oleh

Pengucapan, Tradisi Minahasa yang Kaya Pesan Moral

Rangkaian kegiatan Manado Fiesta 2017 yang dilaksanakan sejak Sabtu (2/9/2017) lalu akan ditutup dengan pengucapan Kota Manado, Minggu (10/9/2017).

Pengucapan yang dilaksanakan di Kota Manado menjadi kali pertama dilakukan di Kota Manado, setelah dihilangkan puluhan tahun silam.

Pengucapan Kota Manado juga menjadi pengunci dari rangkaian pengucapan di kabupaten/kota di Sulawesi Utara pada tahun 2017, setelah sejak bulan Juni lalu berurutan dilaksanakan oleh Kabupaten Minahasa Utara, Kabupaten Minahasa, Kabupaten Minahasa Tenggara, Kota Tomohon dan Kabupaten Minahasa Selatan.

Baca: Tulude, Warisan Leluhur Nusa Utara yang Sarat Makna

Walikota Manado, GSV Lumentut sebagai penggagas diaktifkan kembali budaya pengucapan mengatakan, tujuan dilaksanakan pengucapan Kota Manado adalah untuk mempererat hubungan persaudaraan antar warga Manado dan warga Manado dengan warga daerah lain di Sulawesi Utara.

“Torang warga Manado jangan cuma pigi pasiar di Minahasa, tapi torang juga harus mengundang mereka untuk datang pengucapan di Manado,” kata Lumentut di berbagai kesempatan.

Pengucapan adalah ungkapan singkat untuk menyebut ‘Hari Pengucapan Syukur’ yang merupakan tradisi warga Minahasa sejak lama.

Awalnya, tradisi ini dilakukan sebagai bentuk ungkapan syukur pemerintah dan masyarakat atas keberhasilan panen. Warga desa akan membawa makanan atau hasil pertanian mereka ke gereja kemudian akan dinikmati bersama warga desa dan pengunjung dari luar desa.

Hal ini sebagai bentuk ucapan syukur kepada Tuhan yang telah memberikan pemeliharaan dan kesuburan lahan pertanian mereka (menggantikan kepercayaan masa lampau sebagai ucapan syukur kepada para dewa).

Makanan olahan yang dibawa, ditata pada satu meja panjang yang diletakkan di halaman gereja. Ini bertujuan berkat yang sudah diterima agar dapat dinikmati oleh semua orang, termasuk mereka yang datang dari jauh.

Meja tersebut mengingatkan hakikat persatuan yang ditanamkan oleh tetua adat sejak dahulu. Ini merupakan sebuah simbol yang menegaskan agar warga bisa berbagi makanan dengan orang lain di sekitar kita.

Setelah acara di gereja selesai, setiap keluarga kembali ke rumah, bersiap menjamu tamu yang datang. Para saudara, teman sahabat dari luar daerah akan diundang untuk mencicipi makanan yang disiapkan tuan rumah. Bahkan, mereka yang tak dikenal pun bisa berkunjung dan mencicipi apa yang disediakan tuan rumah.

Pengucapan ini mirip dengan Thanksgiving Day yang dilakukan hari Kamis, minggu keempat November di Amerika Serikat. Perayaan ini mulai disiapkan beberapa hari sebelumnya. Makanan khas Minahasa menjadi menu yang disediakan dalam perjamuan sosial ini.

Jenis masakan yang diidentikkan dengan perayaan ini adalah dodol dan nasi jaha/jahe (beras ketan yang dibakar di dalam bambu). Setiap orang yang pamitan juga akan diberikan bungkusan makanan, serta kue khas pengucapan yaitu dodol dan nasi jaha.

Baca: Ingin Tahu Arti Marga Minahasa Anda? Baca Ini

Pengucapan bahkan hampir disetarakan dengan hari Natal bagi warga Minahasa sebagai ‘Hari wajib’ berkumpul dengan keluarga di kampung halaman. Mirip budaya mudik di pulau Jawa. Sarana ini adalah ajang pertemuan keluarga dan teman untuk berbagi cerita yang intinya memperkuat ikatan kekerabatan. Nilai suci yang ditanamkan leluhur aerah Minahasa adalah tentang persatuan dan semangat berbagi.

Mungkin hal itu juga yang melandasi Walikota Manado, GSV Lumentut kembali mengadakan tradisi ini di Manado, mengingat kondisi sosial masyarakat Kota Manado yang kini agak bergeser, mulai kurang peduli dengan tetangga dan warga sekitar.

Dari pantauan tim manadopedia.com, sejak Sabtu (9/9/2017), warga Manado sudah disibukkan dengan persiapan pengucapan. Pasar dan supermarket ramai diserbu masyarakat untuk membeli keperluan jamuan tersebut. Terlihat juga beberapa gang/lorong di beberapa tempat sudah ditutup warga dengan mendirikan tenda-tenda.

Warga Manado terlihat sangat antusias menjadi pelaku sejarah diberlakukannya kembali tradisi pengucapan yang sudah lama dihilangkan pemerintah. Terlihat juga, sejak malam sejumlah bambu dibakar di depan jalan yang berisi nasi jaha dan ayam bulu.

“Saya sudah mengundang saudara dari luar Manado. Kini saatnya menjamu mereka di rumah kami,” kata Oma Hetty, warga Ranotana dengan antusias.

Pengucapan Kota Manado ini juga diperkirakan menelan dana yang sangat besar. Hitungan sederhana, jika di Kota Manado ada 100 ribu kepala keluarga yang merayakan pengucapan dan setiap keluarga mengeluarkan Rp1 juta untuk berbelanja, maka uang yang dikeluarkan sebesar Rp100 Miliar.

Memang nilai yang terbilang besar, namun akan dimaklumi jika esensi pengucapan itu terlaksana yakni, untuk memanjatkan puji syukur bagi Tuhan atas rezeki yang diberikan selama tahun berjalan.

Baca: Pengucapan Bitung yang Unik dengan Menu Serba Ikan

Pengucapan jangan dijadikan sarana untuk saling pamer dan menghamburkan uang. Esensi lain yang  juga penting adalah, sebagai sarana mempererat persatuan warga antar daerah dan antar agama.

Pengucapan, memang sebuah tradisi asli Minahasa yang banyak manfaat dan kaya pesan moral dari para leluhur suku Minahasa.

Penulis : Habel Sirenden/ Efge Tangkudung

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed