oleh

Gugusan Nusa Utara, Surga di Beranda Indonesia

Pembangunan daerah perbatasan atau daerah terdepan Indonesia, saat ini mengalami peningkatan yang cukup pesat.

Hal ini sesuai komitmen pemerintah menjadikan daerah perbatasan sebagai beranda Indonesia atau etalase terdepan negara.

Selain bertujuan untuk mewujudkan sila ke-5 dalam Pancasila, yaitu Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia, juga untuk menciptakan rasa aman dan nyaman di setiap jengkal wilayah Republik Indonesia agar kedaulatan NKRI tetap terjaga.
Provinsi Sulawesi Utara adalah salah satu provinsi yang memiliki “frontiers” (zona batas dua negara) di wilayah utara Indonesia.

Wilayah ini terdapat garis batas Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) antara Indonesia dan Filipina sepanjang 1.161,13 km.

Sebagai sebuah provinsi yang memiliki gugusan kepulauan di sebelah utaranya, menjadikan Sulawesi Utara memiliki 3 kabupaten kepulauan yaitu Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Kabupaten Kepulauan Sangihe dan Kabupaten Kepulauan Talaud.

Bataha Santiago, Raja Pemberani Penakluk VOC

Ketiga kabupaten kepulauan ini didominasi oleh wilayah perairan, dengan luas perairan mencapai 53.426,61km2, dan 2253,24 km2 adalah total dari luas pulau-pulau (kurang lebih terdapat 200 pulau) di kawasan yang sering disebut Nusa Utara ini.

Awalnya, tiga kabupaten ini masih bergabung dengan nama Kabupaten Sangihe Talaud.

Daerah ini dikenal dengan hasil perkebunannya antara lain kelapa, cengkeh, pala, dan coklat, dimana komoditi pala sudah terkenal dan diakui dunia merupakan primadona kawasan.

Kawasan ini juga memiliki sejumlah tempat wisata indah bak surga yang belum terjamah. Banyak turis yang berkunjung langsung jatuh cinta pada pandangan pertama.

Tengok saja, objek wisata alam Gunung Karangetang, Danau Makalehi, Pemandian air panas Lehi, Danau Kapeta, Pantai Lanage, Pantai Taman Laut Balirangen. Itu masih sebagian kecil keindahan yang ada di gugusan Nusa Utara.

Tiga kabupaten tersebut kini mulai mendapat sentuhan pemerintah, hal yang lama tak pernah dirasakan, bahkan sejak republik ini menyatakan kemerdekaannya.

SITARO
Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), adalah kabupaten termuda di wilayah nusa utara hasil pemekaran dari Kabupaten Sangihe pada tahun 2007.

Nama Siau Tagulandang Biaro (Sitaro) sendiri diambil dari nama 3 pulau terbesar di kabupaten ini, yaitu pulau Siau, pulau Tagulandang dan pulau Biaro.

Kabupaten ini memiliki 47 buah pulau besar dan kecil dengan luas keseluruhan pulau mencapai 275,86 km2, dan luas perairannya mencapai 4.500 km2, Beribukota di Ondong Siau, kabupaten Sitaro terbagi atas 10 Kecamatan, 4 Kelurahan, dan 80 Desa, dengan jumlah penduduk mencapai 65.827 jiwa (2016).

Kabupaten ini memiliki 5 gunung yaitu Gunung Karangetang (1.784 mdpl), Gunung Dalage (1.165 mdpl), Gunung Kolongan (1.158 mdpl), dan Gunung Tamata (1.134) mdpl) di pulau Siau, serta Gunung Ruang (714 mdpl) di depan pulau Tagulandang.

Adapun Gunung Karangetang tercatat sebagai salah satu gunung api teraktif di Indonesia. Gunung yang memiliki nama lain yaitu Gunung Api Siau ini tercatat sejak tahun 1675 sudah meletus sebanyak lebih dari 40 kali.

Siladen dan Lembeh, Destinasi Selam Terbaik Dunia

Hal ini menjadikan Kabupaten Sitaro memiliki tanah yang subur untuk pertanian dan perkebunan, dimana salah satu hasil perkebunannya yaitu pala sangat terkenal di penjuru dunia.

Untuk akses dari Kota Manado menuju Kabupaten Sitaro masih menggunakan jasa angkutan laut yang memakan waktu selama kurang lebih 6-8 jam.

Bandar udara yang bisa mempersingkat waktu tempuh masih dalam proses pengerjaan dan direncanakan akan selesai pada tahun 2018.

SANGIHE
Kabupaten Kepulauan Sangihe adalah hasil dari pemekaran Kabupaten Kepulauan Sangihe dan Talaud pada tahun 2002.

Pada tahun 2007 kabupaten ini kembali dimekarkan dimana kepulauan Siau, Tagulandang dan Biaro menjadi kabupaten sendiri.

Kabupaten Kepulauan Sangihe terdiri dari 105 pulau besar dan kecil dengan luas keseluruhan daratan mencapai 736,98 km2, dan perairannya seluas 11.126.61 km2. Beribukota di Tahuna, kabupaten yang memiliki semboyan “Somahe Kai Kehage” ini terbagi atas 15 Kecamatan, 22 Kelurahan, dan 145 Desa, dengan jumlah penduduk sebesar 130.024 jiwa (2016).

Tak berbeda dengan kabupaten Sitaro serta wilayah Sulawesi Utara lainnya, kabupaten yang memiliki kisah heroik Raja Bataha Santiago pada abad ke-17 ini, juga memiliki beberapa gunung yang menghiasi wilayahnya. Gunung Awu (1.320 mdpl) dan Gunung Kakiralong (1.002 mdpl) di Tahuna, Gunung Sandaruman (1.046 mdpl) di Tamako, dan Gunung Banua Wuhu (5 meter dibawah permukaan laut) di Tatoareng, menjadikan kabupaten ini termasuk wilayah yang subur.

Adapun akses yang dapat ditempuh dari Kota Manado menuju Tahuna, bisa menggunakan transportasi udara dan laut. Dimana perjalanan dengan menggunakan pesawat terbang dari Bandara Sam Ratulangi menuju Bandara Naha memakan waktu sekitar 45 menit.

Jika menggunakan perjalanan laut dari Pelabuhan Manado menuju Pelabuhan Tahuna dengan menggunakan kapal laut memakan waktu sekitar 7-9 jam.

TALAUD

Kabupaten Kepulauan Talaud adalah kabupaten terbesar di wilayah nusa utara dengan luas keseluruhan pulau mencapai 1.240,40 km2, serta luas perairannya mencapai 37.800 km2.

Kabupaten Kepulauan Talaud merupakan kabupaten hasil dari pemekaran Kabupaten Kepulauan Sangihe dan Talaud pada tahun 2002.

Kabupaten yang terdiri dari 20 pulau besar dan kecil ini, terdiri dari 19 Kecamatan, 11 Kelurahan, dan 142 Desa, dengan jumlah penduduk sebanyak 89.836 jiwa (2016). Adapun kabupaten paling utara di Indonesia ini beribukota di Melonguane yang terletak di pulau Karakelang.

Wilayah Talaud sendiri memiliki nama lain saat Kerajaan Majapahit berdiri yaitu Udamakatraya, menandakan Kepulauan Talaud memiliki sejarah peradaban yang panjang di bumi Nusantara.

Udamakatraya, Bukti Talaud Bagian dari Majapahit

Akses transportasi menuju kabupaten Kepulauan Talaud dapat menggunakan kapal laut yang membutuhkan waktu kurang lebih 10-12 jam dari Manado, dan menggunakan pesawat terbang yang membutuhkan waktu sekitar 1 jam dari Manado menuju Bandara Melonguane.

Bahkan jika ingin menuju gerbang paling utara Indonesia yaitu Pulau Miangas, saat ini bisa ditempuh dengan menggunakan pesawat terbang dengan waktu tempuh sekitar 35 menit dari Melonguane.

Ini merupakan realisasi dari Presiden Joko Widodo dengan meresmikan bandar udara Miangas pada tanggal 19 Oktober 2016 sebagai bentuk keseriusan pemerintah dalam membangun daerah-daerah terdepan Indonesia menjadi etalase negara yang dikagumi bangsa sendiri dan disegani bangsa lain.

Saat Presiden berkunjung ke Miangas, ada hal unik ketika Jokowi membasuh mukanya dengan air laut di Pantai Miangas.

Dari cerita, siapapun yang membasuh wajah dengan air laut Miangas pasti akan kembali ke daerah tersebut.

Hal tersebut sempat dibisikkan Gubernur Sulawesi Utara, Olly Dondokambey ketika mendampingi Presiden Jokowi dalam kunjungan kerjanya tersebut.

Penulis : Fathur Ridho

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed