oleh

Pierre Tendean, si Ganteng yang Bernyali Besar

Menjelang Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober, Bangsa Indonesia kembali mengenang sejarah kelam bangsa ketika sejumlah jenderal menjadi korban keganasan Partai Komunis Indonesia (PKI) dalam usaha kudeta.

Dari sejumlah nama jenderal, terselip satu nama pahlawan revolusi yang masih berpangkat kapten Czi (Anumerta), yang merupakan ajudan Jenderal Abdul Haris Nasution.

Dialah Pierre Andreas Tendean yang terlahir 21 Februari 1939 di Batavia. Orang tuanya adalah pasangan Dr. A.L Tendean, seorang dokter yang berdarah Minahasa dan Cornet M.E, seorang wanita Indo yang berdarah Perancis.

Namanya merupakan gabungan nama dari Pieere Albert, kakek pihak ibu dan Andreas nama kakek dari pihak ayah. Pierre adalah anak tengah dan lelaki satu-satunya dalam keluarganya yang menetap di Semarang.

Sedari kecil Pierre ingin menjadi tentara dan masuk akademi militer. Namun keinginan itu ditentang orang tuanya. Sang ibu ingin melihat Pierre menjadi dokter, sedangkan sang ayah ingin menjadikannya insinyur.




Pierre menempuh sekolah dasar di Magelang kemudian melanjutkan SMP dan SMA di Semarang, kota tempat ayahnya bekerja. Prestasinya terbilang sangat bagus. Pierre juga sangat unggul dalam bahasa karena menguasai bahasa asing seperti Inggris, Belanda dan Jerman.

Walaupun berasal dari keluarga yang mampu, Pierre kecil dikenal sosok yang rendah hati, ramah dan sederhana. Saat bersekolah, Pierre tidak pernah mau mengenakan sepatu saat pergi sekolah. Ini dilakukan untuk menyetarakan dirinya dengan teman-temannya karena merasa senasib sepenanggungan.

Nyali dan sikap bertanggungjawabnya sudah terlihat sejak SMA. Saat itu, Pierre pernah terlibat tawuran dalam sebuah kejuaraan bola voli. Pierre tak melarikan diri saat polisi datang.

Baca: Alex Kawilarang, Pendiri Kopassus yang Dibenci Soeharto

Akibatnya, Pierre dan beberapa temannya dibawa ke kantor polisi. Ketika sang ayah ingin datang menjemputnya, Pierre bisa langsung dibebaskan namun dia menolak. Pierre justru meminta sang ayah pulang dan meminta polisi memberikan hukuman kedisiplinan sebelum diperbolehkan pulang.

Selepas SMA, dengan tekad bajanya Pierre akhirnya bergabung dengan Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD) di Bandung pada tahun 1958.

Setelah lulus dari akademi militer pada tahun 1962, dengan pangkat letnan dua, Pierre menjadi Komandan Pleton Batalyon Zeni Tempur 2 Kodam II/Bukit Barisan di Medan.

Tahun 1963, Pierre mengikuti pendidikan di sekolah intelijen di Bogor. Setelah lulus, Pierre ditugaskan di Dinas Pusat Intelijen Angkatan Darat (DIPIAD) untuk menjadi mata-mata ke Malaysia sehubungan dengan konfrontasi antara Indonesia dengan Malaysia. Berulang kali Pierre berhasil menyamar dan lolos dari sergapan musuh.

Kepiawaiannya dalam tugas intelijen menjadi pembicaraan di kalangan para jenderal. Setidaknya ada tiga jenderal yang menginginkan Pierre menjadi ajudannya, yaitu Jenderal Nasution, Jenderal Hartawan dan Jenderal Kadarsan.

Pierre akhirnya menjadi ajudan Jenderal Nasution menggantikan Kapten Manullang yang gugur saat menjadi anggota Kontingen Pasukan Garuda untuk menjaga perdamaian di Kongo.

Saat mengikuti ujian ATEKAD, Pierre sempat menginap di rumah mertua Jenderal Nasution. Di situlah dia mengenal sosok Jenderal Nasution. Pierre juga dikenal sangat dekat dengan Jenderal Nasution dan istrinya.




Dalam sebuah testimoni, Jenderal Nasution dan istrinya mengaku sangat menyayangi Pierre karena sudah menganggapnya sebagai adik.

Pierre juga begitu dekat dengan Ade Irma Suryani Nasution, anak jenderal Nasution yang waktu itu masih balita. Ade Irma sering diajak jalan oleh Pierre berkeliling kota atau sekadar bermain-main di kompleks perumahan.

Berparas tampan dan bertubuh atletis, wajar saja Pierre begitu digilai para wanita. Apalagi ketika Pierre mengenakan seragam TNI. Namun, Pierre ternyata sangat setia terhadap wanita bernama Rukmini Chaimin, gadis asal Deli, yang dikenalnya saat bertugas di Medan.

Dari sebuah kisah, Pierre diketahui pemalu jika berhadapan dengan kaum hawa. Saat Jenderal Nasution memberikan kuliah umum di ITB, para mahasiswi heboh saling berebutan salaman dengan Pierre. Pierre dengan senyum malu-malu nan menghanyutkan, hanya bisa menunduk dan berjabat tangan menghormati para fans.

Baca: Arie Lasut, Ahli Geologi Rebutan Jepang dan Belanda

Pierre juga diketahui merupakan seorang ‘anak mami’. Meski sudah menjadi tentara, Pierre sangat dekat dengan sang mami. Jika ada waktu, Pierre selalu menyempatkan menelepon sang mami dan menanyakan kabar papi dan dua saudara wanitanya.

Jika pulang ke Semarang, Pierre juga sering membawakan oleh-oleh untuk keluarganya yang dia beli dari gajinya. Meski terbilang dari keluarga berkecukupan, Pierre selalu mengirimkan uang untuk keluarganya.

30 September 1965 lewat tengah malam, gerombolan pasukan Tjakrabirawa datang ke rumah Jenderal Nasution ingin membawa sang jenderal.

Pierre yang terbangun karena ada suara tembakan, dengan nyali besarnya langsung menghadang pasukan tersebut kemudian mengaku Jenderal Nasution. Dalam keadaan gelap, Pierre langsung digelandang masuk ke dalam truk pasukan, kemudian dibawa ke suatu tempat.

Sementara sang jenderal, disuruh meloncat pagar dan bersembunyi di rumah kedutaan Irak yang tak jauh dari rumahnya. Sayang dalam kontak senjata tersebut, Ade Irma juga tertembak dan meninggal lima hari kemudian di RSPAD.

Pierre dan enam jenderal lain dibunuh kemudian ditimbun dalam sebuah sumur tua yang kelak dikenal sebagai sumur lubang buaya. Pierre gugur demi membela tanah air, Republik Indonesia.

Pierre bersama keenam perwira lainnya yakni Jenderal Ahmad Yani, Letnan Jenderal Suprapto, Letnan Jenderal Haryono, Letnan Jenderal Siswondo Parman, Mayor Jenderal Pandjaitan dan Mayor Jenderal Sutoyo Siswomiharjo, kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta..

Ada juga tiga pahlawan lain yang gugur terkait aksi 1 Oktober 1965 yakni AIP Karel Satsuit Tubun, Brigadir Jenderal Katamso Darmokusumo dan Kolonel Sugiono.

Untuk menghargai jasa Pierre Andries Tendean dan sembilan putra bangsa yang gugur, pemerintah menganugerahi gelar Pahlawan Revolusi Indonesia pada tanggal 5 Oktober 1965 berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 111/KOTI/Tahun 1965 dan Keppres No. 118/KOTI/1965 tertanggal 19 Oktober 1965. Pangkat mereka juga secara anumerta dipromosikan naik satu tingkat.

Untuk mengenang keberanian dan kepahlawan Pierre Tendean, namanya diabadikan sebagai nama jalan di berbagai tempat di Indonesia seperti di Manado, Jakarta, Balikpapan dan sejumlah kota lain.

Kabar kematian Pierre langsung membuat sang ibunda down. Padahal saat Pierre meninggal, Ibunda baru saja merayakan ulang tahunnya. Pierre berencana pulang ke Semarang tanggal 1 Oktober.

Sejak itu kesehatan mami Pierre terus menurun hingga kemudian berpulang. Saat meninggal sang mami sempat berpesan untuk menutup jasadnya dengan selimut dari Pierre.




Duka mendalam juga dirasakan sang pujaan hati, Rukmini yang terakhir kali bertemu pada akhir Juli 1965. Padahal dalam pertemuan terakhir, keduanya sudah merencanakan pernikahan pada November 1965.

Pierre Tendean, si tampan blasteran Manado-Prancis gugur sebagai kusuma bangsa di saat usianya masih sangat muda dan karirnya begitu cemerlang.

Biodata:

Nama Lengkap : Kapten Czi (Anumerta) Pierre Andreas Tendean

Orang Tua: Dr. A.L Tendean dan Cornet M.E

Tempat/ Tanggal Lahir : Jakarta, 21 Februari 1939

Meninggal : Jakarta, 1 Oktober 1965 (umur 26)

Gelar : Pahlawan Revolusi

 

Penulis: Efge Tangkudung



Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 comments

News Feed