oleh

Bote Monginsidi, Setia Hingga Akhir Dalam Keyakinan

Suatu pagi seorang pemuda sedang membaca di dalam sel bersama seorang kawannya sesama tahanan.

Saat itu datang dua pejabat Belanda yang menawan mereka, Overste Komandan Territoriale Troepen di Makassar dan seorang Majoor Titulair ‘inlander’ dari Raad van Justitie (pengadilan).

Setelah menyapa, mereka meminta agar sang pemuda memohon grasi agar vonis hukuman mati yang sudah dijatuhkan bisa diringankan.

Seketika, sang pemuda memalingkan wajahnya kemudian membalas permintaan kedua pejabat Belanda itu.

“Minta grasi? Minta grasi berarti mengkhianati keyakinan sendiri dan teman-teman,” kata sang pemuda.

Kedua pejabat tertegun kemudian memuji keberanian pemuda tersebut.

“Dat is pas een man (Ini baru benar-benar seorang jantan),” kata mereka kemudian langsung beranjak meninggalkan sang pemuda.

Sang pemuda langsung kembali membaca, seolah tidak terjadi apa-apa dan menyiratkan keyakinan tak pernah menyesali apa yang dia katakan.

Baca: Pierre Tendean, si Ganteng yang Bernyali Besar




Pemuda itu memang sangat berani, tak gentar menghadapi kematian. Meski dirinya tinggal menunggu waktu menghadapi regu tembak pasukan Belanda. Nama pemuda itu adalah Robert Wolter Monginsidi, yang baru saja tertangkap Belanda untuk kedua kalinya.

Robert Wolter Monginsidi terlahir di Malalayang, Manado, Sulawesi Utara, 14 Februari 1925 dari Pasangan Petrus Monginsidi dan Lina Suawa. Dia berasal dari suku Bantik, sub suku Minahasa di Sulawesi Utara.

Bote, panggilan akrabnya,  sejak kecil adalah anak yang teguh pendirian, berkemauan keras dan suka membantu orangtuanya.

Bote memulai pendidikannya pada 1931 di Hollands Inlandsche School (HIS) kemudian melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Frater Don Bosco di Manado.

Bote kemudian menjadi guru bahasa Jepang pada sebuah sekolah di Tomohon. Setelah studinya, dia mengajar Bahasa Jepang di Liwutung (Minahasa), di Luwuk (Sulawesi Tengah), sebelum ke Makassar (Sulawesi Selatan).

Setelah kemerdekaan 1945, Belanda berusaha untuk mendapatkan kembali kendali atas Indonesia lewat pendaratan NICA (Netherlands Indies Civil Administration/Administrasi Sipil Hindia Belanda).

Bote yang berada di Makassar tak mau kemerdekaan yang sudah direbut, kembali jatuh di tangan penjajah.

Pada tanggal 17 Juli 1946, Bote bersama sejumlah rekannya membentuk Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS), yang kemudian melakukan perlawanan terhadap Belanda. Dalam laskar tersebut, Ranggong Daeng Romo dipilih menjadi ketua dan Robert Wolter Monginsidi sebagai Sekretaris Jenderal.

Dalam sebuah kisah, Bote bersama pasukannya menghadang sebuah mobil jip yang memuat 4 prajurit Belanda.

Bote menodongkan pistol ke sopir jip yang berpangkat kapten. Mereka mengambil alih mobil jip tersebut dan masuk ke markas Belanda kemudian menghujani tembakan dari dalam mobil.

Rangkaian aksi perlawanan yang dipimpin Bote, membuat Belanda mengenali sosoknya dan berulang kali menggelar razia besar untuk menangkapnya.

Pada 28 Februari 1947, Bote tertangkap dan dijebloskan ke dalam tahanan.  Namun, pada 17 Oktober 1947, kawan-kawan seperjuangan Bote berhasil menyelundupkan 2 granat yang disisipkan di dalam roti.

Bote dan ketiga rekannya berhasil melarikan diri melalui cerobong asap dapur setelah sebelumnya meledakkan dengan granat.

Belanda yang makin marah, kemudian menawarkan hadiah besar bagi siapa yang bisa memberikan informasi tentang keberadaan Bote dan kawan-kawannya.




Sayang, hanya sepuluh hari sejak pelariannya, pasukan Belanda kembali menangkap Bote karena tempat persembunyiannya dibocorkan.

Bote dan pasukannya sebenarnya bisa melemparkan sebuah granat yang masih disimpan. Namun mereka memikirkan risikonya karena berada di area permukiman warga.

Bote Cs memilih ditangkap ketimbang membiarkan warga sipil menjadi korban kontak senjata. Mereka kemudian ditempatkan di penjara Kiskampement Makassar yang lebih ketat. Bote kemudian dijatuhi hukuman mati oleh Belanda.

Menjelang waktu eksekusi, Bote tak pernah menunjukkan rasa takut. Meski dikhianati dan harus menemui ajal di depan regu tembak, Bote tetap tenang dan menjalani hari seolah tak terjadi apa-apa.

“Saya jalani hukuman tembak mati ini dengan tenang, tidak ada rasa takut dan gentar demi kemerdekaan bangsa Indonesia tercinta,” kata Bote dalam surat yang dikirimkan kepada keluarganya dari tahanan.

Berulang kali dia ditawarkan untuk menyerah, memohon grasi  dan bekerjasama dengan Belanda. Namun Bote tetap bergeming, tak akan menyerah demi bangsa Indonesia. Keteguhan hati dan keyakinannya begitu luar biasa.

“Sampaikan salam saya kepada papa, saudara-saudara saya di Malalayang serta teman-teman seperjuangan, saya jalani hukuman tembak mati ini dengan tenang,” kata Bote dalam surat perpisahan untuk semua keluarganya.

Baca: John Lie, Pelaut China-Manado yang Jadi Pahlawan Nasional

Senin, 5 September 1949, dini hari, sejumlah petugas menggiring Bote keluar dari dalam penjara Kiskampement Makassar.

Bote tetap menunjukkan ketenangan saat digiring menuju mobil dan dibawa keluar halaman penjara. Mobil tersebut akhirnya tiba di tanah lapang di Panaikang–Tallo.

Bote turun dengan penuh keberanian dan ketenangan. Dengan memeluk Alkitab, Bote menyalami satu persatu anggota regu tembak yang sesaat lagi akan merenggut nyawanya.

“Dengan hati dan mata terbuka, aku ingin melihat peluru penjajah menembus dadaku, merdeka, merdeka, merdeka!” ujar Bote sesaat sebelum pelatuk senapan anggota regu tembak ditarik.

Tepat pukul 05.00 WITA, terdengar letusan serentak suara senapan memecah keheningan.

Tubuh tegap Bote seketika tersungkur, gugur demi mempertahankan kehormatan bangsa Indonesia. Dalam Alkitab yang digenggam saat menghadapi eksekusi regu tembak, terselip secarik kertas bertulis ‘Setia Hingga Akhir di Dalam Keyakinan’.

Robert Wolter Monginsidi gugur di usia masih sangat muda, 24 tahun. Namun keberanian dan keteguhan hatinya akan terus dikenang. Namanya terus harum sebagai Pejuang Kemerdekaan dan Pahlawan Nasional.

Robert Wolter Mongisidi dianugerahi sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia pada 6 November, 1973. Gelar pahlawan itu diterima ayahnya, Petrus Monginsidi (80) dengan keharuan dan kebanggaan.




Bote juga mendapatkan penghargaan tertinggi Negara Indonesia, Bintang Mahaputra (Adipradana).

Nama Wolter Monginsidi juga diabadikan sebagai nama bandara di Kendari, Sulawesi Tenggara sebagai penghargaan atas perjuangannya. Ada juga nama Jalan di Makassar dan Manado yang menggunakan namanya.

Selain itu, nama Wolter Monginsidi juga dipakai sebagai nama kapal Angkatan Darat Indonesia, KRI Wolter Monginsidi dan Yonif 720/Wolter Monginsidi.

Biodata:

Nama : Robert Wolter Monginsidi

Panggilan : Bote

Orang tua: Petrus Monginsidi dan Lina Suawa

Penghargaan: Gelar Pahlawan Nasional, Bintang Mahaputra (Adipradana)

 

Penulis: Efge Tangkudung



Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed