oleh

Udamakatraya, Bukti Talaud Bagian dari Majapahit

Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara ternyata merupakan bagian dari Kerajaan Majapahit di masa lampau.

Saat itu, kepulauan paling utara di Indonesia ini dikenal dengan nama Udamakatraya.

Hal itu tertulis dalam kitab Negarakertagama, kitab kuno yang dinobatkan UNESCO sebagai salah satu warisan dunia.

Kitab ini merupakan karya sastra yang lahir pada zaman Kerajaan Majapahit saat diperintah raja keempat, Hayam Wuruk (1350-1389), yang bergelar Maharaja Sri Rajasanagara.

Baca: Selayang Pandang Sulawesi Utara

Kitab Negarakertagama merupakan karya termasyhur pujangga sastra terkenal saat itu, Mpu Prapanca yang ditulis tahun 1365.

Kitab ini merupakan kakawin Jawa kuno yang banyak menceritakan masa kejayaan Kerajaan Majapahit pada abad ke-13.

Dalam kitab tersebut, pada pupuh 14.4 terdapat kata ‘Udamakatraya’. Transkrip tersebut jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berbunyi  :

“Pulau Gurun, yang juga biasa disebut Lombok Mirah, dengan daerah makmur Sasak diperintah seluruhnya, Bantayan di wilayah Bantayan beserta Kota Luwuk, sampai Udamakatraya dan pulau lain-lainnya tunduk,”

Dalam kitab ini terdapat 97 pupuh ini, pada Pupuh 13, 14 dan 15, menjelaskan secara rinci wilayah Nusantara yang terdiri dari Hasta Mandala Dwipa (delapan kawasan pulau atau kepulauan).

Wilayah Udamakatraya sendiri masuk ke dalam Mandala VI.

Dr. Theodore G.T. Pigeaud (1899-1988) seorang ahli berkebangsaan Belanda pernah melakukan studi khusus mengenai Negarakertagama.

Dalam bukunya yang berjudul ‘Java in the 14th Century: A Study in Cultural History’ (tahun 1960), Pigeaud menulis Uda Makatraya berarti tiga pulau besar di Kepulauan Talaud.

Para ahli sejarah sepakat, tiga pulau besar yang dimaksud tersebut adalah Pulau Karakelang, Pulau Salibabu dan Pulau Kabaruan.

Hal tersebut ternyata memang diperkuat beberapa bukti peninggalan sejarah.

Baca: Gugusan Nusa Utara, Surga di Beranda Indonesia

Kompleks Makam Raja-raja Porodisa yang terletak di Desa Bannada, Kecamatan Gemeh adalah salah satu bukti Kepulauan Talaud pernah terdapat Kerajaan Majapahit.

Kompleks makam yang menjadi cagar budaya ini terdapat Monumen Silsilah Porodisa Yupung Tanani yang dibangun untuk mengenang dan melestarikan nilai sejarah leluhur masyarakat Porodisa.

Selain itu, Sekolah Menengah Atas (SMA) yang terletak di Desa Bannada, Kecamatan Gemeh, Kabupaten Kepulauan Talaud, menggunakan nama Udamakatraya.

Ini jelas menandakan kebanggaan pemerintah dan masyarakat setempat pernah menjadi bagian dari kerajaan Hindu-Budha terakhir dan terbesar yang menguasai Nusantara tersebut.

Bukan hanya itu, beberapa hal yang ada di Talaud dan kepulauan sekitarnya menunjukkan kedekatan nilai budaya dengan Jawa dan Hindu.

Hal itu terlihat seperti adanya gong atau sejenisnya mirip budaya Hindu/Jawa yang ditemukan di Talaud dan sekitarnya.

Bentuk kue adat Tamo pun sangat mirip bentuknya dengan model nasi Tumpeng di Jawa.

Begitu juga dengan ritual khusus yang dulu dilakukan sebelum perayaan Tulude, mirip dengan tradisi Larung Laut di Jawa.

Baca: Tulude, Warisan Leluhur Nusa Utara yang Sarat Makna

Belum lagi, Paporong yang digunakan masyarakat di Nusa Utara mirip dengan kain ikat kepala yang digunakan di Bali dan Jawa.

Sayang, kini tak lagi banyak literatur atau bukti sejarah otentik yang bisa menjelaskan gamblang hal tersebut.

Diketahui, Kepulauan Talaud baru ‘bersatu’ dengan Kepulauan Sangihe sekitar abad 18. Itu terjadi setelah kepulauan tersebut ditemukan Bangsa Belanda.

Kepulauan Sangihe sebelumnya disebutkan lebih memiliki kedekatan dengan Kesultanan Ternate yang juga pada waktu itu merupakan kerajaan kesohor di Nusantara bagian timur.

Kedua kepulauan tersebut akhirnya menjadi satu wilayah pemerintahan sejak kemerdekaan Indonesia.

Wilayah ini kemudian menjadi Daerah Tingkat II (Dati II) Sangihe Talaud dan tergabung dalam pemerintahan Provinsi Sulawesi Utara sejak tahun 1964.

Kini Sangihe Talaud sudah dimekarkan menjadi tiga wilayah pemerintahan, yakni Kabupaten Kepulauan Sangihe, Kabupaten Kepulauan Talaud dan Kabupaten Kepulauan Sitaro.

Penulis: Fathur Ridho/ Efge Tangkudung

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed