oleh

Dosen Fakultas Teknik Unsrat Jadi Korban Pembunuhan

Peristiwa berdarah kembali terjadi di Sulawesi Utara. Akibat emosi yang tak tertahankan, nyawa seseorang akhirnya harus melayang.

George Moningka (55), dosen fakultas Teknik Sipil Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Warga Ranomuut, Kecamatan Paal Dua, ditemukan sudah tak bernyawa, Jumat (7/7), malam sekitar pukul 22.00 Wita.

Korban diduga menjadi korban pembunuhan karena saat ditemukan tubuh korban berlumuran darah.

Jenazah korban ditemukan tertelungkup menyamping ke kanan dan berada di ruang keluarga. Darah terlihat berceceran bahkan menggenang di beberapa ruangan.

Kanit Reskrim Polsek Tikala, Ipda Yudi Hartanto kepada wartawan mengatakan jenazah yang ditemukan adalah korban pembunuhan.

Menurutnya, hal ini dipastikan setelah menangkap pelaku pembunuhan AA alias Arter (26) di Desa Amplang Kecamatan Lolak Kabupaten Bolaang Mongondow, Sabtu (8/7/2017) pagi.

Pelaku yang merupakan sopir korban mengaku dendam ketika dimarahi korban pagi sebelum kejadian. Menurut pelaku, korban sering memarahinya meski dirinya baru beberapa bulan bekerja bersama korban.

Saat terjadi pertengkaran, korban sempat mengambil pisau dapur untuk mengancam pelaku. Keduanya kemudian terlibat perkelahian di dalam rumah korban.

Pelaku yang berhasil merampas pisau dari tangan korban, kemudian balik menusuk korban sebanyak lima kali dengan pisau tersebut ke arah tubuh korban.

Mengetahui korban tewas, pelaku ketakutan dan langsung melarikan diri. Pelaku bahkan membawa uang dan mobil korban dari dalam rumah menuju Karombasan.

Jumat (7/7/2017), pelaku menuju Kampung Amplang Desa Lolak Bolmong dengan menggunakan taksi gelap di rumah pamannya.

Tim gabungan Kepolisian Resmob Tikala dan Tim Macan Polresta Manado langsung bergerak cepat mengendus pelarian tersangka.

Tak sampai sehari, tersangka berhasil ditangkap meski sudah berada ratusan kilometer dari lokasi kejadian.

Korban selain berprofesi sebagai dosen juga memiliki usaha jual beli kopra. Pembawaannya cukup ramah di kalangan dosen dan mahasiswa.

Di lingkungan rumahnya, korban jarang terlihat karena aktivitas padat yang dilakoninya sehari-hari.

Sesuai pasal 338 KUHP pelaku terancam hukuman paling lama 15 tahun penjara.

“Barangsiapa sengaja merampas nyawa orang lain, diancam, karena pembunuhan, dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun”

Namun jika nanti terbukti pelaku melakukan perencanaan untuk menghilangkan nyawa korban, sesuai pasal 340 KUHP pelaku akan dihukum lebih berat bahkan hingga hukuman mati.

“Barang siapa sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain diancam, karena pembunuhan dengan rencana (moord), dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun.”

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed