oleh

Daftar Gubernur Sulawesi Utara dari Masa ke Masa

Sejak masa kolonial Belanda, Sulawesi (Celebes) sudah dipimpin seorang Gubernur. Dilansir dari Wikipedia, Sulawesi dipimpin seorang Gouverneur van Celebes sejak akhir tahun 1800an.

Dari catatan, Gouverneur van Celebes pertama dijabat oleh  C. A. Kroesen hingga tahun 1904. Setelah itu berturut-turut dijabat H. N. A. Swart (1904-1908), A. J. Quarles de Quarles (1908-1910), W. J. Coenen (1910-1913), Th. A. L. Heijting (1913-1915), A. J. L. Couvreur (1915-1927), L. J. J. Caron (1927-1933), J. L. M. Swaab (1933-1936), C.H. ter Laag (1936-1941).

Tahun 1942, Jepang masuk menjajah Indonesia. Namun tak ada catatan resmi pimpinan daerah di wilayah Sulawesi.

Barulah tahun 1945, Republik Indonesia resmi diproklamirkan Sukarno-Hatta. Doktor matematika (ilmu pasti) pertama di Indonesia, Sam Ratulangi dipercayakan menjabat sebagai Gubernur Sulawesi yang pertama.

Setelah Sam, berulangkali terjadi pergantian pucuk kepemimpinan tanah Celebes. Sulawesi Utara menjadi satu dari 6 Provinsi yang kini dipecah dari pulau Sulawesi.

Ini daftar selengkapnya Gubernur Sulawesi Utara sejak kemerdekaan Republik Indonesia.

1.Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi (1945-1949).

Dikenal dengan nama Sam Ratulangi, merupakan putra Tondano kelahiran 5 November 1890. Sam Ratulangi juga merupakan pahlawan nasional Indonesia.

Sam Ratulangi menjabat gubernur Celebes (Sulawesi) sejak Indonesia merdeka tahun 1945. Namun karena saat itu keadaan negara masih bergejolak, Sam Ratulangi hanya memimpin sekitar tujuh bulan sebelum ditangkap pada September 1946.

Sempat diasingkan ke Serui, Sam dibebaskan tahun 1948 namun langsung dibawa ke Jogjakarta. Sam meninggal pada tahun 1949 setelah ditangkap untuk kedua kalinya.

Atas jasa-jasa Sam Ratulangi, namanya diabadikan sebagai nama bandara, univesitas, dan jalan.

Sejak tahun 1945 Provinsi Celebes terus bergolak. Saat Indonesia menjadi Republik Indonesia Serikat (RIS), Celebes masuk dalam salah satu negara bagian, Negara Indonesia Timur (NIT).  

Baca: Sam Ratulangi, Doktor Pencetus Nama ‘Indonesia’

  1. Bernard Wilhelm Lapian (17 Agustus 1950- 1 Juli 1951).

Dikenal dengan B.W. Lapian merupakan putra Kawangkoan kelahiran  30 Juni 1892.

Pada masa revolusi kemerdekaan, B.W. Lapian merupakan pimpinan sipil saat  berperan besar pada momen heroik Peristiwa Merah Putih 14 Februari 1946 di Manado.

Saat Sam Ratulangi ditangkap dan diasingkan Lapian menjadi acting gubernur (Pelaksana tugas). Karena ketokohannya, Lapian dipercaya untuk menjabat sebagai Gubernur Sulawesi pada tahun 1950 sampai dengan 1951, yang berkedudukan di Makassar. Lapian juga dianugerahi Bintang Mahaputera Pratama (1976) dan gelar pahlawan Nasional pada 5 November 2015.

Baca: Bernard Lapian, Si Kritis Pendobrak Tirani Kolonial

  1. Raden Sudiro (1 Juli 1951 – 9 November 1953).            

Raden Sudiro menjabat Gubernur Sulawesi sekitar dua tahun. Sudiro kemudian diangkat menjadi Walikota Jakarta (setara gubernur saat ini) untuk periode 1953–1960.

  1. Andi Burhanuddin (1953)

Andi Burhanudin diangkat sebagai Pelaksana tugas gubernur Sulawesi untuk mengisi kekosongan pemerintahan yang ditinggalkan Raden Sudiro.

  1. Lanto Daeng Pasewang (1953-1956)

Lanto Daeng Pasewang kelahiran Jeneponto ini terlibat dalam berbagai gerakan perlawanan melawan penjajah untuk merebut kemerdekaan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Atas jasa-jasanya, nama Lanto Daeng Pasewang diabadikan sebagai nama jalan dan rumah sakit.

  1. Andi Pangerang Petta Rani (1956-1960).

Andi Pangerang Petta Rani kelahiran Gowa, tahun 1903 merupakan anak dari Andi Mapanyuki Pahlawan Nasional yang pernah menjabat Raja Bone.

Andi Pangerang Petta Rani yang bersama Dr Sam Ratulangi dan Andi Sulthan Daeng Radja merupakan wakil Celebes saat menghadiri Rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) di Jakarta pada 1945.

SEJAK tahun 1960, Provinsi Sulawesi dimekarkan menjadi Provinsi Sulawesi Selatan dan Provinsi Sulutteng (Sulawesi Utara Tengah).

  1. Arnold Achmad Baramuli (23 Maret 1960-15 Juli 1962).

Arnold Achmad Baramuli dilahirkan di lahir di Pinrang, Sulawesi Selatan, 20 Juli 1930.

AA Baramuli merupakan politikus, pengusaha, dan mantan jaksa asal Indonesia. Baramuli merupakan pendiri Grup Poleko.

Saat menjadi Gubernur Sulutteng, Baramuli masih berusia 29 tahun. Baramuli pernah menjadi anggota MPR dan ketua Dewan Pertimbangan Agung.

Provinsi Sulutteng kemudian dimekarkan menjadi Provinsi Sulawesi Utara dan Provinsi Sulawesi Tengah.

  1. Frits Johannes Tumbelaka (15 Juli 1962-19 Maret 1965).

Frits Johanes Tumbelaka dikenal dengan nama panggilannya Broer Tumbelaka merupakan Gubernur Sulawesi Utara dan Tengah (Sulutteng) kedua, sekaligus Gubernur Sulawesi Utara pertama.

Tumbelaka awalnya merintis karier sebagai tentara hingga menjadi perwira senior di Divisi Brawidjaja (sekarang Kodam V/Brawijaya).

Tumbelaka berperan penting dalam penyelesaian pergolakan Permesta dan penyelesaian pemberontakan Darul Islam di Sulawesi Tengah.

Tumbelaka juga pernah menjabat sebagai Ketua DPRD Sulawesi Utara yang pertama. Atas jasa-jasanya, Tumbelaka dianugerahi sekitar 12 bintang jasa dari Pemerintah RI. Namanya diabadikan menjadi nama pantai di Kota Palu, yaitu Pantai Tumbelaka.

  1. Soenandar Prijosoedarmo (19 Maret 1965- 27 April 1966).

Soenandar Prijosoedarmo dilahirkan di Sidoarjo, Jawa Timur, 17 Februari 1924.  Soenandar Prijosoedarmo memimpin Sulawesi Utara berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 57 tahun 1965 tanggal 19 Maret 1965.

Selain pernah menjadi Gubernur Sulawesi Utara, Soenandar Prijosoedarmo juga pernah dipercayakan menjadi Gubernur Jawa Timur (1978-1983).

Soenandar Prijosoedarmo kemudian diangkat sebagai anggota DPR dan menjadi Wakil Ketua DPR/MPR.

  1. Abdullah Amu. (27 April 1966- 2 Maret 1967).

Abdullah Amu lahir di Gorontalo, 2 Agustus 1912. Amu menjabat Gubernur Sulawesi Utara kurang lebih setahun.

  1. Hein Victor Worang (2 Maret 1967- 21 Juni 1978).

Hein Victor Worang  lahir di Tontalete, Sulawesi Utara, 12 Maret 1919. Saat menjabat, Worang sempat ditentang dan berusaha diusir oleh pelopor Corps Tuhanura yang  terkenal dengan Peristiwa 2 September 1968.  

Worang berhasil membawa Sulut melewati krisis pascapergolakan Permesta. Worang berhasil membangun ribuan km jalan aspal hingga meningkatkan kesejahteraan lewat perkebunan cengkih dan kopra.

Baca: Tugu di Pusat Kota, Mengenang Kehebatan Batalyon Worang

  1. Willy Ghayus Alexander Lasut (21 Juni 1978- 20 Oktober 1979).

Willy Lasut merupakan perwira TNI dan juga adik dari Pahlawan Nasional Arie Lasut. Lasut  hanya menjabat selama 16 bulan karena diberhentikan secara mendadak. Meski tak disebutkan alasannya, banyak yang menduga langkah ini diambil karena banyak keputusan Lasut bertentangan dengan pemerintah pusat. Saat menjabat Gubernur, Lasut menetapkan harga cengkih sampai Rp. 17,500 yang membuat petani cengkih lebih sejahtera.

  1. Erman Hari Rustaman (20 Oktober 1979- 3 Maret 1980).

Erman Hari Rustaman menjabat Gubernur Sulawesi Utara berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI Nomor 176/M Tahun 1979 tanggal 17 Oktober 1979 dengan tugas utama yaitu mempersiapkan pencalonan dan pemilihan Gubernur yang definitif.

  1. Letjen TNI (Purn) Gustaf Hendrik Mantik (3 Maret 1980- 3 Maret 1985).

Letjen TNI (Purn.) Gustaf Hendrik Mantik lahir di Bandung, Jawa Barat. Mantik turut aktif dalam penumpasan pemberontakan PKI di Madiun, penumpasan pemberontakan APRA di Bandung, penumpasan pemberontakan RMS di Maluku, dan berbagai operasi militer lainnya.

  1. Brigjen TNI (Purn) Cornelis John Rantung (3 Maret 1985-1 Maret 1995).

Cornelis John Rantung  yang lahir di Banda Aceh pernah menjabat sebagai Direktur Pengembangan dan Pengkajian Strategis Sesko ABRI. Rantung menjabat Gubernur Sulawesi Utara selama dua periode.

  1. Mayjen TNI (Purn) Evert Ernest Mangindaan (1 Maret 1995-31 Maret 2000).

Letnan Jenderal TNI (Purn) E.E. Mangindaan yang lahir di Surakarta, Jawa Tengah pernah menjabat sebagai Pangdam VIII/Trikora.

Mangindaan pernah menjadi Menteri Perhubungan Indonesia pada Kabinet Indonesia Bersatu II. Mangindaan juga pernah menjabat sebagai Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia.

Mangindaan terpilih menjadi anggota DPR sejak 2004 hingga sekarang. Kini Mangindaan menjabat Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat untuk periode 2014-2019.

  1. Adolf Jouke Sondakh (1 April 2000- 18 Maret 2005).

Sondakh dikenal sebagai politisi ulung. Sondakh adalah seorang dosen tetapi juga aktif di bidang politik. Sondakh pernah menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat selama tiga periode. Pada 1993 ia menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi II DPR.

Dalam kepemimpinan AJ Sondakh, Gorontalo resmi dimekarkan menjadi Provinsi Gorontalo tepatnya 5 Desember 2000. 

  1. Lucky Harry Korah (18 Maret 2005- 13 Agustus 2005).

Lucky Harry Korah adalah pejabat Gubernur Sulawesi Utara yang dilantik oleh Menteri Dalam Negeri pada tanggal 17 Maret 2005.

Korah sangat berjasa dalam mempersiapkan Sulut menghadapi pelaksanaan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur (Pilgub) Sulawesi Utara secara langsung oleh rakyat untuk pertama kalinya.

  1. Sinyo Harry Sarundajang (13 Agustus 2005- 14 September 2015)

Sarundajang lahir di Kawangkoan, Minahasa, Sulawesi Utara, 16 Januari 1945. Sarundajang merupakan gubernur pertama yang dipilih langsung oleh rakyat.

Dia menjabat Gubernur Sulut selama dua periode. Selain itu, Sarundajang juga pernah menjabat Walikota Bitung, Pejabat Gubernur Maluku, Pejabat Gubernur Maluku Utara, Pelaksana tugas Walikota Manado.

  1. Robby Mamuaja (13 Agustus 2010- 14 September 2010)

Mamuaja diangkat menjadi Plt Gubernur untuk mempersiapkan Pilkada 2014. Mamuaja sebelumnya menjabat Sekretaris Provinsi Sulawesi Utara. Dia juga pernah menjabat sebagai Pelaksana tugas Walikota Manado.

  1. Soni Sumarsono (20 September 2015- 12 Februari 2016).

Sumarsono menjadi Pelaksana tugas Gubernur Sulawesi Utara untuk mempersiapkan Pilkada 2015. Usai menjadi Plt Gubernur Sulut, Sumarsono menjadi Pelaksana tugas Gubernur DKI Jakarta. Sumarsono merupakan pejabat Eselon I Kementerian Dalam Negeri.

  1. Olly Dondokambey (12 Februari 2016- sekarang).

Olly Dondokambey lahir di Manado, Sulawesi Utara, 18 November 1961. Dondokambey menjadi anggota DPR RI sejak tahun 2004. Dia kembali terpilih untuk ketiga kalinya periode 2014-2019. Dari 560 anggota DPR, Olly menempati peringkat 7 wakil rakyat yang mendapat suara terbanyak. ia meraup 237.620 suara. Dondokambey memegang posisi strategis di partai terbesar PDIP , sebagai Bendahara Umum DPP PDIP.

Penulis: Efge Tangkudung

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed