oleh

Tugu di Pusat Kota, Mengenang Kehebatan Batalyon Worang

Bagi masyarakat Sulawesi Utara yang sering berbelanja di pusat kota kawasan pasar 45, pasti tak asing dengan patung ini.

Namun sayang, banyak dari masyarakat Sulawesi Utara kini tak tahu makna dari patung yang berdiri tepat berhadapan dengan pintu masuk Jumbo pasar swalayan ini.

Patung ini merupakan tugu peringatan pendaratan Batalyon Worang pada bulan Mei 1950 dengan misi untuk mencegah Sulawesi Utara bergabung dengan Negara Indonesia Timur (NIT) dan pengaruh NICA.

Masa itu, pasca kemerdekaan Indonesia tahun 1945, kondisi Indonesia Timur masih bergejolak.

Banyak muncul pemberontakan lokal yang tak setuju dengan kebijakan pusat. Apalagi saat itu, pasukan KNIL masih menguasai kawasan Indonesia Timur.

Batalyon Worang merupakan pasukan di bawah Markas Besar Angkatan Darat, yang bernama Batalyon B pada Brigade 16 TNI AD.

Pasukan ini lebih dikenal dengan nama Batalyon Worang karena dipimpin Mayor Hein Victor Worang dengan tugas ke beberapa daerah di Indonesia Timur seperti Manado, Makassar dan Maluku Selatan untuk mempertahankan keutuhan negara kesatuan RI dari gerakan separatis.

Baca: John Lie, Pelaut China-Manado yang Jadi Pahlawan Nasional

Hein Victor Worang (Kembie) yang dilahirkan di Tontalete, Tonsea, Minahasa Utara, 12 Maret 1919 pernah menjabat sebagai Gubernur Sulawesi Utara periode 2 Maret 1967- 21 Juni 1978.

Worang merupakan putra Sulut pertama yang mendapatkan pangkat Jenderal TNI AD bintang satu dan bintang dua. Ini diperolehnya pada Januari 1965 dan Juli 1971.

Worang meninggal di Jakarta pada tanggal 3 Februari 1982 dan dimakamkan di Tontalete, Minahasa Utara.

Dalam tugu peringatan mendaratnya Batalyon Worang, terlihat ada tujuh orang memanggul senjata yang sedang berdiri.

Hal itu melambangkan Batalyon Worang yang terdiri dari tujuh kompi masing-masing, Kompi Yuus Somba, Kompi Utu Lalu, Kompi Wim Tenges, Kompi Wuisan, Kompi Andi Odang, Kompi John Ottay, dan Kompi Wim Yoseph (Kompi Markas)  dengan Kepala Staf Batalyon Kapten Rory. Pasukan Batalyon Worang waktu itu berjumlah sekitar 1.100 orang.

Saat mendarat di Manado, Komando KNIL saat itu tidak memberikan perlawanan ketika Batalyon Worang hendak menguasai Sulawesi Utara.

Padahal saat itu, tentara KNIL Sulawesi Utara/Troepen Commando Noord Celebes yang mempunyai satu Batalyon Infantri, satu Kesatuan Reserve Korps KNIL, dinas PHB, polisi Militer dan kesatuan logistik.

Mungkin mereka gentar dengan kekuatan Batalyon ini yang sukses mengambilalih Kota Makassar.

Sebelum mendarat di Manado, Batalyon Worang ditugaskan meredakan pemberontakan Andi Azis di Makassar. Saat itu pasukan Worang sempat bekerjasama dengan satuan TNI di bawah pimpinan Kolonel Alex Kawilarang.

Batalyon Worang yang dilarang mendarat di Makassar, terpaksa mendarat di Jeneponto. Monumen pendaratan batalyon Worang juga berdiri di di perempatan Jl Belokallong, Jeneponto.

Monumen ini berdiri pada tahun 1976, untuk mengenang pendaratan pasukan TNI-AD Batalyon Worang yang mendarat di Pantai Ujung Loe, Kecamatan Binamu, Jeneponto.

Selepas menguasai Manado, Batalyon Worang dikirim untuk operasi militer meredakan pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS).

Dalam setiap misinya, Batalyon Worang sukses meredakan pemberontakan lokal yang disusupi para anggota KNIL dan berhasil melucuti senjata mereka.

Worang kemudian menjadi Gubernur Sulawesi Utara pada Maret 1967. Worang memegang tampuk kepemimpinan Provinsi Sulut lebih dari satu dasawarsa atau tepatnya 11 tahun 3 bulan.

Baca: Daftar Gubernur Sulawesi Utara dari Masa ke Masa

Saat menjabat Gubernur Sulawesi Utara, Worang sempat ditentang dan berusaha diusir oleh pelopor Corps Tuhanura yang  terkenal dengan Peristiwa 2 September 1968.

Worang juga dikenal berhasil membawa Sulut melewati krisis pasca pergolakan Permesta. Worang berhasil membangun ribuan km jalan aspal hingga meningkatkan kesejahteraan lewat perkebunan cengkih dan kopra.

Penulis: Efge Tangkudung

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed