oleh

Tulude, Warisan Leluhur Nusa Utara yang Sarat Makna

Sekelompok anak muda tampak begitu bersemangat mengikuti tarian Masamper yang dikomandoi seorang tetua adat. Mereka tampak kaku dan kurang menguasai lagu yang dibawakan dibanding dengan generasi di atas mereka.

Meski begitu, mereka terlihat gembira mengikuti irama nyanyian tersebut. Maklum, generasi sekarang lebih familiar dengan goyangan disco atau irama boyband Korea.

“Nilai budaya asli leluhur harus tetap dilestarikan oleh kami sebagai generasi muda,” ucap Gian Thomas, mahasiswa semester 3, Unsrat Manado.

Tarian Masamper ini adalah sebuah seni menyanyi dan menari khas masyarakat Nusa Utara (Kepulauan Sitaro, Sangihe dan Talaud), Sulawesi Utara.




Tari Masamper yang dibawakan oleh kelompok penari sekaligus penyanyi tersebut menjadi bagian dari acara Tulude.

Dari terminologi kata, Tulude atau Menulude berasal dari kata Suhude yang berarti tolak. Secara umum dapat diartikan menolak/melepas tahun yang lama dan menerima tahun yang berjalan.

Perayaan Tulude ini mirip dengan budaya pengucapan di Minahasa, sebagai ungkapan syukur terhadap Mawu Ruata Ghenggona Langi (Tuhan Yang Maha Kuasa).

Ungkapan syukur ini untuk segala berkat di tahun yang telah lewat dan memohon limpahan rezeki, kesehatan dan perlindungan di tahun yang akan dijalani.

Baca: Pengucapan, Tradisi Minahasa yang Kaya Pesan Moral

Upacara ini merupakan hajatan tahunan warisan para leluhur masyarakat Nusa Utara yang  telah berabad-abad dilaksanakan.

Sebelum agama masuk, Upacara Tulude diawali dengan ritual khusus di tepi pantai untuk mendorong sebuah perahu kecil yang diisi muatan tertentu, termasuk perhiasan ke tengah laut.




Perahu ini kemudian dilepas oleh tokoh adat ke tengah laut sebagai persembahan. Prosesi ini simbol menolak bencana di tahun yang akan dilalui.

Ketika agama masuk ke wilayah Nusa Utara pada abad ke-19, prosesi animisme seperti itu secara perlahan terkikis karena dianggap sesuatu yang mubazir.

Memasuki acara Tulude, akan dibuat kue adat tamo di rumah seorang tokoh adat.

Kue tamo adalah penganan yang dibuat dari beras ketan dicampur dengan gula merah dan santan lalu dibentuk kerucut seperti nasi tumpeng.

Bagian puncak kue tamo akan dihiasi kertas berwarna-warni berbentuk panji atau bendera. Kue tamo sebagai hidangan inti ini sebagai simbol penghargaan tertinggi untuk para tamu.

Sebelum acara pemotongan kue tamo, akan ada tari-tarian pasukan pengiring seperti Tari Gunde, Tari Salo, Tari Kakalumpang, Tari Empat Wayer dan Tarian Masamper.

Acara inti dimulai ketika pemimpin upacara menetapkan tokoh adat yang akan memotong kue adat tamo, dilanjutkan ucapan doa keselamatan.

Barulah kemudian seluruh warga yang hadir diundang bersama para tokoh dan pimpinan daerah untuk beracara Saliwangu Banua (pesta rakyat makan bersama).

Baca: Selayang Pandang Sulawesi Utara

Dari informasi, beberapa abad lalu Tulude dilaksanakan oleh para leluhur setiap tanggal 31 Desember. Namun waktu tersebut akhirnya diundur karena kesibukan menghadapi perayaan Natal dan Tahun Baru.

Pada tahun 1995, DPRD dan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe-Talaud, menetapkan 31 Januari sebagai Hari Ulang Tahun Kabupaten Sangihe Talaud dengan acara inti upacara Tulude.

Ketika perayaan Tulude di Nusa Utara, beberapa tokoh akan diberikan gelar adat. Mereka juga akan didoakan karena dinilai memberikan kontribusi positif untuk kemajuan Nusa Utara.

Kini, perayaan Tulude bukan hanya dilaksanakan di tanah asal namun dilaksanakan di semua perkampungan Nusa Utara di Sulawesi Utara atau Indonesia.

Penulis: Efge Tangkudung



Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed