utara tercatat memiliki empat dermaga.

Empat dermaga tersebut adalah Dermaga Samudera (panjang 607 meter dengan kedalaman sekitar 5 meter), Dermaga Nusantara (panjang 652 meter dengan kedalaman sekitar 6 meter).

Selanjutnya ada Dermaga Kontainer (terbagi dua, Dermaga VIII dengan panjang 182 meter dan kedalaman 20 meter, Dermaga IX dengan panjang 60 meter dan kedalaman 10 meter) dan Dermaga Kering (digunakan untuk perbaikan dibawah 100 ton).

Selain kawasan pelabuhan yang menjadi landmark Kota Bitung, terdapat 3 pelabuhan lain yaitu Pelabuhan Ferry, Pelabuhan Perikanan Samudera dan Pelabuhan Angkatan Laut.

Kawasan pelabuhan yang awalnya merupakan desa nelayan ini juga dikenal memiliki lokasi yang begitu eksotis, karena berada di Selat Lembeh dengan pemandangan Pulau Lembeh dan Gunung Dua Saudara.




Sejalan dengan kebijakan baru tatanan pelabuhan nasional pada tahun 1983, kedelapan Perusahaan Negara tersebut digabungkan dan menjadi 4 badan usaha baru berstatus Perusahaan Umum (Perum) I-IV.

Pelabuhan Samudera Bitung berdasarkan pada Peraturan Pemerintah (PP) No. 17 Tahun 1983 yo PP. No. 7 Tahun 1985, masuk dalam pengelolaan Perum IV, hasil dari penggabungan PN V, VI, VII dan VII.

Tahun 1992 pengelola Pelabuhan Bitung kembali berganti status dari Perum menjadi Persero (PT) berdasar PP. 59 Tahun 1991, dan resmi berubah nama menjadi PT. Pelabuhan Indonesia IV (Pelindo IV) pada tanggal 1 Desember 1992.

Pelabuhan Bitung saat ini masuk dalam grand design International Hub Port (IHP) dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), berdasar Perpres Nomor 26/2012 tentang Cetak Biru Kebijakan Pembangunan Sistem Logistik Nasional,

Yang membanggakan, Pelabuhan Bitung dijadikan salah satu dari 2 simpul laut internasional bersama dengan Pelabuhan Kuala Tanjung di Sumatera Utara.

Pelabuhan Bitung pernah membuka akses untuk transportasi kapal penumpang PELNI hingga bagian barat Indonesia yaitu Pelabuhan Belawan di Sumatera Utara dan Pelabuhan Teluk Bayur di Sumatera Barat.

Pada tahun 2030 mendatang, pelabuhan ini ditargetkan memiliki kapasitas hingga 2,3 juta TEUs (Twenty-foot Equivalent Unit, merupakan satuan kapasitas kargo-peti kemas) pertahun.

Saat ini kapasitas Pelabuhan Bitung sekitar 300 ribu TEUs dan tahun 2019 ditergetkan naik menjadi 1,5 juta TEUs pertahun.

Percepatan pembangunan pelabuhan hingga tahun 2019 ini tertuang dalam Perpres No. 2/2015 tentang RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional) 2015-2019.

Sebagai gambaran, Pelabuhan Tanjung Priok sebagai pelabuhan terbesar di Indonesia memiliki kapasitas 7 juta TEUs pertahun, dan negara Singapura yang menempati posisi pertama sebagai pelabuhan terbesar di dunia memiliki kapasitas 23 juta TEUs.




Dari informasi, nama pelabuhan Bitung sempat diusulkan diberi nama Pelabuhan AB Lapian.

Nama ini diambil dari putra Gubernur kedua Provinsi Celebes, yang juga Pahlawan Nasional RI, Bernard Willem Lapian.

Baca: Bernard Lapian, Si Kritis Pendobrak Tirani Kolonial

AB Lapian dinilai sebagai tokoh besar dalam sejarah kemaritiman, laut dan bahari di Asia Tenggara.

Namun, belum diketahui usulan tersebut diterima atau ditunda oleh pemerintah dan DPR.

Penulis: Fathur Ridho/ Efge Tangkudung



Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed