oleh

Arie Lasut, Ahli Geologi Rebutan Jepang dan Belanda

Peringatan Hari Pertambangan dan Energi Indonesia yang diadakan setiap tanggal 28 September, mengingatkan Bangsa Indonesia kepada seorang Pahlawan Pembela Kemerdekaan.

Dialah Arie Frederik Lasut, putra kawanua yang lahir pada 6 Juli 1918 di Kapataran, Lembean Timur Minahasa.

Arie dikenal ahli dalam bidang pertambangan dan geologi. Keahliannya yang tiada duanya, menjadikannya rebutan dua negara, Belanda dan Jepang saat pecahnya Perang Dunia ke-2.

Arie merupakan tokoh pertambangan dan geologi generasi awal yang dimiliki Republik ini. Arie menjabat Kepala Pertambangan dan Geologi Indonesia yang pertama.

Baca: Alex Kawilarang, Pendiri Kopassus yang Dibenci Soeharto

Memulai pendidikan dan ikatan dinas di Dienst van den Mijnbouw (Jawatan Pertambangan, selanjutnya menjadi Jawatan Tambang dan Geologi) pada tahun 1939, Arie sukses meniti karir sebagai tenaga ahli geologi dan pertambangan yang membuat namanya diakui karena kemampuannya.

Ketika pecahnya perang Asia-Pasifik (1941-1945) antara Jepang melawan pihak Sekutu, Arie mendapat pelatihan militer CORO (Corps Reserve Officieren) dari pihak Belanda yang saat itu tergabung dalam faksi Sekutu, dan sempat terlibat pertempuran melawan tentara Jepang di Ciater, Jawa Barat.

Saat Belanda mengaku kalah dan menyerahkan kekuasaan pada 8 Maret 1942 kepada pihak Jepang, Dients van den Mijnbouw langsung diambil alih oleh pihak Jepang dan diubah namanya menjadi Chisitsu Chosajo.

Arie tetap dapat kembali bekerja di jawatan tersebut, bahkan bersama R. Sunu Sumosusastro, Arie diberi posisi dalam jawatan sebagai asisten (jabatan tertinggi yang bisa diperoleh oleh putra pribumi di jawatan tersebut). Mereka berdua yang diakui sebagai ahli pertambangan Indonesia saat itu, bersama seluruh pekerja Indonesia di jawatan itu tetap bersinergi mendalami studi geologi dan tambang di Indonesia, yang kelak hasil rintisan mereka ini membawa banyak manfaat dikemudian hari.

Sesudah Sukarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, Sukarno yang terpilih menjadi Presiden Indonesia pertama langsung bergerak cepat menginstruksikan mengambil alih instansi-instansi pemerintahan dari pihak Jepang.

Arie Lasut bersama-sama dengan rekannya di Chisitsu Chosasho yaitu R. Sunu Sumosusastro, Raden Ali Tirtosuwiryo dan Sjamsu M. Bahrum, pada tanggal 28 September 1945 memimpin pengambil alihan Jawatan Geologi tersebut dari pihak Jepang secara damai. Setelah penyerahan oleh pihak Jepang, kantor jawatan tersebut namanya diubah menjadi Pusat Jawatan Tambang dan Geologi.

Arie F. Lasut yang saat itu berusia 27 tahun kemudian diangkat menjadi Kepala Jawatan Tambang dan Energi, sosoknya yang diakui cerdas, berpengalaman, tekun, memiliki jiwa patriotik serta semangat kebangsaan yang tinggi, dianggap mampu untuk mengelola dan mengembangkan instansi penting ini.

Perjuangan bangsa Indonesia meraih impian sebagai suatu negara yang berdaulat setelah proklamasi kemerdekaan tahun 1945, masih akan melalui jalan panjang dikarenakan kembalinya pihak Belanda yang ingin menguasai tanah pertiwi ini.

Baca: Bote Monginsidi, Setia Hingga Akhir Dalam Keyakinan

Arie Lasut sebagai penanggung jawab jawatan penting dalam pengelolaan kekayaan alam, tentunya tidak mau kekayaan alam yang dimiliki Indonesia jatuh kembali ke tangan Belanda. Arie yang terkenal cerdas segera mengatur rencana untuk menyelamatkan dokumen tambang dan geologi yang di dalamnya termuat kekayaan bangsa dan negara Indonesia.

Beberapa kali kantor jawatan yang dipimpinnya berpindah dari Bandung ke Tasikmalaya, Magelang dan Yogyakarta, untuk menghindari perampasan oleh pihak Belanda yang saat itu diboncengi oleh NICA (pihak Sekutu yang dikenal dengan istilah Agresi Militer Belanda).

Dalam masa-masa perjuangan tersebut, Arie yang memiliki semangat memajukan  generasi muda bangsa sempat mendirikan Sekolah Pelatihan Geologi. Arie juga aktif dalam organisasi Kebaktian  Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS) yang memiliki tujuan untuk membela kemerdekaan Indonesia, serta menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (awal mula Dewan Perwakilan di Indonesia).

Ada satu kisah saat Arie menjadi anggota ahli delegasi Republik Indonesia yang dipimpin oleh Mr. Mohammad Roem dalam Perundingan Linggarjati (11-15 November 1946), Arie berhadapan dengan bekas gurunya yaitu Prof. Ir. Achersdijk.  Acherdijk yang mengetahui Arie pernah menjadi anak didiknya, berusaha untuk menekan Arie dan memaksakan keinginan pihaknya. Arie dengan semangat nasionalismenya mengatakan, ia mewakili Negara Republik Indonesia yang sederajat dengan negara-negara lain.

Saat gencar-gencarnya pihak Belanda melakukan agresi militer untuk mengambil alih kembali bumi pertiwi Indonesia, Arie juga tidak luput menjadi sasaran pihak Belanda. Belanda mengincar Arie karena pengetahuan dan kemampuannya dalam pertambangan dan geologi Indonesia.

Saat Kantor Jawatan Pertambangan berada di Yogyakarta, perjuangan Arie sungguh dirasa berat dikarenakan pada tanggal 19 Desember 1948, Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda. Saat itu juga Arie dalam pengawasan tentara Belanda, sementara ia tetap bertanggung jawab melindungi dan memimpin para pegawainya. Arie juga baru saja memiliki seorang anak perempuan yang masih kecil sementara istri tercintanya sudah mendahului Arie menghadap Sang Pencipta.

Pada tahun 1949, pihak Belanda melalui Prof. Ir. Achersdijk dan Prof. Buurman, pernah menghubungi Arie dan membujuknya untuk mau bergabung dan bekerjasama dengan pihaknya, karena mereka mengetahui Arie menyimpan dokumen penting tentang pertambangan di Indonesia.

Mereka mengatakan Republik Indonesia tidak lama lagi akan berakhir dalam kancah politik dan akan segera menyerah kepada Belanda. Namun, Arie F. Lasut dengan jiwa nasionalisme bergeming menolak bekerjasama dengan Belanda.

“Kalau Pemerintah Republik Indonesia memerintahkan saya untuk bekerjasama dengan Tuan-tuan, maka saya akan mematuhinya demi pemerintah dan rakyat Indonesia,” kata Arie dengan keteguhan hatinya.

Pihak Belanda yang marah atas keteguhan hati Arie Lasut, segera memerintahkan Dinas Rahasia Belanda (Inlichtingen Veiligheids Groep atau IVG) segera mengirimkan perintah lewat radiogram ke Yogyakarta pada tanggal 7 Mei 1949 jam 9 pagi, yang isinya Arie F. Lasut harus dihilangkan.

Tak sampai satu jam, serdadu KNIL langsung mendatangi rumah Arie Lasut dan langsung membawa Arie menuju Pakem, Sleman Yogyakarta. Pukul 10 pagi tanggal 7 Mei 1949, Arie menghembuskan nafas terakhir pada usia 30 tahun, setelah ditembak mati oleh pihak musuh karena Arie tetap memegang teguh dan merahasiakan dokumen pertambangan dan geologi Indonesia.

Baca: John Lie, Pelaut China-Manado yang Jadi Pahlawan Nasional

Beberapa bulan kemudian jenazah Arie F. Lasut dipindahkan berdampingan dengan almarhumah istri tercintanya di Pekuburan Kristen Yogyakarta.

Pada tanggal 20 Mei 1969, melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia No.012/TK/TAHUN 1969, Arie Frederik Lasut mendapat penghargaan Pahlawan Pembela Kemerdekaan.

Keteladanan Arie F. Lasut mengajarkan generasi penerus bangsa untuk selalu memiliki jiwa pantang menyerah, tekun dalam berkarya, dan terus berpikiran maju untuk kemajuan bangsa dan negara tercinta Indonesia.

Biodata :

Nama: Arie Frederik Lasut

Tempat/ Tanggal Lahir : Lembean Timur, Minahasa, 6 Juli 1918

Meninggal : 7 Mei 1949 (umur 30)

Gelar : Pahlawan Pembela Kemerdekaan Indonesia.

 

Penulis: Fathur Ridho

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed